berkuda di BromoPerjalanan mendaki puncak gunung merupakan suatu acara yang menyenangkan khususnya bagi kaum muda dan remaja. Meskipun untuk menempuhnya diperlukan kekuatan fisik dan stamina yang kuat untuk menempuh beberapa jam perjalanan kaki. Bagi orang dengan kemampuan fisik yang kurang kuat atau memang bagi yang tidak begitu menyukai aktivitas perjalanan, dapat menempuh tujuan alternatif yakni lokasi gunung-gunung tertentu dengan fasilitas akses yang telah dipermudah. Sebagai contoh di Jawa Barat ada gunung Tangkubanperahu dan di Jawa Timur ada gunung Bromo. Di lokasi tersebut, pengunjung tidak perlu harus berjalan jauh atau mendaki di jalan setapak yang ditata seadanya. Pengunjung dapat dengan mudah mencapai puncak gunung untuk menikmati pemandangan yang ada termasuk menikmati suasana saat matahari terbit dari ketinggian puncak gunung.
Jika berkunjung ke Bromo, wisata yang umumnya dapat diikuti adalah naik ke dua buah puncak gunung, yakni gunung Penanjakan dan gunung Bromo itu sendiri. Untuk menuju gunung Penanjakan, dapat ditempuh dnegan menggunakan jeep double gardan atau mobil offroad karena medan jalan yang cukup terjal. Di atas puncak gunung tersedia panggung untuk menikmati matahari terbit di ufuk timur. Jika hari cerah maka pengunjung akan dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Dari sana dapat dilihat juga gunung Bromo dan gunung Bathok yang berada di dekatnya atau juga melihat gunung-gunung lain di kejauhan seperti gunung Semeru, gunung Arjuna dan lain-lain. Setelah matahari terbit, selanjutnya pengunjung berpindah ke Segorowedi. Di sini merupakan kaldera purba yang telah mati berupa hamparan pasir menyerupai kawah yang sangt lebar. Di tengah-tengahnya muncul anak gunung baru yakni gunung Bathok (tidak aktif) dan gunung Bromo (yang masih aktif). Di Segorowedijuga terdapat pura Hindu yang sering digunakan oleh umat Hindu Tengger untuk upacara Kasodo.
Perjalanan mendaki gunung Bromo di Segorowedi ini harusnya dinikmati dengan tenang, menghirup udara segar atau suasana teduh lainnya. Tetapi ternyata saat ini, hal tersebut relatif sudah tidak dapat diperoleh pengunjung lagi. Apa pasal ?
Berkuda di Bromo

