Bagi anak kecil dan mungkin jika masih tergolong balita, maka akan banyak hal berlangsung secara spontan di luar kontrol anak tersebut, karena memang belum memiliki nalar dan pemahaman logika yang cukup. Balita secara normal hidup dalam fase pertumbuhan badan dan sedikit peningkatan kecerdasan. Anak balita harus tumbuh dan hidup dalam pengawasan orang tua atau orang dewasa lainnya. Pada saat ini, aktivitas yang dilakukan mungkin berupa tidur, bangun, makan bubur, minum susu, bermain-main, tentu saja semua dengan segala keterbatasannya. Artinya ada balita yang hanya bisa tidur berbaring saja, ada yang sudah bisa bergerak menelungkup, ada yang bisa merangkak atau ada yang sudah bisa berjalan.

Dalam beraktivitas seperti ini, kebutuhan naluriah balita akan selalu dia inginkan. Jika dia merasa haus atau lapar, tentu saja akan mencari ibunya untuk menyusui atau mencari botol minumnya. Selain itu juga kalau merasa ingin buang air, baik buang air kecil maupun buang air besar, baltia akan langsung melakukannya secara spontan. Dia tidak peduli soal waktu, lokasi dan situasi yang saat itu dihadapi. Tentu saja hal ini sesuatu yang normal dan patut diterima bagi orang tua balita tersebut. Kalau balita sudah buang air, maka orang tua atau pengawas balita tersebut harus cepat membersihkan baju atau celana yang dikenakan, kain alas berbaring atau lantai , sehingga balita dapat bersih dan merasa nyaman kembali. Bagi orang tua, tindakan membersihkan dengan cepat dapat menjamin lingkungan yang bersih, nyaman dan sehat, serta tidak bau.

Proses buang air oleh balita dan aktivitas mengganti celana atau kain ini dalam sehari bisa terjadi berulang kali. Hal ini memaksa para orang tua untuk memiliki bahan dalam jumlah yang mencukupi. Segera setelah kotor makan kain dan celana yang kotor ini hendaknya dicuci dan dikeringkan kembali sehingga dapat digunakan seterusnya. Kendala yang mungkin terjadi adalah jika berlangsung saat musim hujan. Kondisi udara yang dingin memungkinkan proses buang air oleh balita menjadi lebih sering terjadi, sementara proses pengeringan baju dan kain yang telah dicuci akan menjadi lebih lama.

Pampers untuk bayi.

Pampers untuk bayi.

Untuk mengatasi hal ini maka banyak orang tua memilih untuk membeli pampers bagi balitanya. Pampers ini dapat berupa lembaran kain dengan bahan spons yang berada di dalamnya. Bahan spons ini mampu menyerap air dan tidak tembus keluar. Pampers dibuat dengan tujuan pemakaian sekali pakai dan setlah itu harus dibuang (disposable). Dengan penggunaan pampers ini maka balita tetap dapat melakukan hajat hidupnya untuk buang air dengan leluasa, sementara kebersihan celana dan kain tetap terjaga kering. Tentu saja karena alasan kapasitas penyerapan spons pada satu pampers yang terbatas, serta alasan kesehatan, penggunaan pampers harus sering diikuti dengan pergantian setiap beberapa waktu tertentu. Jangan sampai pampers yang sudah terkena kotoran tetap dipakai sampai jangka waktu lama, karena akan menyebabkan banyak bakteri dan jamur datang, serta mungkin mengakibatkan terjadinya iritasi pada kulit balita.

Mengingat alasan kepraktisan penggunaan pampers ini maka banyak orang tua sekarang ini memilih untuk menggunakan produk ini. Dari sini jelas kegiatan mencuci celan dan kain balita menjadi berkurang. Kegiatan membersihkan alas tidur dan lantai juga lebih mudah daripada saat balita tidak menggunakan pampers. Hal yang kemudian menjadi tidak disadari adalah penggunaan pampers ini bisa menjadi kebiasaan rutin dan dianggap harus digunakan balita sepanjang waktu selama 24 jam. Kebiasaan ini bila ditinjau dari kesehatan sebenarnya tidak baik, karena gerak balita biasanya menjadi kurang nyaman, serta sirkulasi kontak udara untuk bagian tubuh yang tertutup pampers menjadi kurang. Apalagi jika orang tua lalai untuk menjaga bagian tubuh balita tetap kering dan tidak lembab. Efek yang paling mungkin adalah terjadinya iritasi pada kulit di daerah pinggang atau paha bayi.

