Kasus eksploitasi pohon-pohon perindang atau peneduh yang berada di tepi jalan untuk kepentingan iklan komersial kembali terjadi. Kalau dulu yang saya tulis di sini adalah penebangan pohon untuk memperluas pandangan orang sehingga dapat melihat jelas baliho iklan yang terpasang, maka sekarang berupa modus yang berbeda. Memang orang periklanan itu sangat kreatif, namun kalau kreativitas mereka kebablasan dan tidak pandang etik atau soal kelestarian lingkungan hidup makasudah seharusnyalah mereka kena sanksi.

Kasus yang ini terjadi di daerah jalan utama Purwokerto-Purbalingga. Jalan raya yang relatif ramai itu menjadi penghubung antara Purwokerto-Sokaraja. Pada tepian jalan ditumbuhi banyak pohon palem besar yang mengingatkan kita akan kekhasan kota Los Angeles, hanya di sini jelas tidak ada pantai dan orang-orang yang berjemur di bawah sinar matahari. Begitu kita melewati jalan ini setelah lepas dari bundaran patung Jenderal Gatot Soebroto, maka terlihat jalan lurus yang dinaungi pohon palem di sebelah kanan-kirinya. Memang cantiklah.

Namun kecantikan itu sekarang berubah menjadi semu sejak batang-batang pohon palem itu bergincu merah. Ternyata keberadaan pohon palem itu telah dieksploitasi demi iklan satu provider layanan telekomunikasi yang identik dengan warna merah. Jadi pepohonan palem yang berada di sisi utara Jalan Soepardjo Rustam itu telah dicat warna merah di tengah pohonnya. Bahkan belasan di antaranya sudah dibranding dengan salah satu produk iklan Telkomsel. Seperti dikutip dari harian Suara Merdeka akhir Januari lalu ternyata kepentingan promosi iklan sebegitu ganasnya sehingga pohon perindang jalan pun dieksploitasi habis-habisan.

Deretan palem di ruas jalan desa Blater, Purbalingga.

Deretan palem di ruas jalan desa Blater, Purbalingga.


Hal yang sama ternyata juga menimpa pada pepohonan palem yang berada di jalan arah masuk ke kota Purbalingga. Pohon-pohon palem di jalan tepatnya daerah Blater Kalimanah itu pun ikut menjadi korban media promosi iklan dengan diberi cat merah pada batangnya.

Pewarnaan yang menggunakan bahan cat aerosol ini memang diberitakan saat itu belum selesai dan masih dalam tahap pengerjaan. Batang pohon palem yang relatif memiliki permukaan halus pun dianggap sangat cocok untuk dicat dan dilukis dengan tulisan. Jadi satu hal yang memang tepat dipikir oleh perusahaan periklanan.

Lokasi keberadaan pohon yang sangat strategis di pinggir jalan pun ikut mendukung promosi. Para pengguna jalan tentunya akan dapat melihat dan memperhatikan pesan yang termuat dalam promosi ini. Pada akhirnya diharapkan akan dapat mendongkrak penjualan produk yang diiklankan tersebut.

Pohon palem untuk perindang jalan.

Pohon palem untuk perindang jalan.


Namun jika cara promosi ini tidak dibenarkan maka hal ini menjadi salah. Pemilihan penggunaan batang pohon untuk dicat jelas salah. Hal yang lebih parah lagi adalah proses tersebut yang berlangsung di tepian jalan propinsi ternyata saat itu belum memiliki ijin promosi dari pihak yang terkait. Izin permohonan pemasangan lokasi reklame tersebut seharusnya dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Investasi serta Dinas Bina Marga provinsi Jawa Tengah.

Terkait soal perijinan ini ternyata perusahaan periklanan itu hanya mengakali dengan langsung membayar pajak reklame saja. Jadi perusahaan periklanan ini sebenarnya langsung membayar pajak tanpa mengurus ijin. Hal ini diketahui karena pajak reklame untuk Jl Soeparjo Rustam dibayarkan ke Pemkab Banyumas melalui dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah (DPPKAD) karena lokasi promosi ada di wilayah Banyumas. Untuk yang di jalur Purbalingga maka pajaka dibayarkan ke dinas pendapatan Kabupaten Purbalingga setempat.

