Mudik lebaran ini, keluarga memilih alternatif di malam hari dengan pertimbangan lalu lintas lebih sepi. Tetapi ada kondisi yang ternyata jika diperhatikan itu sangat mengganggu dan dialami penulis saat mengemudi di malam hari. Seringkali mata, khususnya bagi pengemudi atau penumpang yang duduk di depan, sangat terganggu. Sekarang banyak dijumpai pengendara kendaraan yang memodifikasi lampu dengan sorot lampu warna putih atau putih kebiruan. Sorot lampu jenis ini memiliki sorot lampu yang relatif cukup terang untuk menerangi arah depan, sehingga pengemudi kendaraan tersebut dapat melihat dengan jelas arah depan. Keadaan ini menjadi trend kendaraan dan menjadikan gengsi tersendiri. Namun demikian hal yang berlawanan adalah bagi yang terkena sorot lampu tersebut karena terasa akan sangat menyilaukan dan sangat mengganggu konsentrasi mengemudi di malam hari. Tindakan yang biasa terjadi adalah dengan terpaksa mengalah, tetapi karena tidak ikhlas biasanya ya disertai dengan keluhan atau umpatan.
Lampu depan standar mestinya adalah menghasilkan sorot lampu kekuningan terang. Hal ini sudah berlaku secara internasional dan standar bagi produsen kendaraan di mana saja. Tetapi kemudian didorong rasa egois dan kemampuan dana untuk memodifikasi maka ada yang kemudian dengan bangga dan rasa tidak bersalah, mengganti lampu kendaraan menjadi tidak standar. Dengan hasil modifikasi ini mereka dapat bangga bahwa kendaraannya berbeda dengan kendaraan kebanyakan. Padahal kalau dipikir, sorot lampu hasil modifikasi yang tidak standar ini dapat mengganggu pengemudi kendaraan tersebut. Kelemahan lampu warna putih adalah tidak bisa menembus kabut atau akan menyilaukan sendiri pada saat hujan/gerimis karena lampu berpendar dan memamntulkan cahaya yang dihasilkan.

Tindakan apa yang dapat dilakukan kalau bertemu dengan orang egois yang mengemudikan kendaraan dengan lampu tidak standar ? Cara mengatasi paling gampang, balas sorot lampu dengan menggunakan sorot lampu jauh. Langkah ini mestinya dapat sebagai isyarat untuk menyadarkan ke lawan pengemudi bahwa kita silau pada sorot lampu mereka. Cara ini sebenarnya sering digunakan kalau bertemu dengan kendaraan yang pengemudinya lupa menghidupkan lampu jauh padahal akan berpapasan dengan pengendara lain. Kalau perlu sorot lampu jauh dikedipkan berkali-kali (didim) sebagai isyarat kita itu terganggu. Karena lampu putih itu mungkin yang dihidupkan lampu dekatnya sehingga pengemudi tidak mungkin mematikan lampunya, maka akan tetap nyala terus, maka cara yang dilakukan adalah menghidupkan terus lampu jauh. Jadi akibatnya adalah sama-sama silau. Tapi dengan cara ini, berarti keduanya sama-sama jadi egois.

Hal yang sama sering juga terjadi kalau kendaraan dengan lampu putih muncul dari arah belakang. Sorot lampu yang menyilaukan ini akan mengganggu di spion. Untuk kasus ini, cara paling gampang adalah kendaraan diberi jalan untuk mendahului dan setelah itu kita dapat membalas dengan sorot lampu jauh juga. Kembali sama-sama egois dengan jalan perlakuan ini.
Ada teman yang bergurau, kalau tetap masih banyak pemilik kendaraan yang egois dengan memasang lampu tidak standar, maka tabrak saja kendaraan tersebut. Dengan alasan silau tentu saja, polisi akan menerima alasan penyebab kendaraan karena pengemudi tidak dapat melihat dengan jelas dan penyebab awalnya adalah sorot lampu kendaraan yang ditabrak. Secara logika alasan ini dapat diterima, tetapi kalau di Indonesia kayaknya harus dipikir ulang cara ini, karena kebanyakan pemilik kendaraan yang mampu memodifikasi kendaraannya relatif adalah orang yang mampu, dan mestinya nanti mampu juga nanti membayar pengacara atau minta bantuan polisi untuk menyelesaikan masalah kecelakaan yang terjadi. Kalau sudah seperti ini, tindakan yang paling minimal sebenarnya adalah berdoa agar orang-orang egois ini seminimal mungkin mengemudikan kendaraannya di jalan raya. Kalau berdoa agar orang egois ini sadar, kayaknya susah karena pada dasarnya mereka sudah egois dari awal.

Secara hukum, sebenarnya harus ada tindakan tegas. Polisi harus disiplin menegakkan hukum, mengapa sigap menindak pengendara motor tanpa helm, atau motor tanpa spion. Tetapi malah mendiskriminasikan pemilik mobil dengan sorot lampu tidak standar. Kalau polisi berniat tegas dan adil sebenarnya dapat mudah dengan jalan operasi tilang di malam hari khusus untuk mobil-mobil dengan lampu tidak standar. Aturan lalu lintas sebenarnya sudah jelas melarang penggunaan sorot lampu tidak standar. Bahkan kalau dicermati, pada kemasan bohlam lampu berwarna putih atau biru, tercantum bahwa lampu dilarang untuk digunakan di jalan raya. Jadi jelas polisi memiliki peraturan bahwa pengemudi melanggar hukum dan dapat dikenakan sanksi. Kita kan sudah sama-sama membayar pajak, mestinya dapat keadilan dengan penegakan hukum oleh polisi bagi seluruh pelanggaran.

lampu kuning 

 

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s