Daerah Dieng yang masuk wilayah Banjarnegara dan Wonosobo merupakan satu dataran tinggi yang cukup menarik perhatian. Saat ini daerah tersebut merupakan daerah yang subur untuk aktivitas pertanian. Selain itu di daerah tersebut memiliki banyak titik-titik yang mampu menyedot orang untuk datang berwisata seperti kawah, telaga, bangunan peninggalan bersejarah serta pemandangan alam yang cantik. Potensi alam yang lain adalah berupa panas bumi yang kemudian dieksplorasi untuk digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Kawasan pertanian yang ada di Dieng ini umumnya adalah tanaman sayur mayur, kentang, tembakau, carica dan lain-lain. Dengan bentang alam berupa dataran tinggi ini memang memungkinkan sebagai daerah pertanian yang bagus. Namun di sisi lain, pada waktu-waktu tertentu di Dieng juga muncul ancaman pada usaha budidaya pertanian yang dilakukan penduduk. Ancaman yang kadang muncul adalah berupa letusan kawah yang memunculkan gas-gas beracun. Perlu diketahui kalau banyak kawah yang tersebar di Dieng dan beberapa di antaranya berlokasi cukup dekat dengan lahan pertanian penduduk setempat. Namun hal ini memang relatif jarang terjadi dan umumnya tidak berakibat pada tanaman yang sedang tumbuh. Selain itu masih ada ancaman lain yang sangat merugikan yakni dari fenomena alam yang disebut sebagai embun upas atau embun beku.

Embun upas adalah embun yang muncul di pagi hari dan muncul seperti embun biasa namun berbentuk es. Jadi di malam hari uap air di udara akan mengalami kondensasi dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan  atau rumput. Tidak seperti waktu-waktu biasa ataupun di daerah lain, embun di Dieng ini pada saat musim akhir kemarau akan berbentuk es. Butir-butir embun terlihat membeku di pucuk rerumputan. Padang rumput yang biasanya hijau berbuah bersepuh putih bagai salju.

Embun upas di pucuk daun.

Embun upas di pucuk daun.


salju-dieng-4-dari-budparbanjarnegara-com
salju-dieng-1-dari-budparbanjarnegara-com
Fenomena ini mungkin dapat menjadi atraksi sendiri karena di kawasan tropis, fenomena seperti ini relatif sangat jarang, kecuali mungkin di daerah pegunungan Jayawijaya, Papua. Jadi embun upas di rerumputan saat itu dapat memberikan pemandangan yang luar biasa dan hal ini dapat menjadi daya tarik sendiri sebagai atraksi wisata bagi pengunjung untuk datang ke Dieng. Pada saat itu, udara yang dingin tak menghalangi keinginan beberapa wisatawan untuk menikmati sensasi saat embun beku itu menggelitik telapak kaki mereka. Konon, berjalan dengan kaki telanjang diatas embun memang bagus untuk kesehatan, terutama untuk kesehatan jantung.

Akan tetapi embun upas ini sendiri bagi petani setempat justru malah ditakuti. Hal ini karena embun upas mengakibatkan kerugian pada lahan tanaman mereka. Embun upas yang mengenai  pucuk dedaunan tanaman sayuran akan dapat menyebabkan tanaman layu untuk kemudian mengering menjadi kecoklatan. Tanaman sayuran pendek seperti kol, kentang, atau daun bawang akan mati akibat daun-daunnya menjadi layu dan mengering setelah terkena embun upas ini. Permukaan pori-pori daun yang tertutup es ini kemudian karena terkena temperatur yang sangat rendah maka akan mengalami kerusakan. Apabila daun-daun pada tanaman rusak, maka pertumbuhan tanaman itu sendiri akan terganggu dan kemudian dapat mengalami kematian.

Untuk mengatasi pengaruh embun upas ini pada sayuran maka para petani harus melakukan pekerjaan tambahan. Tanaman yang terserang embun upas ini harus segera diselamatkan sebelum terlambat menjadi mati. Petani harus datang ke lahan mereka pada pagi-pagi buta sebelum embun upas tersebut menempel. Petani harus melakukan penyiraman dengan menggunakan air biasa ke tanaman seperti halnya menyirami tanaman pada siang hari untuk keperluan pengairan. Langkah penyiraman air ini dapat menghindari terjadinya pembekuan embun pada permukaan tanaman sayur yang mereka tanam.
embun upas-3-dari-pesonadieng-com
embun upas-2-dari-pesonadieng-com
embun upas-5-dari-pesonadieng-com
embun upas-6-dari-pesonadieng-com
Embun upas ini memang sebenarnya peristiwa alam biasa berupa pembentukan es dari uap air yang mengembun di udara ini. Akibat temperatur yang sangat rendah yang berkisar nol derajat celcius pada titik-titik tertentu maka uap air yang mengembun ini dapat berubah menjadi es. Dalam hal ukuran temperatur ini maka udara yang lebih dekat dengan permukaan tanah tentunya akan lebih dingin daripada yang berada di ketinggian. Oleh karena itu embun tebal di udara tetap berada sebagai kabut, namun yang menempel di rerumputan atau di dedaunan dapat merubah menjadi es.