Perusahaan periklanan sebagai pelaksana langsung pemasangan reklame ini berasal dari daerah setempat. Dalam proses pembayaran pajak pemohon diakui sudah menunjukkan surat ijin dari provinsi, sehingga pembayaran pajak dapat terus dilakukan dan kemudian mereka langsung mengerjakan proses pengecatan. Kenyataannya sampai sekarang sebenarnya belum ada surat ijin yang dikeluarkan oleh Balai Pelaksana Teknis (BPT) Dinas Bina Marga Provinsi Wilayah Cilacap-Banyumas di Cilacap. Pihak perusahaan periklanan itu dinyatakan belum pernah mengajukan surat permohonan izin dari perusahaan bersangkutan terkait izin pemanfaatan lahan tanah di jalan provinsi baik di Purbalingga (pintu masuk dari arah Sokaraja-Kalimanah), Banyumas (Jl Soepardjo Rustam), dan Cilacap (jalur masuk kota).

Mengingat pengecatan pohon palem sudah berlangsung maka Pemkab Banyumas melalui Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) mengeluarkan surat teguran kepada perusahaan periklanan itu, selaku pemasang reklame di sepanjang Jalan Soepardjo Rustam, jalur utama Purwokerto-Sokaraja. Teguran itu diberikan karena pemohon dinilai terlanjur mem-branding puluhan pohon palem, sebelum prosedur perizinan ditempuh lebih dulu.  Dalam surat teguran tersebut pemohon diminta segera menghentikan pengerjaan pemasangan reklame yang masih berlangsung, sedangkan yang sudah terlanjur juga minta segera dihapuskan. Teguran itu dilakukan, karena pemohon dinilai telah melanggar surat pernyataan yang dibuat saat mengurus pembayaran pajak reklame ke dinas terkait.

Jadi pohon perindang di tepi jalan yang merupakan salah satu fasilitas umum memang harus dijaga. Tidak boleh ada sembarang kegiatan atau aktivitas yang terkait keberadaan pohon itu dapat dilakukan dengan semaunya sendiri atau untuk kepentingan segelintir pihak.

Terkait penggunaan batang pohon untuk media promosi, sebenarnya ada cara lain yang lebih disarankan. Eksploitasi batang pohon dengan jalan dicat akan merugikan pohon itu sendiri karena lebih bersifat permanen dan sukar untuk dihilangkan. Cara lain yang dianjurkan adalah dengan menggunakan lembar plastik atau kain yang dilingkarkan pada batang pohon itu. Lembaran tersebut yang telah dibuat dengan memuat materi promosi atau iklan itu selanjutnya dipasang pada batang pohon itu. Dengan jalan ini maka tujuan promosi tetap dapat tercapai, sementara batang pohon tetap tidak terganggu. Demikian juga apabila ijin promosi sudah habis maka lembaran ini dapat dilepas kembali dengan mudah.

Satu catatan lagi adalah mengenai karakteristik batang pohon palem yang khas. Apabila batang pohon palem dipaku, maka seiring dengan pertumbuhan pohon ternyata lubang bekas paku yang tertinggal ini akan membesar dan membuat lubang yang semakin mengangga sehingga akan membuat batang pohon menjadi cacat. Saya yakin dinas pertamanan tahu akan soal ini sehingga tidak mudah memberi ijin soal promosi di batang pohon ini.

Sosok pohon palem raja yang biasa untuk peneduh jalan.

Sosok pohon palem raja yang biasa untuk peneduh jalan.

Demikian tulisan ini saya buat semoga ke depan selalu ada perbaikan langkah-langkah demi melestarikan lingkungan sekitar kita. Kreativitas orang-orang periklanan masih banyak lagi sehingga tidak mungkin kalau dibatasi satu cara dengan menggunakan promosi menggunakan batang pohon perindang jalan akan terus terhambat, masih banyak cara lagi untuk berpromosi dengan baik.

Iqmal Tahir

About these ads

One response »

  1. Benny Christiono mengatakan:

    Salam kenal,
    Mas Iqmal, tentang pengecatan pohon, pendapat saya adalah bahwa pengecatan pohon merupakan tindakan pemborosan oleh Pemerintah. Apalagi cat untuk promosi yang Mas sebutkan sebagai kreativitas kebablasan yang mesti dikenai sanksi. Saya ada melihat, trotoar sudah dimarkai cat putih hitam. Pohon di pinggir dalamnya, pula dicati putih hitam. Tampak rapi, tapi pemborosan. Barisan tanaman asli alamiah saja sudah rapi, nggak perlu lagi dirapikan dengan cat.
    Terima kasih….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s