Atraksi berkuda merupakan salah satu penunjang wisata alam yang banyak disukai pengunjung. Salah satu contohnya dalah di kawasan wisata gunung Bromo. Di kawasan ini, pengunjung harus berjalan relatif jauh di areal Segorowedi untuk dapat mencapai kaki puncak dan selanjutnya mendaki puncak gunung Bromo itu melalui anak tangga yang telah disediakan. Sebagai alternatif daripada berjalan kaki yang cukup jauh dan menyita tenaga maka di sana tersedia jasa penyewaan kuda. Banyak masyarakat lokal yang memelihara kuda untuk kemudian disewakan kepada para pengunjung. Salah satu dampak negatif dari aktivitas ini tentu saja adalah keberadaan kotoran kuda yang dihasilkan. Kotoran kuda ini banyak berceceran di sepanjang rute perjalanan menuju kaki puncak gunung Bromo. Hal ini tentu saja perlu mendapat perhatian karena mengurangi keindahan dan suasana wisata disana, mengingat sangat menjijikkan, berbau tidak sedap dan kurang sehat. Untuk itu masalah kotoran kuda ini perlu dicari pemanfaatan lebih lanjut dan salah satu alternatif yang mungkin adalah untuk bahan pembangkit biogas.

berkuda di Bromo

 

