monumen-keretaapi-by-iqmal Suatu warisan teknologi beberapa masa silam yang apabila masih dapat digunakan sekarang akan memberikan sensasi yang berbeda seperti sedang menikmati rasa nostalgia, kebanggaan, penghargaan akan sejarah, dan lain-lainnya. Hal inilah yang dijual oleh PJKA dengan obyek wisata perjalanan menggunakan kereta api uap jaman dahulu. Lokasi wisata ini ditawarkan di Museum Kereta Api Ambarawa dengan mengambil rute perjalanan stasiun Ambara Bedono, pp.
Museum KA Ambarawa ini sebenarnya menawarkan banyak hal yang menarik. Mulai dari suguhan bentuk sejarah dan kondisi stasiun KA jaman dulu, berbagai peralatan dan teknologi perkeretaapian, bentuk-bentuk peninggalan lokomotif dan gerbong kereta, dan lain-lain. Untuk memberi kesempatan pada pengunjung agar dapat merasakan bepergian menggunakan kereta api maka disediakan dua paket perjalanan. Yang pertama adalah perjalanan dengan menggunakan kereta api uap dan yang kedua adalah dengan kereta api lori yang ditarik dengan lokomotif diesel kecil. Tour kereta api terakhir ini ditujukan untuk konsumen perseorangan dengan rute stasiun Ambarawa – Tuntang, pp. Perjalanan akan menempuh rute di sepanjang tepian sawah dan Rawa Pening. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan dapat melihat berbagai pemandangan bukit dan rawa, serta aktivitas petani, pemancing dan pengambbil kompos. Untuk rute Ambarawa-Tuntang, kereta yang digunakan adalah gerbong kecil tanpa dinding dengan lokomotif modifikasi bermesin diesel.

Paket utama yang ada adalah tawaran wisata utama seperti yang telah disebutkan di atas berupa perjalanan dengan menggunakan kereta api uap. Rute perjalanan pergi sejauh sekitar 8 kilometer dengan jalur menanjak dan pulang kembali dengan jalan menurun tersebut ditempuh dengan menggunakan dua gerbong kayu yang ditarik dengan sebuah lokomotif uap. Baik gerbong maupun lokomotif merupakan sisa peninggalan jaman dulu yang masih terawat dengan baik. Rute perjalanan merupakan rute di rel datar di separo perjalanan dan separo perjalanan berikutnya berupa rute mendaki bukit dengan menggunakan sistem rel bergigi. Pada rute mendatar, lokomotif menarik gerbong dari depan seperti kereta api umumnya, tetapi pada rute menanjak, lokomotif akan mendorong gerbong dari bagian belakang. Atraksi yang dipertunjukkan tentu saja berupa teknologi tersebut, sejarah dan pemanfaatan kereta api yang digunakan, lokasi dan rute perjalanan, sistem komunikasi dan cara’langsir’ kereta, penggunaan bahan bakar, pengisian air ketel untuk pembangkit uap, teknologi rel bergigi dan lain-lain. Sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan indah berupa hamparan bukit dan sawah serta Rowo Pening dari atas bukit.

Untuk dapat menggunakan sarana kereta api uap, pengunjung harus membayar sekitar tiga juta rupiah untuk satu kali paket perjalanan. Biaya perjalanan tersebut dikenakan untuk menutup biaya operasional dan pemeliharaan kereta. Meskipun jika dilihat sepintas cukup mahal namun hal itu sebenarnya relatif hanya untuk menutup biaya operasional seperti bahan bakar kayu, pemeliharaan kereta termasuk infrastruktur stasiun dan jalan kereta, tenaga kerja (meskipun status kepegawaian sebagian besar adalah staf PJKA), dan lain-lain.

monumen-keretaapi-by-iqmal

Satu hal yang menarik saya catat adalah penggunaan lokomotif yang menggunakan tenaga uap. Sumber tenaga berupa uap dihasilkan dari perebusan air di dalam ketel. Untuk membakar ketel tersebut dibutuhkan bahan bakar dalam jumlah yang relatif banyak. Dalam hal ini digunakan kayu, yang menurut informasi dari petugasnya haruslah menggunakan jenis kayu jati. Alasannya adalah kayu jati dapat menghasilkan panas yang cukup tinggi serta mampu cepat merebus dan mendidihkan air di dalam ketel loko. Untuk satu paket perjalanan tentu saja dibutuhkan bahan bakar kayu jati dalam jumlah besar. Jadi dapat dibayangkan apabila museum KA tersebut yang memiliki 2 armada kereta api wisata ini akan memerlukan kayu jati sebagai kayu bakar dalam jumlah besar.Pemilihan kayu jati sebagai bahan bakar ini tentu saja akan mengakibatkan efek berantai lain. Pemenuhan pasokan kayu jati ini meskipun masih ada dari daerah Blora dan sekitarnya, namun produksi kayu jati saat ini sudah tidak sebanding dengan penanaman dan pertumbuhan kayu jati itu sendiri. Pohon jati termasuk tanaman yang lambat pertumbuhannya, sementara kayu jati sendiri memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jadi kayu jati yang mungkin digunakan adalah berupa kayu jati muda, kayu jati kualitas rendah, ranting atau serpihan kulit kayu. Untuk itu pemenuhan pasokan kayu sebagai bahan bakar lokomotif akan menjadi masalah perlu dipikirkan kembali sejak sekarang.

Penggunaan bahan bakar alternatif perlu dipikirkan kembali untuk dapat digunakan sebagai pembangkit uap loko. Salah satu cara adalah dengan menggunakan jenis kayu lain yang dapat ditanam dengan pertumbuhan cepat di hutan produksi dan relatif kurang memiliki nilai ekonomi tinggi. Cara lain adalah dengan menggunakan bahan bakar batubara., hal ini cukup masuk akal karena penggunaan batubara memang sudah umum untuk bahak bakar penggerak lokomotif di Eropa pada tahun-tahun lokomotif ini dibuat. Kalaupun tetap harus kayu, maka dapat juga menggunakan arang yang diperoleh dari proses karbonisasi kayu-kayu kualitas rendah atau bahkand ari biomassa seperti tempurung, sekam, ranting dan lain-lain. Tentu saja ada masalah teknis seperti kualitas panas yang dihasilkan akan lebih rendah, hal ini mungkin dapat diatasi dari sisi jumlah bahan bakar yang digunakan.

Demikian semoga tulisan ini dapat menjadi pertimbangan pengelola untuk menjalankan paket wisata kereta api nostalgia ini. Harapannya tentu saja paket ini tetap dapat dipertahankan dan lebih banyak pihak yang dapat menikmatinya. Sebagai gambaran, saat ini pengunjung lokal lebih banyak hanya mampu untuk menggunakan kereta api diesel dibandingkan dengan kereta api uap.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s