Ide mengapa saya menulis artikel ini cukup aneh. Saya ikut suatu milis yang beranggotakan teman-teman alumni sma tahun 87-an, anggotanya sudah dapat dipastikan rata-rata memasuki umur 40an. Ada suatu topik yang dilontarkan salah satu anggota dan mendapatkan komentar yang berbeda ide. Setelah diskusi berlanjut dan agak memanas (menurut saya sih biasa, lebih panas diskusi di milis lain yang sampai emosi segala), saya ikut mengomentari bahwa dalam diskusi itu ya berbeda pendapat biasa dan tidak perlu sampai muthung kalau pendapatnya tidak diterima. Ternyata yang bersangkutan malah mundur dari milis dan mengatakan tidak boleh suudzon, bahkan yang menuduh muthung itu harus bertobat segala. Baru sekali ini saya mengalami hal seperti ini. Saya tidak tahu definisi muthung yang benar, yang jelas mungkin tidak bakal ada di KBBI, karena itu bahasa Jawa. Tapi mengapa begitu sensitifnya yang bersangkutan dikatakan muthung.

Suudzon adalah prasangka negatif tanpa bukti. Dalam agama Islam, suudzon itu dosa. Kalau ada bukti yang digunakan untuk berprasangka itu namanya analisis. Analisis tentu saja bisa berdasarkan bukti yang bisa direkam, bisa dilihat dan riil adanya.

Saya jadi ingat dulu pernah melakukan analisis yang disebut SWOT analysis. SWOT = Strength, Weakness, Opportunity and Threat. Analisis ini sering dilakukan organisasi atau perusahaan untuk melakukan kajian internal guna pengembangan kebijakan berikutnya. Analisis bisa dilakukan secara internal maupun dilakukan terhadap pihak eksternal. Berdasarkan kesimpulan dari bobot masing-masing parameter yakni dengan mengetahui apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki (parameter internal), selain itu juga diketahui kemungkinan kesempatan dan ancaman yang ada (parameter eksternal), maka selanjutnya dapat disimpulkan langkah terbaik yang dapat diambil dengan memaksimalkan potensi yang ada guna meraih kesempatan. Dalam melakukan kajian analisis inilah digunakan untuk membuat daftar seluruh parameter yang ada. Daftar ini disusun tentu saja berdasarkan bukti yang ada, catatan, masukan lisan dan lain-lain, yang selanjutnya disusun untuk dikompilasi. Untuk pihak luar, pengumpulan data sering menyulitkan karena akses yang tertutup. Cara paling mudah adalah dengan pengamatan langsung dan menggunakan data sekunder. Analisis tentu saja tidak hanya sisi positif tetapi juga sisi negatif dari pihak luar.

swot-analysis-by-iqmal

Kembali kalau analisis diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya kasus tuduhan dalam diskusi di milis itu. Rasanya aneh, tiba-tiba dituduh suudzon dan harus bertobat, karena jelas kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti dan fakta yang ada. Buktinya apa? Ya isi email yang ditulis yang bersangkutan sendiri. Tadinya saya merasa bersalah dan yang jelas saya sudah minta maaf, tetapi kok rasanya malah tetap dianggap tertuduh, jadi tidak enaklah di perasaan.

Tulisan ini sepertinya agak tidak pas dipasang di blog saya ini. Tetapi hikmahnya adalah saya jadi ingat metoda-metoda yang harus digunakan dalam analisis SWOT. Siapa tahu besok-besok harus diminta jadi pengambil keputusan lagi. Dulu sudah pernah dicoba saat pengembangan strategi Perpustakaan Referensi Jurusan Kimia dan beberapa aktivitas lainnya. Bahkan pada saat pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN)  dulu  sewaktu  masih  jadi mahasiswa saja ada materi khusus tentang analisis SWOT ini. Siapa tahu juga ada manfaat analisis SWOT dalam melakukan kajian riset kimia atau untuk pengembangan grup riset / laboratorium.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s