Kalau pada posting terdahulu, sudah diuraikan beberapa hal yang dapat menyelesaikan permasalahan lokal di sana, salah satunya adalah tentang perlunya pemisahan jalur pejalan kaki dan jalur untuk penunggang kuda. Akan tetapi permasalahan kotoran kuda ini selalu tetap ada meskipun akan sedikit terisolir tempatnya. Mengingat kondisi angin di kawasan itu sangat kencang, maka sangat memungkinkan kotoran juga ikut terbang ke bagian lain. Seperti diketahui kotoran kuda juga dapat membawa bibit penyakit yang dapat merugikan manusia seperti tetanus dan lain sebagainya. Untuk itu tentu saja para pemilik kuda harus ikut bertanggungjawab untuk mengelola kotoran kuda yang dihasilkannya.
Untuk tindakan preventif, sebenarnya dimungkinkan bagai pemilik kuda untuk membuat penampung kotoran yang dapat dipasang di bagian belakang pantat kuda. Gunanya tentu saja untuk menampung kotoran sehingga tidak berceceran di sepanjang jalan dan dapat dibuang dengan mudah di tempat-tempat tertentu. Tapi dari pengamatan, banyak sekali pemilik kuda yang mengabaikan pemasangan penampung kotoran ini. Untuk kotoran yang berceceran di sepanjang jalan, mestinya juga perlu dikumpulkan. Harus ada petugas yang diberi tanggung jawab untuk mengumpulkannya. Jika tidak maka akan membikin kotor dan jorok kawasan Segorowedi ini. Kotoran kuda ini baik yang sudah dikumpulkan maupun yang masih berceceran mestinya perlu dimanfaatkan lebih lanjut.
Pemanfaatan kotoran kuda ini yang paling praktis adalah untuk dijadikan pupuk kandang. Akan tetapi jika diingat kandungan serat yang tinggi pada kotoran kuda ini maka sangat dimungkinkan juga untuk diolah lebih lanjut sebagai sumber biogas. Proses pembuatan biogas dari kotoran kuda ini dapat dilakukan dengan menggunakan reaktor yang dapat dibuat secara sederhana maupun secara lebih permanen. Prinsip reaktor biogas ini adalah membiarkan terjadinya dekomposisi karbohidrat dalam suatu biomassa untuk menghasilkan gas yang salah satunya adalah metana. Reaktor dapat dibuat berupa bak penampung kotoran yang didesain sehingga bisa mengalirkan kotoran ke bak dekomposisi. Di dalam bak dekomposisi ini, selanjutnya gas-gas akan dihaislkan dan harus ada sistem penampung gas supaya tidak hilang. Selanjutnya gas dapat dialirkan melalui pipa ke dapur untuk tungku atau kompor. Dengan demikian gas yang dihasilkan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat disana dan dapat berfungsi sebagai pengganti bahan bakar minyak di rumah tangga.
Saat ini terdapat beberapa macam bentuk reaktor biogas. Ada yang secara sederhana dengan menggunakan plastik propilen, ada yang menggunakan beton. Selain itu ukuran reaktor juga dapat dipilih berdasarkan ketersediaan biomassa atau kotoran kuda yang ada setiap harinya. Desain dan rancangan reaktor banyak tersedia di beberapa sumber referensi. Pembuatan reaktor dapat dilakukan secara perseorangan atau per kelompok. Kalau per kelompok mungkin dapat dipilih untuk warga yang rumahnya berdekatan sehingga produk biogas dapat dialirkan ke dapur-dapur di masing-masing rumah. Cara lain adalah membuat dapur umum yang dibangun berdekatan dengan reaktor biogas tersebut. Selain itu dapat juga dibangun instalasi reaktor biogas yang berada di areal Segorowedi, misal diletakkan di kawasan parkir / lokasi tempat berjualan makanan/minuman. Produk biogas ini dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar para penjual minuman/makanan panas yang berlokasi di sana.
Untuk pembangunan reaktor biogas tentu saja diperlukan biaya. Satu reaktor dapat memerlukan biaya antara 3-10 juta atau bahkan lebih tergantung jenis dan ukuran reaktor yang akan dibuat. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kendala dari mana sumber pembiayaan tersebut dapat diperoleh. Untuk itu diperlukan pihak ketiga untuk ikut membantu pendirian dan pengadaan fasilitas reaktor biogas ini. Pemerintah melalui dinas terkait seperti dinas pariwisata atau dinas pertanian dapat menganggarkan untuk membuat proyek percontohan ini. Reaktor ini hendaknya dapat digunakan untuk dimanfaatkan bersama. Selain itu sektor swasta juga mungkin dapat berpartisipasi seperti para pemilik hotel, agen wisata atau bank yang menjalankan usahanya di sekitar kawasan wisata gunung Bromo ini. Mereka tentu tidak ingin kawasan wisata ini ditinggalkan pengunjung hanya karena alasaan kotor dan jorok oleh kotoran kuda ini. Untuk itu mereka perlu sedikit menyisakan keuntungannya untuk ikut membantu percontohan reaktor biogas ini. Apabila reaktor itu dapat dimanfaatkan bagi umum, maka dapat juga mereka memasang logo sponsor pada fasilitas yang telah dibuat tersebut.
Dengan adanya reaktor biogas yang digunakan untuk menampung dan mengolah kotoran kuda ini maka diharapkan akan dapat menjaga kebersihan dan keindahan kawasan wisata gunung Bromo. Selain itu masyarakat lokal juga akan menikmati penyediaan energi alternatif baru yang murah dan dapat terjamin. Pada akhirnya kawasan wisata ini diharapkan tetap dapat menjadi magnet yang menyedot banyak pengunjung untuk datang dan berlibur di sana.

 

Iqmal Tahir

Iklan

3 responses »

  1. bimo berkata:

    salam kenal bapak, keren tulisannya bisa tukar pikiran tidak bapak ya saya bimo hadiyuwono

  2. mumung Junaedi berkata:

    transportasi yang memakai hewan kuda seperti berkuda, delman/ keretek, dokar, dan sejenisnya ramah lingkungan sayang kadang menjadi marah lingkungan, karena kotoranNya..karena masih banyak beberapa kota di Indonesia yang memakai jasa transportasi tersebut salah satunya di Kota saya, Kabupaten Kuningan jawa Barat kuda merupakan maskot Kabupaten Kami..sampai saat ini saya juga berbuat sesuatu untuk daerah saya sehingga transportasi Kuda menjadi Ikon yang benar-benar ramah lingkungan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s