Pernahkah melihat orang yang kepalanya pitak dengan sebagian potongan rambutnya yang tidak dipotong secara proporsional atau tidak rata ? Melihat hal ini kadang kita merasa aneh melihat orang itu bahkan mungkin saja kita akan merasa tidak nyaman atau merasakan ketidaknyamanan dari orang itu. Padahal mestinya orang itu mungkin tidak menginginkan dirinya dengan tampilan pitak itu, mungkin karena keperluan operasi di bagian kepala itu atau karena hal lain yang membuatnya terpaksa tampil pitak. Jadi tampilan pitak karena dipaksa oleh keadaan akan membuat tidak nyaman bagi yang melihat dan yang jadi obyeknya. Hal demikian dapat juga dianalogikan kalau hal ini terjadi pada obyek lain yang bukan manusia.

Pohon pitak di kampusYang menjadi bahan tulisan saya kali ini adalah obyek pohon yang pitak. Pernahkan melihat pohon yang pitak ? Tentu saja yang pitak bukan kepalanya, karena pohon tidak punya kepala, melainkan pitak pada bagian tajuk pohonnya.

 Nasib pohon seperti ini banyak dijumpai untuk tanaman pelindung jalan atau tanaman keras lainnya yang tumbuh di sekitar jalur listrik milik PLN. Saya mengamati di jalan-jalan Senopati dan jalan Kaliurang wilayah kampus UGM, dimana bagian atas tajuk pohon yang ada disana ternyata kelihatan pitak. Pohon yang antara lain jenis angsana dan flamboyan ini harus merelakan sebagian tajuknya untuk dipangkas sehingga tidak mengganggu kawat listrik milik PLN. Memang berbahaya kalau ada ranting atau bagian tajuk pohon yang mengenai atau menyentuh bagian kawat berarus listrik itu. Bahaya yang terjadi adalah kemungkinan terjadinya arus pendek atau korsluiting, dan bahkan jika musim terkena hujan dapat saja akan menghantarkan listrik melalui pohon dan menyebabkan bahaya tersetrum bagi orang yang berada di sekitar pohon.

Untuk mengatasi bahaya tersebut maka tentu saja perlu dihindari kontak bagian pohon dengan kawat listrik. Jalan yang diambil adalah dengan jalan pemangkasan secara rutin. Pohon-pohon dari jenis keras yang ditanam di tepi jalan sebagai tanaman pelindung biasanya memiliki tajuk pohon yang lebat dan tumbuh tinggi ke atas. Dengan jalan pemangkasan maka sebagian pohon harus hilang. Akan tetapi kalau dipangkas seluruh bagian tajuk secara horisontal, maka akan membuang banyak dan mungkin saja akan membuat pohon menjadi mati. Selanjutnya orang berpikir hanya membuang bagian tajuk seperlunya saja yakni tajuk yang akan menyentuh kawat listrik saja. Hal inilah yang kemudian membuat pohon jadi terlihat pitak.

Dengan kondisi terlihat pitak ini kalau dilihat dari arah tertentu memang menjadikan nilai estetika menjadi berkurang. Akan tetapi hal ini menjadi pilihan terbaik daripada pohon harus ditebang semua. Jumlah pohon perindang di wilayah perkotaan sebisa mungkin tetap dijaga untuk memberi suasana hijau dan menjadi pabrik oksigen di wilayah perkotaan. Untuk itu aspek estetika harus dikorbankan.

Pohon pitak di kampus

Alternatif lain adalah dapat dilakukan oleh pihak pencetusnya yakni PLN. PLN hendaknya membuat strategi dengan menempatkan jalur kabel listriknya dengan menghindari daerah jalur hijau perpohonan yang sudah jadi. Mereka hendaknya dapat memasang tiang-tiang listriknya pada jalur di sebelah lain atau membuat tiang melengkung sehingga kawat listrik berada di atas jalan dan bukan di bahu jalan.

Pohon pitak di kampus

Untuk dinas pengelola taman kota, maka jika akan dilakukan penanaman tanaman perindang baru, maka juga perlu diperhatikan jalur listrik yang sudah ada. Pemilihan jenis tanaman yang akan digunakan hendaknya perlu dipertimbangkan. Saat ini di Yogyakarta juga sudah mulai digalakkan tanaman perindang dengan menggunakan tanaman rambat yang ditumbuhkan pada media lengkung di atas trotoar. Hal ini juga cukup bagus karena aspek penghijauan dan penyediaan tanaman untuk pabrik oksigen tetap ada sementara aspek estetika tetap dijaga.

Kondisi pohon pitak sebenarnya sering terjadi juga bukan pada tanaman perindang di tepi jalan, tetapi juga terjadi pada beberapa pohon yang tumbuh di halaman rumah dan terkena lintasan jalur listrik. Pemasangan tiang listrik oleh PLN untuk kawasan hunian dengan lebar jalan yang terbatas, kadang memaksa PLN untuk menempatkan di bagian halaman pribadi rumah dan bukan di bagian bahu jalan. Mestinya hal ini harus dikompensasikan kepada pemilik halaman tempat tiang listrik itu dipasang. Kalau pemilik halaman memiliki pohon yang juga terkena lintasan kawat listrik itu, maka dia juga harus rutin melakukan pemangkasan rutin pada bagian tajuk pohon itu. Perlakuan ini juga dapat membuat pohon menjadi pitak. Kalau jenis pohon berupa pohon produktif macam pohon buah-buahan, karena pemangkasan ini maka akan terjadi kerugian jumlah panen buah yang akan dihasilkan. Namun demikian daripada terjadi risiko kecelakaan karena arus listrik maka dalam hal ini pemilik pohon seringkali terpaksa mengalah.

Akhirnya sebagai penutup, karena kita jugalah tetap memerlukan listrik dan fungsi pohon sekaligus, maka walaupun pohonnya pitak pun tak apalah. Yang penting asal jangan kita saja yang pitak rambutnya, meskipun kita harus mengorbankan asas “peri kepohonan”.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s