Vandalisme adalah kegiatan iseng dan tidak bertanggung jawab dari beberapa orang yang berperilaku cenderung negatif. Kebiasaan ini berupa coret-coret tembok, dinding atau obyek lain agar dapat dibaca secara luas, berupa tulisan nama orang, nama sekolah, nama gank atau tulisan-tulisan lain tanpa makna berarti. Pelaku aktivitas ini sebenarnya sudah termasuk kegiatan kejahatan ringan, karena sifatnya merugikan pihak tertentu dan mengganggu kenyamanan umum. Kebanyakan pelaku vandalisme adalah kalangan remaja yang sedang tumbuh dengan kematangan yang masih rendah dan masih mencari identitas diri. Perilaku negatif ini biasanya muncul karena lingkungan mereka memberi contoh bagaimana vandalisme ini tumbuh secara permisif, misal di kalangan beberapa sekolah dengan aturan yang kurang kuat, lingkungan gank yang memberikan mereka kebebasan ekspresi yang negatif dan lain sebagainya.

Saya banyak menjumpai bentuk-bentuk vandalisme di banyak tempat. Vandalisme tidak hanya dijumpai tulisan-tulisan di tempat terbuka tapi juga di ruang-ruang tertentu. di kamar mandi / toilet umum. Cobalah perhatikan sekeliling kita.

Mulai dari ruang kelas atau di ruang kuliah. Vandalisme dapat dijumpai dalam bentuk coretan-coretan di meja kelas atau kursi. Mereka menggunakan spidol, ballpoint atau bahkan tipp-ex untuk dijadikan sarana menulis. Bahkan kalau meja dari kayu, coretan dapat dibuat dengan menggunakan cukilan benda tajam. Banyak tulisan yang berisikan nama sendiri atau nama teman/pacar, nama gank, pesan-pesan tertentu tanpa makna luas, puisi-puisi singkat atau coretan lainnya. Tanpa mereka sadari bahwa hal ini akan mengganggu suasana kenyamanan untuk belajar.

Bentuk tulisan semacam itu juga banyak dijumpai di fasilitas publik seperti di toilet umum. Hal ini dapat dijumpai di toilet sekolah, toilet umum di suatu kawasan wisata atau di kolam renang. Bagi pengunjung berikutnya tentu saja tidak merasa nyaman lagi untuk menggunakan fasilitas tersebut yang terkesan menjadi kotor dan tidak bersih. Meskipun penyelenggara membersihkan berulangkali, maka pengunjung yang berikutnya akan melakukan hal yang sama kembali.
Vandalisme yang sangat tidak disukai masyarakat umum adalah berupa tulisan di tembok / dinding / pagar pinggir jalan. Coretan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan cat semprot sehingga dapat dilakukan dengan cepat secara sembunyi-sembunyi. Sasaran ini adalah tembok-tembok kosong di tepi jalan baik rumah pribadi maupun dinding pagar dari suatu kantor/gudang. Pelaku kegiatan ini yang paling banyak adalah anggota gank. Pihak yang paling dirugikan adalah pemilik tembok pagar atau dinding yang dicoret-coret tersebut.

Bentuk vandalisme yang bersifat tidak peduli lingkungan juga ada. Aktivitas ini dilakukan dengan membuat coretan / gambar dengan mencukil kulit batang pohon. Bentuk ini dapat dijumpai pada pohon perindang di tepi jalan, di kawasan wisata atau di tempat lain. Selain merusak keindahan pandangan, kegiatan ini juga berpengaruh terhadap pohon dan yang jelas tidak dapat dihapus kembali.

Saya menjumpai suatu vandalisme yang sangat saya sayangkan, yakni dengan menulis di di rambu-rambu peringatan keamanan jalan. Sebagai contoh saya lampirkan contoh vandalisme yang terjadi di Selo, Boyolali. Cermin pemandu keselamatan jalan raya yang biasa dipasang di tikungan tajam, digunakan untuk memberi isyarat bagi pengemudi tentang suasana jalan di tikungan depannya. Akan tetapi karena dicoret-coret oleh tangan jahil pelaku vandalisme, maka cermin itu menjadi tidak berfungsi. Risiko kecelakaan akan sangat besar mengingat fasilitas umum tersebut menjadi tidak berfungsi.

Coretan di cermin pengaman - Selo

Pelaku vandalisme ini sebenarnya harus ditindak secara tegas. Untuk pelaku yang terorganisir seperti gank, maka gank itu harus dibubarkan. Antisipasi aktivitas pencegahan vandalisme sebenarnya dapat dilakukan dengan sosialisasi dan memfasilitasi kegiatan yang lebih positif berupa kegiatan olahraga atau kesenian. Kemampuan vandalisme dapat dialihkan menjadi aktivitas seni yang lebih bermanfaat seperti melalui media mural, lukisan atau bahkan dilakukan secara virtual dengan menggunakan internet. Pemanfaatan TI ini dapat dilakukan dengan penuangan ekspresi dalam bentuk blog atau wadah website yang didesain secara lebih khusus.

Beberapa pengelola rumah makan atau kawasan wisata ada yang menyediakan fasilitas bagi pengunjungnya untuk penulisan nama atau untuk media ekspresi. Misalnya dalam bentuk media spanduk besar, pengunjung dapat menuliskan nama atau pesan. Tapi tentu saja langkah ini kurang dapat diterima karena sifatnya agak lebih formal

Sebenarnya ada juga contoh vandalisme yang tidak merusak. Hal ini dapat dilakukan kalau berkunjung ke kawasan wisata alam seperti di gunung atau sungai dengan menggunakan batu-batu sebagai media tulisan. Begitu tulisan selesai disusun dan difoto maka akan dimiliki kenangan selamanya. Sementara obyek lingkungan tidak rusak dan mungkin orang lain dapat mengubah sesuai kemauannya. Begitu juga kalau berkunjung ke pantai, maka aktivitas vandalisme yang tidak merusak adalah dengan membuat coretan di pasir atau dengan gundukan pasir. Vandalisme yang seperti ini tidak akan merusak lingkungan. Jika air datang, maka susunan tulisan juga akan hilang. Alam dan kebersihan tetap terjaga.

Ninna di Kaliadem

Tulisan ini dirujuk di link ini.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s