Saat awal semester seperti biasa akan mendapatkan pembagian jadwal mengajar kuliah. Tergantung berapa mata kuliah yang diampu pada semester tersebut, maka beberapa hari kemudian akan mendapatkan berkasa daftar hadir kuliah yang diberkas rapi dalam map. Untuk tiap mata kuliah, berkas tersebut dikirimkan masing-masing satu set dan biasanya dalam satu set tersebut terdapat kelengkapan berupa dua buah spidol whiteboard yang dikemas dalam plastik. Hal ini berulang di setiap awal semester di fakultas tempat saya mengajar.

Uraian tersebut di atas terbayang kemabli saat saya mulai mengawali asistensi di negeri orang ini. Ada satu kejadian yang membekas di ingatan saya adalah pernah dalam satu semester saya mengajar lima mata kuliah , walaupun beberapa secara tim teaching. Pada saat itu saya mendapatkan lima berkas map lengkap dengan spidol-spidolnya. Tentu saja, senang-senang saja menerima hal ini karena gratis dan itu merupakan fasilitas untuk kegiatan mengajar. Akan tetapi kemudian saya kemudian tercenung memikirkan lebih lanjut dalam hal spidol yang diterima ini.

spidol whiteboard dari alattulis.comTerus terang saya bukan dosen yang baik, tulisan tangan saya relatif jelek (kalau dulu teman smp saya bilang mirip sandi rumput), dan juga cenderung mudah berkeringat dingin saat tampil di hadapan orang. Fakta terakhir ini termasuk di kelas ataupun saat presentasi seminar, padahal mengajar yang sudah lama dan pengalaman presentasi seminar yang sudah banyak sekali. Untuk itu saya mengatasinya dengan memilih alternatif menyiapkan materi kuliah yang akan diberikan dalam sajian power point, sehingga pada saat kuliah tinggal tayang. Bersyukur, karena saat ini banyak ruang kelas yang lengkap dengan fasilitas komputer dan LCD projector-nya. Fasilitas papan tulis atau white board di kelas memang tetap selalu ada. Untuk penggunaan papan tulis, disediakan kapur dan penghapus. Untuk penggunaan white board, disediakan penghapus saja. Spidolnya dari mana ? Ya harus dibawa dosen sendiri dari pembagian di awal semester tadi. Mengingat materi sudah ditayangkan lewat proyektor, tentu saja relatif tidak banyak lagi menggunakan spidol, kecuali untuk menuliskan tambahan penjelasan yang belum ada di slide atau uraian tambahan lain. Akhirnya dapat dibayangkan dari kasus saya ini berapa jumlah spidol yang menumpuk di ruang kantor saya ini.

Saya juga pernah melihat lebih banyak lagi jumlah spidol yang terdapat di ruang kantor kolega senior saya. Harap dimaklumi karena beliau memang dosen senior dengan jumlah jam mengajar lebih banyak lagi.

Dengan fakta tersebut dapat dipahami bahwa pada ksus spidol dengan mekanisme pembagian seperti ini akan terkesan mubadzir. Alternatif yang dapat diambil antara lain adalah :

  • Pembagian spidol secara proaktif saja, artinya dosen hanya mengambil spidol sesuai dengan keperluannya saja.
  • Spidol selalu tersedia di ruang kelas dan dijaga fungsinya oleh petugas, sehingga selalu ada dan dapat digunakan untuk menulis.

Spidol white board pada dasarnya adalah bersifat reusable. Jadi setelah tintanya kering dan tidak dapat digunakan untuk menulis, spidol dapat diisi kembali dengan tinta, sehingga spidol dapat digunakan kembali. Pengisian tinta dapat dilakukan dengan tinta yang sama yang biasa terdapat dalam botol-botol kecil dan banyak dijual di toko alat tulis. Untuk mengatasi kerepotan kalau dosen harus melakukan proses refill sendiri-sendiri, maka hendaknya ada petugas di bagian akademik yang salah satu tugasnya melakukan hal ini. Dosen cukup membawa spidol yang telah kering untuk kemudian ditukar dengan spidol yang sudah direfill. Hal ini tentu saja akan memudahkan bagi dosen dan petugas akademik.

refill tinta dari trademarket.comDari sini mestinya dapat diperkirakan ada manfaat berupa pengurangan buangan spidol bekas, selain itu juga dimungkinkan penghematan terhadap biaya pengadaan spidol baru. Dari aspek terakhir ini mungkin saja akan menimbulkan kendala bagi bagian keuangan. Bagi petugas di bagian pengadaan akan lebih ‘sexy’ program pengadaan spidol daripada pengadaan tinta refill spidol. Selain itu juga akan menambah tugas tambahan berupa pengisian tinta spidol bekas tadi. Tapi mestinya usulan ini dapat dipertimbangkan mengingat alasan peduli lingkungan tadi.
Kalau memang kegiatan tetap seperti ini, ada alternatif lain pemanfaatan spidol bekas tadi dengan tujuan untuk mengurangi sampah. Dengan tetap menggunakan prinsip reuse, maka spidol-spidol bekas dapat dikumpulkan pada suatu tempat. Setelah terkumpul banyak, spidol dapat disalurkan ke sekolah-sekolah yang mungkin memerlukannya dan mereka dapat memfungsikan kembali spidol tersebut dengan jalan proses refill tinta kembali. Jadi akan lebih baik lagi kalau menyumbang spidol bekasnya sekalian dengan menyumbang tintanya.

Kalau dipikir, saat ini budaya untuk refill tinta printer atau toner ini sudah biasa, mestinya kegiatan refill spidol juga harusnya dapat diterima.

 

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. sam berkata:

    kalo refil biasanya cepet abis boz,g kualitas lg..

    • Iqmal berkata:

      ok itu saya kira hanya persepsi saja…kalau kita mengisinya sampai gabus dalam botol bisa optimal menyerap semua, tentunya lama pemakaian sama saja…yang jelas dari sisi viskositas bahan refill sepertinya dibuat tidak sepekat bahan asli untuk memudahkan proses pengisian agar cepat terserap, selain menghindari bahan habis karena mudah menguap (pengaruh solven/pelarutnya)….
      Satu hal lagi, jangan lupa saat kita melakukan pengisian ada efek membuka segel di bagian belakang, sehingga proses penguapan berlangsung dari dua sisi… spidol yang telah dibuka dari plastik dengan hanya ditutup bagian depan perlu diingat lama-lama juga kering, demikian juga saat segel plastik terakhir yang menutup ujung belakang sudah dibuka maka akan mempercepat pengeringan.
      Jadi pergantian spidol sih tetap saya sarankan untuk selalu direfill saja sampai ujung spidol pecah, barulah perlu diganti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s