Sudah menjadi kebiasaan kalau masuk dapur untuk meramu bumbu-bumbu masakan, akan selalu mengupas kedua duet bawang yakni bawang putih dan bawang merah (brambang). Termasuk saya sekarang ini, masak apapun sepertinya tidak lepas dari kedua jenis bumbu masakan ini. Mulai menggoreng telur dadar, sayur, nasi goreng bahkan waktu mengolah mi instan pun tidak lepas dengan modifikasi bumbu dengan kedua jenis bawang ini.

Kedua jenis bumbu masakah ini dapat dibeli di pasar atau toko  berupa umbi yang masih terbungkus lapisan kulit kering. Kalau bawang putih maka memiliki umbi berwarna kekuningan dengan kulit berwarna putih. Untuk bawang merah memiliki umbi berwarna ungu dengan kulit berwarna kemerahan. Dari warna kulit inilah maka bawang ini dinamakan sendiri-sendiri menjadi bawang putih dan bawang merah.

Sewaktu menyiapkan dan meracik bumbu masakan, maka kita harus selalu mengupas umbi bawang ini untuk bersih dari lapisan kulit yang membungkus umbi. Ternyata setelah sering melakukan hal ini kemudian terpikir bahwa kulit bawang ini sebenarnya dapat terkumpul banyak. Biasanya memang kulit ini akan dibuang menjadi sampah dapur. Kalau sudah jadi sampah dapur tentu saja akan dibuang begitu saja atau ada yang mengolahnya menjadi kompos. Sebenarnya kulit bawang ini memiliki potensi sendiri sehingga dapat memiliki nilai tambah.

Kulit bawang jadi sampah.

Kulit bawang jadi sampah.Kulit bawang jadi sampah.

Jika kulit bawang dikeringkan maka bahan ini yang masih memiliki warna karakteristik ini dapat digunakan untuk bahan seni. Lapisan kulit bawang ini dapat digunakan untuk menyusun lukisan mosaic membentuk pola atau gambar tertentu. Dengan kreativitas tertentu maka dapat diperoleh hasil karya seni yang bagus. Lembaran-lembaran kulit bawang ini dapat ditempel menggunakan lem kertas, membentuk pola yang diinginkan. Kombinasi warna merah dan putih ini dapat disusun secara artistik sesuai keinginan pembuatnya.

Dari sisi komposisi bahan, maka limbah kulit bawang ini juga dapat dimanfaatkan secara khusus. Perlu diketahui bahwa bawang khususnya bawang putih banyak mengandung minyak atsiri yang berkhasiat sebagai antibakteri. Dari pengamatan di lapangan, ternyata ada kelompok masyarakat yang sudah memanfaatkan kulit bawang ini untuk mengolah satu produk makanan, yakni telur pindang.

Telur biasa diawetkan melalui cara pengolah menjadi telur asin atau telur pindang. Telur asin diawetkan dengan jalan dioleh melalui perendaman atau pembungkusan dalam abu yang mengandung garam dapur pekat. Telur pindang pada dasarnya diproses dengan cara yang sama untuk direndam dalam bahan pengawet juga. Bahan pengawet yang digunakan ini bukan abu yang mengandung garam, melainkan bumbu-bumbu dapur yang utamanya adalah kulit bawang baik bawang putih maupun bawang merah. Tentu saja bahan ini masih ditambah dengan bahan lain seperti garam, daun salam dan beberapa bahan lain.

Proses pembuatan telur pindang.

Proses pembuatan telur pindang.

Telur pindang siap saji.

Telur pindang siap saji.

Jadi kalau di dapur rumah anda sering banyak menghasilkan limbah kulit bawang, maka tidak ada salahnya mencoba untuk dimanfaatkan untuk membuat telur pindang. Kulit bawang dikumpulkan, kemudian jika sudah terkumpul banyak dapat digunakan sebagai ramuan bumbu untuk pengawetan telur.

Iqmal Tahir

ps. Cara pembuatan telur pindang detail dapat dilihat di sini.

About these ads

8 responses »

  1. ari mengatakan:

    untuk pindang jg bisa dipake daun jambu biji lo…

  2. Baju Bali mengatakan:

    boleh juga nie tipsnya..
    pengen coba juga rasa telur yang diawetkan dengan limbah kulit bawang

    • Iqmal mengatakan:

      rasanya ya seperti telur pindang biasa yang berwarna kecoklatan, karena memang telur pindang itu mesti pakai direndam kulit bawang kok…

  3. wenny novira mengatakan:

    gimana cara mengeringkan daun bawang?????

    • Iqmal mengatakan:

      Dikeringkan di jemur di bawah sinar matahari juga bisa…. atau alat pengering yang sekarang banyak dibuat dengan teknologi tepat guna itu….

  4. Apizd mengatakan:

    Salam. Teman minta izin guna gambar dalam entry ini. Terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s