Puasa kemarin terjadi kasus bentrok remaja di bilangan Jakarta yang berakibat tragis, beberapa remaja tewas dengan sia-sia akibat tenggelam di Situ Pamulang. Kasus bentrok terjadi akibat permusuhan yang sudah berlangsung cukup lama antar pemuda di dua blok di daerah tersebut. Saat kejadian, salah satu anggota kelompok yang berasal dari warga blok perumahan polisi, melemparkan petasan ke arah kelompok yang lain. Akibat emosi selanjutnya kelompok ini marah dan balik mengejar kelompok yang melempar petasan. Mengingat kalah jumlah, kelompok terakhir ini lari tunggang langgang. Saat terdesak sampai situ (danau kecil) yang berada di sekitar kompleks, sebagian nekad panik menceburkan diri. Dari sinilah kemudian kejadian sampai memakan 7 orang korban remaja tewas karena tenggelam di situ karena tidak bisa berenang.

Saya tentu saja tidak akan membahas mengapa terjadi perkelahian, bagaimana penyelesaian kasus kecelakaan tersebut, atau feomena tawur yang terjadi. Biarlah hal-hal tersebut diselesaikan oleh orang-orang bidang sosial. Saya justru menyoroti aspek lain, mengapa banyak terjadi korban meninggal karena tenggelam di Situ Pamulang tersebut ?
Dilihat dari kasus tersebut, Situ Pamulang adalah danau kecil yang berfungsi sebagai resapan air di daerah tersebut. Kedalamannya tidak mencapai puluhan meter, paling hanya berkisar 1-4 meter saja, bahkan pada kondisi kemarau menjadi lebih dangkal lagi. Dengan demikian kalau ada orang jatuh, dapat dengan mudah dapat segera menyelamatkan diri atau menepi. Tetapi memang pada kondisi kejadian, korban saat itu dalam keadaan panik dan takut sehingga suasana menjadi kacau, sehingga terjadi peristiwa tenggelamnya para korban. Korban sebenarnya tidak mungkin tewas tenggelam kalau mereka memiliki kemampuan berenang, sehingga dapat menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi.

Kolam renang Walik

Fenomena bahwa banyak remaja tidak bisa berenang ini ternyata menurut pengamatan penulis banyak terjadi di kalangan anak muda bahkan termasuk kebanyakan warga di Indonesia. Hal ini sangat mengherankan karena bangsa Indonesia sebenarnya dikenal sebagai bangsa yang hidup di negara kepulauan. Mereka tinggal dikitari oleh sungai, danau dan laut yang harusnya diakrabi oleh mereka. Salah satu kriteria menyatunya orang dan alam perairan ini mestinya dibuktikan dengan kemampuan berenang. Tapi mengapa kok ya masih banyak orang yang tidak bisa berenang ?Upaya membangkitkan keterampilan berenang tentu saja dimulai dari membiasakan anak sejak dini untuk tidak takut air dan kemudian setelah itu beranjak dengan berlatih berenang secara baik. Saat ini sering dijumpai orang tua yang takut untuk mengajarkan anak bermain di air. Apabila anak sudah tidak takut bermain di air, hal ini menjadi modal kuat bagi anak untuk dapat berenang. Bermain di air juga dapat membangkitkan suasana gembira bagi anak dan banyak kegembiraan yang bisa diperoleh dengan bermain di air. Anak dapat belajar berenang secara alamiah, belajar dari temannya atau orangtuanya. Cara yang paling efektif adalah belajar berenang melalui kursus berenang secara rutin. Keterampilan berenang ini mulai dari kemampuan mengapung, meluncur, pernafasan sewaktu berenang, macam-macam gaya berenang dan lain-lain.

Kursus berenang tidak harus diarahkan bagi peserta untuk dapat berprestasi dalam olahraga air, tetapi minimal lebih banyak untuk dapat memiliki kemampuan berenang. Jadi kalau sudah bisa berenang dan ditambah pengalaman berenang secara rutin, tentu saja anak akan senang bermain di air dan memiliki kemampuan bertahan di dalam air. Dalam hal ini dapat dikatakan berenang adalah benar-benar suatu LIFESKILL. Misal dia terjatuh di air, minimal yang bersangkutan dapat berenang ke tepi.

Dengan semakin maraknya penyedia wisata air seperti kolam renang dan waterboom, maka peluang tempat lokasi berenang semakin terjangkau dan mudah diakses. Bahkan di beberapa tempat, kolam renang mini dan sedang tersedia oleh hotel atau pengelola kolam perseorangan. Program berenang juga sudah mulai dijumpai bagi sekolah-sekolah dasar swasta dan TK. Penulis sendiri belum menjumpai program berenang bagi sekolah negeri di kota tempat tinggal penulis. Semoga ke depan semua remaja dan penduduk Indonesia secara umum dapat berenang semua. Tidak harus ahli dan berprestasi seperti Michael Phelps, tetapi minimal dapat bertahan di dalam air.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s