Pindahan tempat tinggal dari asrama milik universitas ke rumah sewa perorangan ternyata ada cerita suka dukanya juga. Di asrama tadinya sewa kamar sudah ada tempat tidur, lemari, meja belajar dan dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Selain itu di lingkungan asrama juga disediakan dispenser air minum, fasilitas internet, tivi berbayar, mesin cucui berbayar, fasilitas olahraga dan keamanan 24 jam. Setelah universitas menerima lebih banyak lagi mahasiswa undergraduate internasional, maka mahasiswa pasca sarjana dikorbankan untuk pindah keluar dari asrama. Saya termasuk korban ‘penghalauan’ ini. Akhirnya di hari-hari terakhir menjelang deadline, dapat rumah sewa juga yang dikontrak dengan bayar per bulan, disewa berkelompok dengan tiga kawan seperantauan.

Dapat rumah sewa yang tadinya berupa home stay ternyata agak menguntungkan juga walaupun sewanya jadi terhitung relatif mahal. Di rumah baru ini fasilitas cukup lengkap termasuk tempat tidur lengkap dengan bantal dan asesori selimut dan selimutnya, dapur dan peralatannya, mesin cuci, kulkas dan televisi (walaupun tidak berbayar, jadi cuma dapat siaran televisi standar saja). Yang kurang hanyalah perabot lemari dan meja belajar. Meja belajar dapat diatasi dengan menggunakan meja rias kecil yang tersedia, walaupun Cuma dapat menampung laptop dan mouse saja. Lemari ini yang menjadi masalah karena harus disediakan sendiri.

Akhirnya dengan diantar pemilik rumah sekalian acara jalan-jalan, kami menyeberang ke Thailand karena harga barang-barang disana relatif lebih murah. Disana diputuskan untuk membeli lemari plastik. Lumayan juga jalan-jalan menyeberang ke negeri Siam sana, walaupun masih di kota di perbatasan saja.

Sampai rumah barulah muncul masalah baru karena ternyata pemasangan lemari plastiknya cukup memusingkan juga. Dari kotak kemasan yang relatif kecil itu muncul 1 lembar plastik terlipat untuk bagian luas lemari, terus ada pipa-pipa besi ringan yang harus disusun membentuk rangka, ada mur, baut dan ring untuk penyambungan rangka, ada papan untuk alas dan rak-raknya. Ternyata papan yang digunakan berasal dari papan PCB elektronik yang mungkin berupa produk cacat yang tidak jadi digunakan. Wah bahaya ini, mau mencari murah malah dapat limbah, sepertinya sih merupakan papan PCB yang belum digunakan. Dengan menyimak petunjuk instalasi dengan serius walaupun tidak bakalan paham karena menggunakan huruf Jawi Kuna eh.. bukan ding… huruf Thailand, maka yang dilihat tentu saja skema pemasangannya saja yang lebih universal untuk dapat dipahami.

Jadinya acara memasang lemari ini mirip mainan game puzzle. Aktivitas yang mestinya mudah menjadi rumit karena ternyata semua didesain dengan ukuran yang pas sehingga harus hati-hati terutama pemasangan plastiknya karena mudah sobek. Mulai dari menyusun rangka, memasang plastik, menguatkan kunci sambungan rangka-rangkanya. Dasar memang tidak profesional, akhirnya yang dikhawatirkan memang terjadi, plastik jadi sobek di beberapa tempat, karena terkena ujung ring yang tajam. Untungnya setelah lewat 30 menit, lemari dapat berdiri terpasang juga. Walaupun tentu saja harus dilengkapi dengan tambalan selotip di beberapa bagian.

Kalau mengalami kasus seperti ini, jadi teringat di rumah sendiri juga pernah mengalami peristiwa yang sama. Pernah beli lemari baju dari kayu (papan partikel) yang model knock down. Saat beli ditawari mau dipasangkan dan diantar atau mau dipasang dan dibawa sendiri. Mengingat ada selisih harga dan sok merasa jago tukang, maka diambil opsi pasang sendiri saja. Sampai rumah ternyata untuk pasang tetap saja perlu berpikir untuk menentukan bagian-bagian mana yang dipasang terlebih dahulu dengan menggunakan petunjuk yang tersedia. Apalagi biasanya jumlah sekrup yang tersedia itu selalu dipaskan dengan keperluan, jadi kebiasaan ceroboh yang seringkali menjatuhkan sekrup harus diatasi dengan selalu mencari kembali sekerup yang terlepas tadi. Dan biasanya mesti kejadian seperti ini berlangsung banyak kali, tidak hanya sekali. Akhirnya tentu saja diperlukan waktu lama untuk menyelesaikannya dengan meninggalkan sisa pemasangan yang sangat kacau dan berantakan.

lemari pak Jek   lemari pak Jek

Memang benar-benar seperti bermain puzzle untuk proses pemasangannya. Tapi kalau sudah jadi dan berdiri tegak, tentu saja akan merasa lebih puas, walaupun kadang kalau diperhatikan secara lebih teliti, terlihat tidak sempurna, bahkan untuk kasus lemari plastik tadi terlihat banyak tambalan di beberapa tempat.

lemari pak Jek

Jadi kalau ada disuruh memilih, mau beli perabot jadi atau perabot yang harus dirakit sendiri ? Keputusan ada di tangan anda…. (Masak sih di tangan saya).

Lebih kebangetan lagi itu kalau anda yang beli dan dan saya yang disuruh pasang.

 

Iqmal Tahir

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s