Bagi yang sering melakukan perjalanan ke beberapa tempat, ternyata sering ada kepercayaan atau mitos untuk melakukan hal kecil tertentu yang sering dianjurkan beberapa orang guna menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Hal ini umumnya dilakukan pada saat mengemudi pada suatu daerah yang dianggap angker dan diketahui sering ada peristiwa atau kecelakaan yang terjadi di daerah tersebut. Dengan melihat seringnya kecelakaan yang terjadi, maka kemudian berkembang anggapan daerah tersebut wingit dan perlu diberi perhatian. Bagi masyarakat sekitar atau pengelola jalan raya di daerah tersebut, tentunya kecelakaan dapat dihindari jika medan jalan dibuat secara nyaman, faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan dapat dihilangkan atau cara lain. Namun bagi pengguna jalan yang melewati jalan itu hanya saat mengemudi di sana, maka upaya dari dia sendiri saja yang dapat dilakukan. Beberapa cara yang sering dianjurkan adalah mengucapkan salam maupun doa bagi sang penunggu jalan, membunyikan klakson mobil seperlunya atau membuang sesuatu ke tepi jalan. Dengan langkah ini diharapkan “sang penunggu jalan” akan dihormati dan tidak akan mengganggu pengguna jalan yang pada akhirnya tidak akan terjadi sesuatu saat melintas di jalan tersebut.

hutan karet

Salah satu ruas jalan yang dikenal rawan adalah jalur Banyumas – Buntu dengan panjang lintasan sekitar 11 km dan sering juga dikenal sebagai rute Krumput karena melewati hutan karet di wilayah Krumput. Jalur ini merupakan salah satu bagian rute yang harus ditempuh untuk perjalanan Purwokerto ke arah Yogyakarta lewat Kebumen. Ruas jalan ini berupa jalan menembus bukit sehingga separuh jalan harus ditempuh secara mendaki dan sisanya berupa jalan menurun. Pada perbukitan ini terdapat hutan karet yang dikelola oleh PTPN IX Banyumas dengan lahan yang berisikan pohon-pohon karet produktif dengan tinggi sekitar 7-10 meter dan cukup rimbun. Sementara daerah di sekitarnya banyak lahan kebun masyarakat yang umumnya juga ditanami tanaman keras seperti sengon, mahoni atau pohon buah-buahan lain. Tekstur bukit menyebabkan jalan menjadi berkelak-kelok dan banyak tikungan yang harus diwaspadai oleh pengguna jalan. Jalan di wilayah ini dibangun satu paket untuk rute dari Buntu-Banyumas-Banjarnegara-Wonosobo-Temanggung-Pringsurat dengan tujuan sebagai peningkatan jalur Jawa Tengah lintas tengah. Di tengah bukit Krumput sendiri terdapat prasasti peresmian jalur Buntu-Pringsurat ini yang dapat dilihat pengguna saat melintas di sana.

Meskipun jalan yang dibangun oleh Bina Marga ini cukup baik, namun kondisi tanah yang tidak cukup stabil sering menyebabkan jalan menjadi bergelombang. Mengingat daerah ini juga memiliki curah hujan yang cukup besar sementara saluran di tepi jalan kurang bagus, maka hal ini berdampak pada penggerusan tanah di bahu jalan yang tampak dari selisih tinggi bahu jalan dengan ruas jalan yang beraspal. Kondisi ini cukup rawan apalagi jika diingat lebar jalan yang relatif sempit. Ruas jalan dengan lebar sekitar 8 meter untuk 2 jalur ini terlihat sempit untuk status jalan dengan jumlah pengguna yang cukup banyak. Banyak pengguna jalan seperti masyarakat lokal maupun pengguna dari wilayah lain. Para pengguna jalan ini banyak dijumpai menggunakan kendaraan bermotor seperti sepeda motor, mobil, bus dan truk. Dengan medan berkelak-kelok dan terdapat beberapa tikungan yang cukup tajam, maka jalan harus diwaspadai. Seperti juga untuk daerah jalan di luar kota, maka fasilitas penerangan jalan di ruas ini juga relatif minim sehingga jalan terlihat cukup gelap di malam hari. Apabila terdapat iring-iringan kendaraan saat mendaki tanjakan, maka biasanya yang terjadi adalah upaya menyalip kendaraan yang di depannya. Langkah inilah yang sering menyebabkan terjadinya kecelakaan karena tidak banyak bagian ruas jalan yang memungkinkan menyalip kendaraan dengan leluasa karena pandangan ke depan yang terhalang atau karena banyaknya tikungan yang ada. Demikian juga setelah mencapai separoh perjalanan yakni saat jalan mulai menurun, maka pengemudi biasanya terpacu untuk menaikkan kecepatan kendaraannya. Kondisi alam yang memang tidak mendukung dan situasi pengemudi yang tidak disiplin inilah yang sering menyebabkan terjadinya kecelakaan di ruas jalan Krumput ini. Mengingat seringnya terjadi kecelakaan disini yang terkadang juga memakan korban luka dan meninggal, menyebabkan daerah ini dikenal sebagai jalur maut.

