Kereta kelinci di kaliurangDi daerah pinggiran perkotaan atau di beberapa tempat wisata seringkali dijumpai kereta kelinci. Ini merupakan fasilitas berupa kereta yang berjalan mengitari jalan-jalan tanpa rel khusus di sekitar wilayah tersebut, dengan tujuan untuk memberi hiburan atau sebagai ajang rekreasi bagi penumpangnya untuk menikmati perjalanan sambil menyaksikan pemandangan yang ada. Mengapa disebut kereta kelinci ? Hal ini mungkin karena salah satu lokomotif kereta yang pernah ada, dimodifikasi dengan bentuk menyerupai kepala kelinci. Tetapi mungkin alasan yang lebih tepat adalah karena keretanya kecil, hanya menarik dua gerbong saja, dapat digunakan untuk melalui jalan-jalan kecil dan dapat berjalan secara lincah (walaupun tidak meloncat-loncat seperti kelinci tentunya).

Target pangsa konsumen penguna kereta ini adalah anak-anak, meskipun dalam kenyataannya banyak juga orang dewasa yang ikut menumpang, baik untuk menemani anak-anaknya atau pun memang khusus menaiki. Untuk dapat menjamin tidak terjadinya risiko kecelakaan atau dampak negatif menaiki kereta kelinci ini, yang tadi sudah disebutkan kebanyakan berupa anak-anak, tentu saja pengelola kereta kelinci harus benar-benar memperhatikan faktor kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Pengelola dalam hal ini melibatkan pemilik, pengemudi dan semua pihak yang terkait operasional kereta kelinci.

Kereta kelinci pada dasarnya dirakit secara individual dan bukan buatan suatu industri otomotif yang menerapkan standar tinggi dalam berproduksi. Dari desain awal saja banyak hal pada kereta kelinci ini yang tidak mempertimbangkan dan cenderung mengabaikan faktor K3.

Penggerak kereta kelinci atau mesin lokomotifnya adalah memanfaatkan bekas kendaraan bermesin diesel yang kemudian dirombak body kendaraannya. Kendaraan ini aslinya tentu saja adalah angkutan tunggal, tetapi pada kereta kelinci diubah untuk menarik gandengan. Meskipun kekuatan mesin diesel biasanya cukup besar, tetapi apabila kereta kelinci difungsikan pada medan yang tidak datar, hal ini dapat menimbulkan risiko kecelakaan. Kasus yang pernah terjadi adaalah di suatu obyek wisata lereng pegunungan, dimana kereta kelinci tidak kuat berjalan mendaki, akhirnya mundur terguling dan berakibat menimbulkan korban jiwa.

Penggunaan mesin diesel yang berasal dari kendaraan bekas menggunakan teknologi lama, akan menghasilkan masalah baru berupa asap pembakaran yang relatif cukup banyak. Asap dari pembakaran solar ini cukup pekat, berbau tajam dan berwarna kehitaman. Pada truk atau kendaraan diesel normal (yang belum dimodifikasi), desain knalpot diarahkan sepanjang as kendaraan dan dibuang ke belakang kendaraan. Hal ini tidak menjadi masalah. Akan tetapi pada kereta kelinci, desain knalpot diarahkan ke atas dan mungkin didesain agar menyerupai lokomotif kereta api yang sebenarnya. Akan tetapi efek yang dirasakan oleh penumpangnnya menjadi berbeda. Kalau pada kereta api, gerbong kereta tertutup dan kecepatan kereta juga tinggi, sehingga asap mesin tidak mengganggu penumpang. Akan tetapi pada kereta kelinci, gerbong penumpang itu terbuka, kecepatan kereta juga relatif pelan, dan posisi knalpot yang dekat, maka efek asap ini akan sangat mengganggu penumpang khususnya bagi penumpang yang duduk di gerbong depan. Asap knalpot ini akan terhirup penumpang sepanjang perjalanan. Asap hidrokarbon yang tidak terbakar sempurna ini dapat menyebabkan perasaan tidak enak, nafas sesak dan kepala pusing.

kereta kelinci dari www.jasaraharja.co.idDengan desain gerbong yang terbuka, memang akan memberikan keleluasaan bagi penumpang untuk menikmati pemandangan. Akan tetapi faktor keselamatan juga mestinya harus dijaga. Faktor yang terabaikan adalah pada gerbong kereta kelinci yang melupakan pengaman tempat duduk di pinggir berupa rantai pengait atau pintu penutup. Biasanya anak-anak, khususnya anak laki-laki akan lebih suka untuk memilih tempat duduk di bagian pinggir, maka akan rawan terjatuh. Dengan adanya rantai pengaman atau pintu maka hal ini akan dapat membantu menahan posisi duduk penumpang yang berada di pinggir, khususnya pada saat berbelok.

Beberapa hal lain yang patut diingat juga adalah selalu memastikan sambungan gerbong sebagaimana mestinya. Jika perlu sambungan tidak hanya dalam bentuk satu kaitan saja tetapi diberi cadangan berupa rantai tambahan. Selain itu perawatan mesin yang digunakan sangat penting, karena mesin kereta kelinci tersebut merupakan mesin bekas.

Demikian sedikit ulasan yang menyangkut aspek K3 pada kereta kelinci. Apabila hal-hal yang terkait K3 pada kereta kelinci ini dapat diperhatikan maka dukungan terhadap aktivitas wisata di Indonesia tetap dapat terjaga.

Intermezzo 1 :

Soal kereta kelinci ini, saya jadi ingat kejadian di lokasi wisata Candi Prambanan. Jalur keluar pengunjung setelah menikmati candi dibuat memutar dengan jarak yang relatif jauh. Sebagai alternatif, oleh pengelola disediakan fasilitas kereta kelinci. Untuk turis asing, tarif naik kereta sudah termasuk di karcis, tetapi bagi pengunjung lokal untuk dapat naik kereta harus membayar sebesar tiga ribu rupiah. Rute yang diambil adalah menuju pintu keluar tetapi dengan memutar untuk melihat lokasi Candi Sewu (dalam bahasa Indonesia berarti candi Seribu, karena konon jumlah candinya ada seribu – Legenda Bandung Bondowoso – Roro Jongrang).

Saat itu ada pengunjung lokal yang sudah terlanjur naik dan di tengah jalan kaget karena ditarik bayaran oleh petugas. Karena pengunjung mengiranya gratis sehingga agak protes dan menawar harga tarif kereta kelinci ini. Oleh petugasnya dijawab, ”Lho ini kan cuma tiga ribu rupiah saja, coba dihitung dapat candi banyak banget. Satu candi jadi berapa coba?”

Intermezzo 2 :

kereta kelinci dari www.info-lantas.com


Fungsi kereta kelinci yang lain adalah untuk sarana kampanye. Sekali angkut dapat banyak pendukung, boleh anak-anak, remaja atau orang dewasa. Tapi sayang, hal ini termasuk melanggar aturan ? Pak Polisi, itu melanggar aturan lalu lintas atau aturan kampanye ?

Ilustrasi Foto :

 Kereta kelinci di kaliurang

Firman (nama ngetop : P-man) berpose di kereta kelinci di Kaliurang. 

 

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s