Dalam menghadapi dan mengatasi para demonstran di Indonesia, unit yang bertanggungjawab adalah pihak kepolisian. Untuk kasus-kasus tertentu mereka dibantu oleh satpol PP. Sebenarnya demonstran mestinya tidak perlu dihadapi secara khusus jika mereka melakukan hal itu dengan benar dan damai. Akan tetapi dalam kenyataannya sering kali terjadi tindakan anarkis akibat penyusupan pihak tertentu dengan muatan politik yang dipaksakan sehingga kemudian aksi demonstrasi menyimpang dari tujuan awalnya. Kalau sudah seperti ini tentu saja faktor keamanan dan kenyamanan publik akan terganggu dan tentu saja sudah menjadi tugas pihak kepolisian untuk mengatasi hal ini.

Demonstrasi banyak dilakukan oleh sekelompok masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Jika selama ini aspirasi disalurkan melalui jalur yang umum sudah tidak didengar lagi maka memang demonstrasi ini dapat menjadi satu cara terakhir yang perlu dilakukan.  Hanya saja memang kemudian cara ini yang sering berujung pada masalah keamanan dan ketertiban umum.

Kelompok masyarakat yang sering melakukan demonstrasi ini umumnya adalah kelompok yang memiliki persamaan persepsi dan pemikiran. Misal dari kelompok kajian, LSM, kelompok mahasiswa dan lain-lain. Bahkan dari sini muncul tokoh-tokoh yang menjadi aktivis.

Cara mereka menyalurkan suara juga bermacam-macam. Langkah yang umum adalah berkumpul dan menyampaikan aspirasi mereka melalui dialog, berteriak-teriak, membawa poster, dan lain-lain. Kalau cara yang sudah tergolong anarkis antara lain memblokade jalan, membajak transportasi umum, membakar ban dan lain-lain. Pihak keamanan selama ini sudah memiliki prosedur untuk mengatasi demonstrasi yang berlaku seperti itu.

Aktivis FEMEN sebelum menjalankan aksi telanjang dada.

Sekarang muncul trend baru untuk melakukan demonstrasi dengan tidak bersifat anarkis. Dengan cara lama, ternyata suara dan aspirasi mereka tidak terdengar, maka ada aktivis yang melakukan terobosan dengan cara baru. Trend ini dimunculkan oleh aktivis wanita dari Ukraina yang tergabung dalam LSM FEMEN. Dalam menjalankan aksi demonstasinya, mereka yang terdiri dari para wanita ini turun ke jalan dengan bertelanjang dada. Tentu saja hal ini akan memancing respon dari masyarakat dan juga menimbulkan pemberitaan dari media. Pihak keamanan juga tetap berkewajiban untuk mengatasi aksi demonstrasi seperti ini.

Sekilas tentang LSM FEMEN. Organisasi ini berdiri di Ukraina sejak tahun 1998 dengan motto yang hebat. Mottonya adalah untuk membangun jiwa kepemimpinan, intelektual dan kualitas moral dari para wanita muda di Ukraina dan membangun image Ukraina sebagai negara dengan kesempatan besar bagi para wanitanya.

FEMEN didirikan oleh Anna Hutsol seorang wanita berumur 27 tahun. Saat ini sudah memiliki pengikut sekitar 15 ribu orang. FEMEN pada awalnya banyak melakukan demonstrasi yang terkait dengan masalah lingkungan dan kesejahteraan rakyat, seperti akses air bersih, keamanan wanita di transportasi umum, kebebasan berbicara dan masalah eksploitasi wanita. Hanya saja semua demonstrasi dilakukan oleh para pengikutnya dengan jalan bertelanjang dada dan mengenakan ikat kepala tradisional dari bunga.

Anna Hutsol (berambut pirang), sang pendiri FEMEN.

Logo FEMEN tampak dari body painting di tubuh aktivisnya.

Kliping dokumentasi aksi FEMEN di markas mereka yang dapat dilihat oleh para pengunjung

Logo LSM ini berupa dua lingkaran yang satu berwarna kuning dan satunya lagi berwarna biru dengan garis vertikal hitam di tengahnya. Kedua lingkaran ini melambangkan payudara wanita. Jika tidak sedang berdemontrasi mereka mengenakan kaos dengan lambang tersebut, tetapi jika berdemonstrasi mereka akan menanggalkan kaos yang dikenakannya tadi.

LSM ini hidup dari donasi yang mereka peroleh karena saat ini cukup banyak penyokongnya. Bahkan sekarang juga bergerak menuju sebagai suatu partai politik di Ukraina itu.

Sudah banyak aksi yang dilakukan FEMEN ini. Mereka tidak hanya menyuarakan aspirasi terkait dalam negeri tetapi juga masalah internasional. Aksi terbaru adalah tentang memprotes kunjungan perdana menteri Rusia Vladimir Putin ke Ukraina. Mereka juga melakukan aksi mendukung Sakineh Mohammadi Ashtiani seorang wanita Iran yang dituduh membunuh suaminya dengan tidak adil.

Aksi aktivis FEMEN saat berdemonstrasi menentang Perdana Menteri Rusia

Aksi aktivis FEMEN saat mendukung keadilan bagi perempuan warga Iran

Cara demonstrasi seperti yang dilakukan FEMEN ini sebenarnya juga telah banyak terjadi di Indonesia, hanya pelakunya secara perseorangan. Seperti beberapa waktu yang lalu dimana beberapa ibu rumah tangga korban penggusuran melakukan aksi buka baju untuk menahan petugas melakukan pembongkaran rumah mereka. Kalau yang sudah terjadi mungkin aksi serupa dengan meniru para aktivis FEMEN, hanya pelakunya dari jenis kelamin yang berbeda. Pihak keamanan mestinya harus punya kesiapan dan tahu akan prosedur untuk mengatasi demonstrasi yang terjadi dengan mengusung gaya telanjang dada seperti ini.

Ini sudah niru-niru aktivis FEMEN kayaknya, cuma salah jenis kelamin.

Yang ini juga, masih malu-malu...

Sepertinya tidak benar-benar telanjang, kecuali tulisannya...

Kalau pembaca berpendapat kira-kira di Indonesia diperlukan atau tidak untuk mengundang para aktivis FEMEN ini untuk beraksi ? Atau malah perlu didirikan cabang FEMEN di Indonesia ? Mungkin dengan cara ini para tokoh di atas sana yang selama ini kupingnya tebal akan lebih peduli…

Iqmal Tahir

About these ads

»

  1. Mohammad Rais Hamsir mengatakan:

    Aktifis goblok.. jelas jangan sampai ada di Indonesia!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s