Untuk menghindari terjadinya kejadian yang tidak diinginkan oleh pengguna jalan di ruas jalan Krumput ini, maka terdapat kepercayaan pengemudi untuk membuang koin sekedarnya sebagai upeti ‘sang penunggu jalan’. Mitos ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, bahkan seingat saya, sekitar tahun tujuh puluhan sudah berlangsung. Jika perlu sambil lewat sambil mengucap “ kulanuwun” atau “nderek langkung”. Koin yang dibuang tentu saja karena sekedarnya biasanya berupa uang pecahan kecil. Sering juga yang dilempar tidak uang koin tapi uang kertas.

Ibarat pepatah ‘ada gula ada semut’ (atau ‘ada sukrosa ada semut’, baca di link ini), karena seringnya dijumpai uang di tepi jalan, maka ada orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Beberapa orang memanfaatkan peluang untuk mencari koin di pagi hari. Orang-orang ini yang merupakan penduduk yang tinggal di sekitar hutan Krumput ini berjalan di tepi jalan untuk mencari dan memunguti uang koin yang dibuang pengemudi saat melintas di malam harinya. Pada perkembangannya beberapa orang menunggu langsung kendaraan-kendaran yang melintas dan berharap pada para pengemudi untuk membuang koin. Dengan menunggu langsung maka uang tersebut dapat langsung dipungut mereka tanpa takut didahului oleh yang lain. Kalau memunguti saat pagi hari maka mungkin banyak orang yang berlomba-lomba untuk memunguti. Selanjutnya dapat ditebak terdapat cukup banyak orang yang menunggui langsung di tepi jalan dengan jalan duduk di bahu jalan. Orang-orang yang melakukan hal ini bisa berlangsung selama 24 jam, berganti-ganti. Kalau malam hari mengingat tidak ada fasilitas penerangan jalan, maka mereka menggunakan obor dari minyak tanah. Obor ini bermanfaat untuk menunjukkan keberadaan mereka serta juga membantu sebagai penerangan untuk mencari koin yang dijatuhkan di tepi jalan. Kebiasaan ini ternyata juga menular ke banyak orang mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, mulai dari laki-laki sampai perempuan. Bahkan sering juga dijumpai ibu-ibu yang menunggu sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Para pelaku ini kebanyakan berasal dari daerah sekitar Krumput seperti Karangsalam, Karangrau, dan Pageralang.

Kebiasaan seperti ini justru menyebabkan situasi rawan baru berupa kecelakaan yang sangat mungkin menimbulkan korban luka atau meninggal selain dari pengguna jalan juga dari orang-orang yang menunggu koin itu. Jika diingat secara biasa, kondisi jalan sendiri sudah rawan untuk menimbulkan kecelakaan, apalagi jika ditambah dengan situasi terdapat beberapa orang yang duduk-duduk di bahu jalan yang sempit ini. Kondisi ini dapat terjadi di sepanjang jalan di hutan karet Krumput ini sekitar satu kilometer. Saat terdengar bunyi uang jatuh atau terlihat pengemudi yang akan membuang uang, maka orang-orang ini akan bersiap dan bahkan cenderung akan berebut. Sering juga uang jatuh tidak di tepi jalan, tapi masih di tengah jalan maka pemungut harus masuk ke jalan tersebut. Untuk itu tentu saja mereka harus berhati-hati, namun jika hal ini harus berebut, maka kehati-hatian ini cenderung terabaikan.

Untuk mengatasi terjadinya kecelakaan maka diupayakan larangan orang-orang untuk melakukan aktivitas pencarian koin di sepanjang ruas jalan Krumput ini. Namun larangan ini tidak efektif untuk itu sekarang strateginya diganti yakni anjuran bagi pengguna jalan untuk tidak membuang koin. Saat ini sudah dipasang beberapa rambu larangan membuang koin di beberapa titik lokasi ruas jalan Krumput ini.

Anjuran membuang koin sebenarnya kalau dilihat secara positif adalah seperti anjuran untuk meningkatkan kewaspadaan bagi pengemudi saat melintas di ruas jalan yang dikenal angker ini. Saat membuang berarti dia diingatkan untuk berhati-hati karena sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang sudah pernah terjadi. Dengan demikian akan muncul perasaan waspada dan sugesti untuk mengemudi dengan hati-hati.

Kalau sudah tidak boleh membuang koin, apabila diinginkan menghindari celaka di daerah ini maka yang diperlukan adalah kewaspadaan dan kehati-hatian dari pengemudi. Hal ini terutama jika untuk pengemudi yang belum mengenal medan jalan di daerah krumput ini. Pada saat mengemudi siang hari, tentunya dapat menggunakan klakson pada saat membelok atau saat malam hari dapat dengan menggunakan lampu penerangan yang memadai. Jika tidak diperlukan, tentu saja tidak harus menyalip kendaraan di depannya. Sebelum mengemudi selalu dinajurkan berdoa agar selalu diberi kelancaran dan terhindar dari kecelakaan.