Sesampai di tempat parkir kendaraan bermotor dan begitu turun, pengunjung akan didatangi (”diserbu” mungkin lebih tepat istilahnya) oleh para pemilik kuda, lengkap dengan kudanya tentu saja. Mereka menawarkan pengunjung untuk menyewa dan menunggang kuda sampai di tangga pelataran dengan jarak sekitar 1,5 km. Untuk diketahui kendaraan bermesin hanya boleh sampai batas area sebelum pura. Pengunjung yang baru pertama kali singgah akan bingung untuk menentukan pilihan. Pengemudi jeep yang diharapkan juga sebagai pemandu wisata/guide tidak mengarahkan soal ini. Untuk kalangan yang tidak suka berjalan kaki, acara berkuda ini memang menjadi pilihan yang baik, termasuk juga untuk anak-anak. Tetapi untuk pengunjung yang bermaksud akan berjalan kaki menuju gunung Bromo akan terganggu. Hal ini karena tawaran untuk menyewa kuda akan datang silih berganti di sepanjang jalan. Harga yang ditawarkan kalau mulai dari parkiran adalah Rp 30.000,00 dan nanti akan menurun penawarannya sesuai sisa perjalanan yakni Rp 20.000,00 atau bahkan sampai Rp 10.000,00 kalau sudah dekat. Bagi pengunjung untuk mengobrol, mengambil foto atau pun sekedar berjalan santai akan sangat mengganggu. Mereka menawarkan jasa sewa kuda dengan begitu agresifnya. Hal ini juga akan terulang pada saat pengunjung berjalan pulang menuju tempat parkiran kendaraan. Permasalahan ini tentu saja akan mengurangi kenyamanan pengunjung di dalam menikmati obyek wisata gunung Bromo ini. Untuk perbaikan ke depan, mestinya harus ada penataan dan kebijakan yang diatur untuk ditaati bersama.
Jumlah kuda yang disewakan saat ini mungkin sudah terlalu banyak, sementara pengunjung dengan jumlah banyak hanya terbatas pada hari-hari tertnetu saja, seperti hari minggu/libur atau saat musim liburan sekolah. Pembatasan jumlah kuda yang beroperasi tentu saja mungkin akan memberikan dampak bagi para pemilik kuda karena mereka setiap hari perlu mengeluarkan uang untuk pemeliharaan dan makan kuda. Kalau untuk kendaraan bermotor, pembatasan jumlah dapat dilakukan dengan kriteria no ganjil / genap, pembatasan usia kendaraan atau yang lain-lainnya. Kalau untuk kuda, tentu saja akan susah. Tidak mungkin pembatasan dilakukan berdasarakan umur kuda (kan tidak ada akta kelahiran kuda) atau mungkin berdasarkan jenis kelamin kuda (menyinggung masalah gender) atau warna kulit kuda (kalau yang ini bisa dituduh SARA). Tetapi tentu saja hal ini terlalu mengada-ada. Cara lain yang paling mungkin adalah dengan jalan pengaturan kuda melalui sistem loket. Untuk diketahui cara ini sudah dilakukan di sana yakni melalui semacam koperasi untuk pengaturan sewa jeep. Mengapa cara ini tidak dilakukan terhadap penyewaan kuda ? Saya yakin dengan penerapan sistem ini akan membantu kelancaran dan pendistribusian pemilik kuda dengan lebih adil.
Loket utama penyewaan kuda disediakan misal di dekat tempat parkir. Selain itu dapat disediakan juga di beberapa titik di sepanjang perjalanan. Harga tiket sewa kuda tentu saja disesuaikan dengan jarak yang akan ditempuh. Para pemilik kuda tinggal antri di dekat loket menunggu para pengunjung yang membeli tiket. Hal ini diharapkan akan memberikan ketertiban dan khususnya akan sangat menyenangkan bagi semua pengunjung karena tidak akan terganggu. Untuk perjalanan balik juga sudah disediakan loket untuk pembelian tiket sewa kuda. Variasi tiket yang mungkin dapat dilakukan adalah berupa tiket sekali jalan baik untuk perjalanan penuh atau separo jalan, serta dimungkinkan juga untuk tiket sewa perjalanan pergi-pulang. Petugas yang menangani penjualan tiket dapat dari koperasi pemilik kuda dengan mengambil sedikit bagi hasil saja untuk operasional dan mungkin untuk pemeliharaan sarana. Bentuk tiket adalah berupa selembar tiket yang terdiri dari tiga bagian yakni untuk petugas penjual (untuk keperluan administrasi), untuk pemilik kudan dan untuk pengunjung. Bagian yang dibawa pemilik kuda ini selanjutnya ditukarkan ke koperasi dalam bentuk uang tunai.
Selain masalah agresivitas para pemilik kuda yang telah diuraikan di atas, hal lain yang perlu dicari alternatifnya adalah jalur/rute perjalanan. Saat ini rute perjalanan tidak ditata dan bercampur jadi satu untuk jalur untuk orang berjalan kaki dan jalur untuk orang menunggang kuda. Hal ini juga didorong karena faktor para pemilik kuda yang selalu mencoba menawarkan jasanya tersebut. Bagi pengunjung akan merasakan ketidaknyamanan untuk menikmati perjalanan karena merasa terusik oleh tawaran pemilik kuda ataupun karena ada kuda yang berada di dekatnya. Cara mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan membuat jalir terpisah khusus untuk para penunggang kuda. Jalur untuk para pejalan kaki dipilih yang terdekat dan lapang sehingga akan memberikan keleluasaan bagi pengunjung untuk berjalan dan menikmati pemandangan.
Masalah kebersihan dan keindahan juga patut diperhatikan oleh para pemilik kuda yakni dari faktor keberadaan kotoran kuda. Banyak kuda yang tidak diberi tempat penampung kotoran kuda, sehingga sepanjang rute perjalanan banyak sekali dijumpai kotoran kuda yang betebaran. Saat ini dimana jalur perjalanan yang bercampur jadi satu, maka kotoran ini sangat mengganggu karena membuat jijik dan berbau tidak sedap. Kedisiplinan hal ini perlu ditingkatkan sehingga dapat membuat pengunjung berniat untuk datang kembali berlibur di gunung Bromo. Atau jika sudah ada jalur khusus, maka kotoran ini tidak akan mengganggu. Setelah pengunjung sepi maka diharapkan ada petugas yang mengumpulkan dan membersihkan kotoran kuda di sepanjang rute perjalanan.
Dengan adanya pengaturan seperti telah diuraikan di atas, diharapkan akan dapat memberikan kenyamanan bagi para pengunjungnya. Suatu tempat wisata itu perlu dikelola untuk memancing orang berkunjung berulang kali, jadi apabila seseorang sudah pernah datang ke kawasan gunung Bromo, tetapi kemudian menyaksikan atau mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, tentu saja mereka akan berpikir panjang untuk datang lagi ke sana. Semoga bermanfaat.

Foto-foto Segoro Wedi Bromo :

Bromo

Bromo 

 

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s