pengemis jalananFenomena berulang akan terjadi di saat-saat bulan Ramadhon, yakni para profesi “pelaku bisnis di jalan raya” yang beroperasi akan menjadi meningkat relatif dibandingkan hari-hari yang lain. Para profesi ini meliputi peminta-minta, pengamen jalanan dan pengasong. Yang hendaknya paling menjadi perhatian adalah para peminta-minta atau sering dikenal sebagai pengemis jalanan. Mereka banyak yang berasal dari orang-orang yang sudah tidak tahu lagi harus bekerja apa sehingga memilih jalan pintas dengan mengharapkan rejeki secara mudah dari orang lain yang mau berbagi. Saat ini para peminta tidak lagi didominasi oleh orang yang memiliki keterbatasan, baik keterbatasan kemampuan maupun keterbatasan fisik tubuh. Seringkali ada oknum peminta-minta yang memanfaatkan bantuan anak kecil atau bahkan bayi untuk lebih mendramatisir penampilan sehingga akan lebih dikasihani. Bahkan jika perlu bayi tersebut harus disewa. Ada juga anak-anak remaja yang didorong pihak lain atau atas keinginan sendiri untuk terjun ke jalan raya sebagai peminta-minta. Yang lebih parah lagi adalah tingkah oknum yang mengorganisir beberapa kelompok orang agar menjadi pengemis secara lebih ‘profesional’. Para pelaku jalanan ini akan berharap mendapatkan uang dari sedekah para pengguna jalan yang lebih banyak lagi pada waktu di bulan puasa ini.

Apabila dicermati, jalan adalah merupakan jalur dan sarana transportasi umum. Simpang jalan dengan traffic light baik perempatan maupun pertigaan merupakan bagian jalan untuk memudahkan kelancaran arus pengguna jalan. Apabila ada pihak-pihak yang memanfaatkan keberadaan jalan untuk kepentingan lain dan dapat mengganggu pengguna jalan, mestinya hal ini tidak diperkenankan. Termasuk dalam bagian jalan adalah trotoar yang difungsikan untuk lalu lintas pejalan kaki. Jadi kalau ada orang yang memanfaatkan jalan dan trotoar misal untuk berjualan, tentu saja akan melanggar peraturan. Dalam hal ini polisi mestinya mengatur dan melarang mereka untuk beraktivitas. Dari sisi pelaku, kadang dimunculkan isu akan keadilan dan kemanusiaan. Kalau sudah berhadapan dengan hal terakhir ini akan susah untuk diargumentasi secara nalar. Cara yang paling mungkin adalah dengan menganjurkan pada pihak kedua. Ada penjual selalu ada pembeli, ada peminta selalu ada pemberi. Para pembeli dan pemberi inilah para pengguna lalu lintas itu sendiri. Jika para pengguna lalu lintas ini tahu bahwa sudah bukan tempatnya lagi sarana jalan raya, trotoar atau simpang jalan digunakan untuk kegiatan berjual beli atau bersedekah, maka diharapkan jumlah pelaku aktivitas jalanan ini akan berkurang atau bahkan akan hilang.

Kalau pengguna ingin memberi sedekah karena sudah dilarang di perempatan jalan, maka dapat dilakukan dengan cara lain. Sedekah dapat dilakukan melalui badan amil mungkin ada di masjid atau posko baziz yang ada. Apabila ingin melakukan sedekah secara langsung maka dapat dilakukan kepada tetangga atau kenalan yang dirasa memerlukan, kepada anak yatim di panti asuhan, kepada anak asuh, korban bencana alam dan pihak lain. Dalam kasus ini memang untuk lebih meratakan sedekah bagi pihak yang menerima diperlukan badan amil yang profesional dan tanggap di berbagai wilayah tugasnya. Kalau sudah ada kesadaran orang untuk selalu bersedekah melalui jalur-jalur yang benar maka perasaan kewajiban untuk melakukan bersedekah saat di jalan raya akan dapat dikurangi. Pada akhirnya tentu jumlah orang di jalanan akan berkurang dan pengguna jalan akan dapat menikmati lalu lintas dengan lebih lancar.

Terkait dengan aturan secara hukum, dalam peraturan lalu lintas tentu saja sudah diatur larangan untuk beraktivitas di jalan raya yang dapat mengganggu ketertiban berlalu lintas. Secara lebih khusus, sudah ada peraturan daerah yang khusus melarang orang meminta-minta di jalan, yakni dari perda yang dikeluarkan oleh pemda Jakarta dan Sleman. Tinggal sosialisasi dan penegakan peraturan tersebut yang harus digiatkan kembali. Sanksi atas pelanggaran perda tersebut juga mestinya harus dikenakan pada para pelakunya.

Manfaat lain, kalau semua pelaku di atas sudah ditertibkan maka diharapkan sudah tidak ada lagi orang-orang berkeliaran di jalan saat lampu merah. Hal ini akan dapat menciptakan keamanan di jalan karena sebenarnya banyak pelaku kejahatan di jalan raya yang menyaru menjadi peminta-minta atau pengasong di jalan. Jadi polisi hendaknya juga dapat langsung menangkap orang yang masih berkeliaran di perempatan jalan. Kalau sudah begini, maka kapak merah akan dapat jadi koleksi museum.

Intermezo :

 ngamen unik

Ini ada sajian inovasi pengamen di jalan, tapi ya namanya tetap pengamen jalanan, dan juga tetap dapat mengganggu ketertiban berlalu lintas di jalan raya. Mereka secara berkelompok memainkan kesenian wayang orang di perempatan jalan, lengkap dengan make up dan asesoris pertunjukannya. Yang berbeda hanya panggung pertunjukannya pindah ke jalanan dan di akhir acara mereka menarik sumbangan sukarela dari pengguna jalan raya.

ngamen unik 

 

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s