Saya tadinya menduga karena soal lain. Fenomena embun es ini banyak terjadi di Dieng sementara di daerah lain tidak banyak dikenal. Faktor yang saya duga adalah karena faktor udara di dieng yang banyak mengandung elektrolit hasil dari aktivitas vulkanis yang dikeluarkan oleh kawah-kawah yang mengeluarkan material ke udara. Keberadaan elektrolit ini secara kimia dapat menurunkan titik beku air yang merupakan salah satu sifat koligatif larutan elektrolit. Dengan adanya fenomena ini maka pembekuan embun akan dapat lebih terjadi. Namun secara logika hal ini justru berkebalikan artinya proses pembentukan es harusnya akan terjadi pada temperatur yang lebih rendah lagi. Jadi alasan ini kurang dapat diterima.

Usaha penyiraman air yang biasa dilakukan para petani setempat adalah dengan tujuan mencairkan embun yang menempel di dedaunan. Dengan demikian permukaan daun terbebas dari air yang menutupi permukaannya sehingga akan terbebas dari embun upas yang dapat menutupnya.
dieng-salju-3-dari-budparbanjarnegara-com
salju-dieng-2-dari-budparbanjarnegara-com
Mungkin itu yang dapat saya ulas soal fenomena embun upas ini yang merupakan fenomena alam di Dieng yang menarik sekaligus merugikan itu.

Pembaca yang ingin berkunjung ke Dieng, jika ingin melihat fenomena alam ini dapat berkunjung sekitar bulan Juli – Agustus. Pada waktu itu sedang musim kemarau dan suhu di daerah Dieng dapat mencapai temperatur yang sangat rendah. Fenomena embun es ini dapat dinikmati pada pagi hari, jadi pembaca harus berkunjung pada pagi hari atau disarankan menginap di sana.

Website berikut dapat dikunjungi sebagai referensi, termasuk gambar yang saya cantumkan adalah bersumberkan dari kedua website tersebut : Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Pesona Wisata di Dieng.

About these ads

6 responses »

  1. malam pak,saya hilda dari akademi farmasi nasional
    saya ingin bertanya kepada anda bagaimana cara menghitung nilai SPF dengan menggunakan uji in vivo?
    dan untuk jurnal anda yang berjudul ANALISIS AKTIVITAS PERLINDUNGAN SINAR UV SECARA IN VITRO DAN
    IN VIVO DARI BEBERAPA SENYAWA ESTER SINAMAT PRODUK REAKSI
    KONDENSASI BENZALDEHIDA TERSUBSTITUSI DAN ALKIL ASETAT dapat saya temukan di perpustakaan UGM fakultas apa ya pak?
    karena rabu kemarin saya keperpustakaan kimia tidak ada
    KTI saya mengambil tema tentang EPMS jg tetapi saya masih kurang paham dengan cara perhitungannya dan kira-kira buku apa yang bisa jadi referensinya pak?
    terima kasih atas waktunya

    • Iqmal mengatakan:

      Gunakan referensi ini saja untuk yang pengujian secara in vivo : Walters, C., Keeney, A., Wigal, C.T., Johnston dan Cornelius, R., 1997, The Spectrophotometric Analysis and Modelling of Sunscreens, J. Chem. Educ, 74, 1, 99-101

  2. hilda mengatakan:

    ma’af pak saya gangGu lagi
    untuk lampu UV philips 15watt yg dgunakan apakah ada ketentuan lampu UV philips 15 watt yg seperti apa?
    seandainya memakai merk lain bgaimana?
    apakah bisa atau tidak?
    terima kasih

    • Iqmal mengatakan:

      itu lampu UV lho ya…. panajng gelombangnya dicek dari spesifikasi alatnya….

      • hilda mengatakan:

        iya pak..
        soalnya saya cari dseluruh universitas dsolo tdak ada yg pnya..
        saya dapat informasi kalau ada yg jual lampu UV philips 15watt
        untk cara pengecekannya seperti apa pak?

      • Iqmal mengatakan:

        coba tanyakan saja ke distributor alat-alat laboratorium saja…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s