Di masyarakat, isu penggunaan pampers banyak menjadi bahan pertanyaan karena banyak dugaan negatif yang memang sangat mungkin. Dari beberapa forum diskusi online dan Yahoo Answer ada ulasan yang terkait hal ini.Contoh isu yang ada adalah :

  • anak laki2 kalo terlalu sering pake pampers/nappy/diaper akan berpengaruh pada sistem reproduksinya kelak, soalnya testisnya kan panas jadi produksi spermanya (Komentar : bayi apa sudah bisa menghasilkan sperma ya ???)
  • Bisa bikin anak jalannya ngengkang (Komentar : ini mungkin kalau pakai pampersnya ekstra size, tetapi sebenarnya lebih sering kalau digendong dengan kaki terbuka, CMIIW)
  • Bisa bikin kaki anak berbentuk O (Komentar : ini relatif mirip yang atas)

Penggunaan pampers untuk balita ini hendaknya menjadi perhatian para orang tua, khususnya untuk memilih waktu-waktu tertentu saja. Jadi pampers bukan untuk digunakan terus menerus selama 24 jam. Mungkin perlu dipilih waktu saat pagi hari dimana balita sehabis mandi untuk diajak beraktivitas pagi, saat ada tamu berkunjung, saat balita diajak keluar untuk bepergian. Di luar masa-masa itu, balita lebih baik untuk menggunakan popok atau celana kain biasa.

Dengan menerapkan kebiasaan ini, selain pertimbangan kesehatan, sebenarnya ada alasan lain yang mungkin dapat menjadi pertimbangan. Penggunaan pampers terus menerus akan menyebabkan pengeluaran semakin banyak. Jika dikurangi maka uang pengeluaran dapat dialihkan untuk pembelian susu atau makanan bayi saja.

Penggunaan pampers bisa jadi kebiasaan sampai balita

Penggunaan pampers bisa jadi kebiasaan sampai balita

Manfaat lain pengurangan penggunaan pampers adalah dari sisi lingkungan. Seperti diketahui, bahwa bahan spons pada pampers terbuat dari polimer yang relatif tidak mudah terdegradasari. Padahal setiap pampers selesai digunakan, akan langsung dibuang begitu saja. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan. Kalau langkah penggunaan pampers dapat diatur seperlunya saja dengan diselingi penggunaan celana maka akan dapat mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

Kalau sudah seperti ini mungkin secara tidak disadari akan memberikan pemahaman lingkungan yang baik bagi para orang tua. Setelah itu bagi balita tersebut mungkin dapat terus ditumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga setelah besar nanti juga memiliki kepedulian yang tinggi juga. Catatan khusus adalah sampai saat ini tidak hasil kajian yang menunjukkan perbedaan fisik dan prestasi balita hanya karena faktor penggunaan pampers.

Tertarik baca tulisan lain ? klik saja link berikut untuk menuju blog kami :

Iqmal Tahir

About these ads

7 responses »

  1. Astuti mengatakan:

    iya Pak, setuju sekali, apalagi setelah kerja di instansi lingkungan, kita tau isi pospak/popok sekali pakai yang (ternyata) didominasi pulp atau bubur kayu.. makanya saya memilih untuk meminimalisir penggunaan pospak.. namun untuk malam hari memang masih diperlukan, supaya bayi juga nyaman tidur (tidak sedikit2 diganti popoknya karena basah buang air kecil) sehingga saya memutuskan untuk menggunakan popok kain tebal yg bisa dicuci dan dipakai ulang atau cloth diapers.. memang harga satuannya agak mencengangkan, apalagi yg impor, namun berbagai pertimbangan utama seperti kesehatan dan juga sedikit memberi kontribusi untuk mengurangi sampah yang berasal dari pospak tersebut. let’s go green ^^

    • Iqmal mengatakan:

      Sippplah… langsung diterapkan buat juniornya dong…besok besar bisa jadi tokoh lingkungan tuh, lha bapak-ibunya orang-orang peduli lingkungan sih…

  2. Andi M mengatakan:

    Sangat bermanfaat pak. Terima kasih atas tulisannya.
    Salam kenal

  3. Inta mengatakan:

    trims infonya…sngat brmanfaat skali..

  4. Ayolah Indonesia cetak anak” sehat dan cerdas sejak dini . bagi calon” bunda dan atau yang telah menjadi bunda sekrang . untuk penggunaan pampers pada baby nya di minimalisir dong kalau bisa dihindari . kasian baby nya bundaa . jangan mls”an lah buat nyuci popok atau celana baby demi kesehatan si baby .

    jujur gue ajh nggak terlalu betah pake softex kalo lagi haid . apalagi baby nya . pasti kalo bisa teriak dia bakal teriak nggak mau pake pampers ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s