Membaca koran pada masa-masa menjelang bulan puasa kemarin, pastilah banyak tertumbuk pada berita-berita tentang pemusnahan minuman keras (miras). Miras tersebut merupakan hasil rasia aparat kepolisian guna mengurangi tindak kejahatan dan tindak maksiat yang mungkin terjadi di bulan Ramadhan. Miras diperoleh dari penggerebekan beberapa warung, hotel atau tempat-tempat lain yang biasa menjual barang haram tersebut. Penggerebekan miras biasanya juga disertai dengan penyitaan barang haram lainnya seperti CD / majalah porno. Sebagai tindak lanjut hasil rasia, miras yang diperoleh dikumpulkan di tempat terbuka untuk dimusnahkan.

Pemusnahan miras dilakukan dengan melindas botol-botol berisi minuman beralkohol dengan menggunakan alat berat / stoomwals sehingga botol pecah dan isinya terbuang. Untuk CD / majalah porno dimusnahkan dengan cara dibakar di tempat terbuka. Acara ini dilakukan secara seremonial dengan dihadiri para aparat terkait dengan disaksikan oleh beberapa tokoh masyarakat dan dipublikasikan lewat surat kabar atau televisi.

miras1

Sekilas tidak ada yang salah dalam rangkaian kegiatan tersebut. Namun kalau dicoba untuk dicermati lebih jauh ternyata terdapat beberapa hal yang dapat mengusik perhatian kita. Hal ini terutama kalau ditinjau dari aspek lingkungan atau bahkan terhadap aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Seperti diketahui bahwa minuman keras memiliki efek aditif dan mengubah kesadaran si peminum karena kandungan alkohol yang terdapat dalam minuman keras. Kadar alkohol dalam miras sangat bervariasi tergantung dari jenis miras tersebut. Untuk minuman keras lokal, kisaran kadar alkohol adalah sekitar 5 %. Memang diketahui miras dari jenis vodka atau yang setara yang mengandung alkohol sekitar 20-35 %. Jenis alkohol ini secara kimia merupakan jenis ethanol (CH3CH2OH). Bahan ini diperoleh dari hasil fermentasi bahan-bahan alam yang mengandung pati atau gula, misalnya dari ubikayu, beras, tebu, buah-buahan, nira kelapa, nira aren dan lain-lain. Alkohol merupakan cairan yang mudah menguap dan mudah terbakar dengan titik didih sekitar 70 oC. Dalam kondisi temperatur ruangan di siang hari maka alkohol dapat menguap dengan mudah. Alkohol dengan kadar 70 % biasa digunakan sebagai antiseptik. Mengingat alkohol yang mudah terbakar dan memiliki kalor yang relatif tinggi, maka alkohol juga dapat digunakan sebagai bahan bakar. Bahan ini biasa dikenal sebagai spiritus, dengan bahan alkohol yang sudah dicampur dengan methylene blue, sehingga spiritus berwarna biru. Spiritus tidak dapat diminum karena kadar alkohol yang tinggi dan mengandung racun methylene blue tadi.

napza-yogya

Terkait dengan sifat kemudahan alkohol untuk terbakar tadi, maka kalau pemusnahan miras dilakukan di udara terbuka, kondisi siang hari, apalagi disertai dengan pembakaran majalah, akan dapat menyebabkan risiko kebakaran. Hal ini pernah terjadi di kabupaten Sleman sekitar 5 tahun yang lalu dan menyebabkan luka bakar pada beberapa orang di sekitar lokasi.

Pada sisi lain, alkohol bersifat mematikan bagi mikroorganisme di sistem perairan. Dengan demikian apabila pemusnahan miras dilakukan di tempat terbuka dan dibiarkan mengalir ke selokan, maka air buangan miras ini dapat mencemari lingkungan.

Pada tulisan ini diberikan usulan alternatif bahwa miras yang disita dicampur menjadi satu. Alkohol yang terdapat pada campuran ini kemudian didaur ulang untuk dijadikan spiritus sehingga dapat dijadikan bahan bakar. Saat ini lebih populer dengan istilah bioethanol. Hal ini dapat mengurangi dampak risiko kecelakaan akibat kebakaran serta mengurangi dampak pencemaran. Selain itu juga memberikan kontribusi penyediaan sumber energi alternatif.

Meskipun dari sisi teknis memungkinkan, penulis agak meragukan implementasi ini mengingat jumlah miras yang disita relatif tidak dalam jumlah besar dan juga hanya dilakukan secara insidental. Selain itu efek seremonial acara pemusnahan ini juga perlu diekspos secara luas untuk membuktikan gerak kerja aparat agar terlihat nyata. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan tetap dilakukannya pemusnahan botol-botol wadah miras dengan acara seperti biasa. Oleh karena itu, langkah ini mungkin perlu dicoba bagi pihak terkait. Masyarakat bebas dari penjualan dan konsumsi miras, sementara kondisi lingkungan tetap terjaga dan pada sisi lain diperoleh sumber energi alternatif baru.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s