Baru-baru ini barak beredar kabar terindikasinya penyakit Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS)  pada sejumlah aparat TNI yang bertugas di daerah terpencil dan pada situasi yang memaksa mereka berpisah dari keluarga. Berita terbaru ini dilansir pada aparat yang bertugas di daerah Papua serta yang bertugas sebagai pasukan internasional di Kamboja. Hal ini diduga karena faktor penularan virus HIV ini melalui kontak dengan penderita HIV/AIDS sebelumnya melalui hubungan seks yang tidak terjaga. Untuk tingkat dunia, dari laporan WHO diketahui saat ini terdapat sejumlah lebih dari 33 juta orang di dunia yang hidup dengan mengidap HIV dan setiap tahunnya jumlah penderita bertambah satu juta orang setiap tahunnya.

Dari sisi medis, hubungan seks yang melibatkan penderita HIV/AIDS sebenarnya tidak selalu akan langsung menularkan ke lawan mainnya walaupun tentu saja risiko juga akan besar. Pada kondisi dimana penyakit HIV/AIDS sudah menyebar, bisa saja sudah terjadi status positif mengidap pada seseorang tanpa yang bersangkutan mengetahui kondisinya. Jika yang bersangkutan melakukan hubungan seks tanpa pencegahan yang berarti, maka penularan akan sangat mungkin dapat terjadi.

Penularan dapat dicegah secara preventif apabila hubungan seks dilakukan dengan terjaga. Salah satu langkah pencegahan ini adalah selalu dengan menggunakan kondom saat berhubungan seks.
Mungkin kita akan bertanya tentang bagaimana kondom itu dapat mencegah penularan HIV. Untuk itu kita perlu mengenal secara teknis dan bahan-bahan apa yang digunakan untuk membuat kondom itu.

Contoh ilustrasi bentuk kondom di pasaran

Contoh ilustrasi bentuk kondom di pasaran

Kondom adalah alat kontrasepsi yang didesain sedemikian rupa sehingga dapat menampung sperma saat ejakulasi oleh pria dan mencegah supaya tidak terjadi kontak dengan sel telur di dalam kemaluan pasangannya. Kondom umumnya terbuat dari lateks, walaupun di pasaran juga tersedia kondom yang terbuat dari poliuretan atau kulit kambing.

Dari sisi teknis, lateks banyak digunakan untuk bahan kondom karena merupakan material yang cukup elastis untuk digunakan dan dipasangkan pada alat kelamin pria. Lateks memilik kekuatan tensil lebih dari 30 Mpa dan dapat diulur sampai 800% sebelum robek. Pengujian kebocoran lateks pada kondom dapat dilakukan secara elektrik dan jika lolos uji tidak bocor ini akan digulung dan dipak untuk didistribusikan pada konsumen. Kondom jenis lain adalah kondom yang terbuat poliuretan. Kondom jenis ini dapat memiliki ketebalan antara 0,04-0,07 mm. Bahan ini juga banyak digunakan untuk kondom yang digunakan wanita. Keunggulan kondom poliuretan adalah karena lebih dapat menghantarkan panas yang lebih baik daripada lateks. Poliuretan relatif tidak sensitif terhadap perubahan temperatur dan sinar UV, sehingga memiliki daya simpan lebih lama. Kondom poliuretan dapat digunakan bercampur dengan pelumas berbasis minyak, tidak berbau dan memiliki efek alergenik lebih rendah daripada lateks.

Dalam penggunaannya, kondom juga memiliki komposisi bahan kimia lain meliputi spermicidal, talk dan pelumas, terkadang untuk meningkatkan kualitas proses hubungan juga ditambahkan pewarna, pengharum dan bahan pemberi rasa. Spermicidal yang berfungsi untuk membuat sperma tidak aktif berupa senyawa nonoxynol-9, sehingga dapat mencegah proses pembuahan. Dalam perkembangannya bahan spermisida ini masih menimbulkan pro kontra karena terdapat efek iritasi bagi pihak wanita dan ada efek lainnya. Bahan lainnya adalah serbuk kering yang terbuat dari tepung jagung dan berfungsi untuk mencegah bahan sobek pada saat akan digulung sebelum dikemas. Untuk meningkatkan elastisitas pada kondom lateks, produsen juga menggunakan bahan nitrosamina.

Dari uraian tersebut sebenarnya kita akan tahu bahwa kondom itu berfungsi tidak untuk mematikan HIV. Kondom hanya berfungsi mencegah terjadinya kontak penyebaran virus secara langsung melalui penghalangan oleh dinding kondom itu. Namun dengan adanya penghalangan terjadinya kontak cairan kelamin dari pelaku laki-laki dan perempuan inilah maka penularan virus ini juga dapat dicegah. Oleh karena itu penggunaan kondom saat berhubungan seks juga tetap dianjurkan dalam rangka mencegah penularan penyakit berbahaya ini.

Untuk mencegah penyebaran HIV yang lain, saat ini tersedia kondom jenis baru yang disebut sebagai kondom kimia. Sebenarnya bahan ini bukan berbentuk seperti kondom konvensional melainkan suatu bahan berbentuk gel. Gel ini dapat digunakan oleh pihak wanita sebelum berhubungan. Gel ini berupa bahan tidak berwarna dan tidak berbau yang mengandung bahan aktif Tenofovir, suatu senyawa obat yang telah disetujui FDA untuk diterapkan pada pasien yang positif mengidap HIV. Para pengidap ini diwajibkan untuk menggunakan gel ini setiap hari atau sebelum berhubungan seks.

Dengan menggunakan gel ini maka hubungan seks dapat aman dilakukan tanpa ada risiko penularan HIV. Demikian juga pencegahan penularan penyakit kelamin seperti sipilis ternyata juga dapat dilakukan dengan penggunaan gel ini. Namun gel seperti ini tidak menjamin terjadinya proses pembuahan telur oleh sperma sehingga terjadi kehamilan.

Dari uraian itu kita tahu bahwa dari sisi medis penularan HIV dapat dicegah dengan melakukan hubungan seks aman yakni dengan penggunaan kondom atau gel khusus. Sebenarnya terdapat cara yang lebih aman dan ampuh lagi adalah dengan tidak melakukan hubungan seks bebas atau hubungan seks dengan pasangan tidak tetap. Hubungan seks hanya dengan pasangan tetap, terlebih berada dalam ikatan perkawinan suami isteri, mungkin jauh lebih efektif dalam rangka menghindari terkena penyakit HIV/AIDS ini.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s