Jika mengemudi jauh dan sudah merasa menganthuk atau letih tentu saja lebih baik untuk mengambil kesempatan beristirahat. Di daerah Krumput ini, terdapat masjid di tepi jalan yang dapat digunakan untuk beristirahat, seperti masjid di hutan karet milik PTP atau beberapa mesjid di sekitar daerah itu. Selain itu dapat dipilih juga beberapa warung kecil yang menjual buah kelapa muda. Pada musim buah durian, juga banyak penjual yang membuka kios sederhana untuk menjual buah durian lokal. Buah durian ini dihasilkan dari beberapa daerah di sekitar Krumput yang memang cukup dikenal sebagai penghasil durian seperti Sumpyuh dan Banyumas. Kalau ingin beristirahat di daerah yang lebih ramai sedikit, dapat dipilih di daerah Buntu atau Banyumas.

Intermezzo :

  • Pengalaman yang dibuang bukan koin tapi ring logam yang saat dijatuhkan berbunyi kling sehingga akan dikira uang logam. Saat itu akan ada orang-orang di dekat situ yang beranjak untuk mencari ‘uang’ yang dikira dijatuhkan pengemudi yang lewat. Hanya saat ini harga ring sudah lebih mahal dari pecahan koin rupiah terkecil.
  • Lebih parah lagi, kalau dari kejauhan terlihat ada pengguna jalan yang sudah bersiap membuka kaca jendelanya. Tentu saja para penunggu jalan akan berharap pengemudi untuk membuang uang, tetapi ternyata hanya untuk mencari hawa segar dari perbukitan Krumput itu. Atau bahkan membuka jendela untuk mengeluarkan kamera untuk mengambil foto suasana hutan Krumput itu. Yang jelas asal jangan membuka jendela tetapi kemudian melemparkan sampah seenaknya.
  • Sebenarnya kalau memang mau membuang uang sekaligus dapat bonus pahala, maka lebih baik uang yang direncanakan untuk dibuang dikumpulkan terlebih dahulu. Di utara puncak bukit hutan Krumput (jarak sekitar 200 meter) terdapat tempat peristirahatan di simpang ke arah dalam hutan dan ada fasilitas masjid. Sambil istirahat atau melaksanakan sholat, maka uang yang terkumpul tadi dapat dimasukkan ke kotak infaq di masjid itu.
  • Kalau dilihat judul di atas, anjurannya adalah dilarang buang koin, bagaimana kalau mau membuang uang kertas pecahan lima puluh ribuan atau seratus ribuan ? Jawabannya tentu saja boleh, hanya syaratnya kontak saya dulu, nanti saya akan standby di lokasi untuk jadi penunggu jalan Krumput sambilan…..

Baca tulisan lain di blog kami. Klik link ini :
Iqmal Tahir

About these ads

7 responses »

  1. erry mengatakan:

    asal jangan buang anak kucing di situ…

  2. Trimakasih pak Iqmal infonya,… info bapak sangat membantu dalam karya Ilmiah sy…..

    • Iqmal mengatakan:

      sama-sama semoga dapat dikembangkan menjadi pemikiran yang lebih baik, khususnya dapat memecahkan situasi sosial di sana… sekarang krumput jadi gundul ya ?

  3. Didit Setyo PAmuji mengatakan:

    Terima kasih artikelnya, banyak memberi informasi…
    Saya beberapa waktu kemarin jg lewat jalan Krumput dan melihat banyak ibu-ibu yg menggendong anaknya di tepi jalan, nampaknya kegiatan memungut koin ini sudah menjadi budaya bagi mereka. Kemungkinan karena mereka tidak mempunyai penghasilan yang tetap atau cukup sehingga mereka terpaksa memungut koin di tepi jalan. Solusi yang mungkin bisa ditawarkan yaitu dengan menggali potensi alam yang ada di Krumput, misalnya memanfaatkan biji karet yg bisa diperoleh secara cuma-cuma untuk diolah menjadi kerajinan maupun makanan. Untuk memberdayakan masyarakat tersebut tentu perlu kerjasama beberapa pihak terkait agar solusi tadi bisa teratasi dan masyarakat sekitar tidak lagi menjadi penunggu koin di jalan..
    Salam….

  4. bambang mengatakan:

    saya warga somagede,banyumas,berpuluh-puluh tahun lewat jalanan itu,,alhamdulillah selamat

    • Iqmal mengatakan:

      syukur lah…selamatnya juga bukan karena selalu buang koin kan ? hehe…
      yang penting selalu berhati-hati di jalan dan baca doa sebelum keberangkatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s