Hari minggu bulan Agustus lalu, habis diajak ke rumah kawan yang memiliki kebun relatif cukup luas. Saat itu kebetulan sedang musim buah dan ternyata pohon rambutan yang ada di rumahnya sedang sarat berbuah. Orang tua kawan saya itu ternyata cukup rajin dan banyak menanam berbagai jenis buah-buahan, mulai dari durian, rambutan berbagai jenis, jeruk nipis, jeruk bali, pisang dan lain-lain. Saat itu yang sedang berbuah lebat adalah buah rambutan, ada yang dari jenis warna merah besar, warna kuning dan beberapa pohon lagi. Lumayan dari sana, membawa satu tas plastik besar buah rambutan, bisa buat oleh-oleh kawan kost di rumah. Wah jadi ingat kalau panen rambutan di tempat asal juga…

panen rambutan di tobiar

Kalau di sekitar Yogyakarta, rambutan saat ini banyak dipasok dari daerah sekitaran seperti daerah Cebongan, Kalibawang, atau daerah lainnya di Mungkid. Kalau sudah musim buah rambutan ini sekitar bulan Juni-Agustus, maka akan banyak penjual buah rambutan musiman juga yang mangkal di pinggir jalan. Banyak penjual yang memanfaatkan hasil kebunnya sendiri untuk dijual langsung atau mereka yang berusaha menjual dari hasil memborong buah dari pemilik kebun. Saat ini banyak dikenal jenis dan variasi buah. Ada buah rambutan yang berwarna merah tua, merah, merah jingga, bahkan ada yang cuma warna kuning (jenis rambutan rapiah). Rasanya pun bermacam-macam, ada yang manis dan ada pula yang ada rasa masamnya. Tetapi kalau sudah musim panen raya, kadang buah itu dicampur oleh penjualnya dengan satu harga saja.

Dengan situasi panen buah rambutan yang relatif hampir bersamaan, maka harga buah akan jatuh. Pada tahun 2009 kemarin bahkan sempat harga per kilonya cuma 1.500 rupiah saja atau bahkan kurang lagi. Pemilik pohon biasanya tidak merasa rugi, karena mereka hampir tidak pernah mengeluarkan biaya pemeliharaan pohon, jadi dapat dianggap sebagai tabungan. Tetapi apakah tidak bisa diatasi permasalahan panen buah, sehingga tidak menyebabkan kondisi waktu panen yang relatif bersamaan dan dalam masa yang relatif singkat. Jika hal ini bisa diatasi tentu saja harga buah tidak akan jatuh sekali dan pemilik pohon akan dapat menikmati hasil keuntungan yang lebih tinggi.

 buah rambutan

Alternatif selain mengatasi pengaturan waktu panen buah, tentu saja adalah usaha dalam pengelolaan pasca panen buah. Ada satu hal yang sampai sekarang mengganjal saya adalah pemanfaatan rambutan ini adalah hanya bisa dimakan sebagai buah segar saja. Buah rambutan setelah dipetik akan cepat sekali mengalami proses pengeringan buah. Biasanya hanya dalam hitungan 3-5 hari saja sudah tidak terlihat segar lagi. Bagi pemilik pohon, hal ini dapat diatasi dengan memetik buah secara berkala, sehingga disesuaikan dengan kebutuhan untuk penjualan. Buah rambutan tidak sekaligus dipanen dalam masa yang sama. Bagi penjual, mereka biasanya hanya membeli buah dalam jumlah secukupnya sesuai dengan tingkat pembelian, artinya kalau stock sudah mau habis baru mereka menambah buah lagi. Penjual tidak mau dirugikan dengan kasus buah tak terjual hanya karena sudah penampilan buah yang tidak segar lagi dan terlihat kering. Kalau terjadi stok buah sampai kering maka harga akan diobral dengan harga lebih murah daripada harga buah segar.

Catatan khusus akan pengamatan hal ini yakni untuk penjual buah rambutan musiman yang berlokasi di pinggir jalan. Untuk mempercepat penjualan mereka biasanya sudah mengikat buah rambutan dalam jumlah 2 kilo atau 3 kiloan. Pagi hari mereka sudah menimbang dengan tepat sesuai takaran berat tersebut. Tetapi kalau sudah siang hari, berat ikatan yang sudah pas tadi, akan berkurang karena susut akibat berkurangnya kadar air dalam buah. Untuk itu penjual harus selalu siap menambahkan buah rambuatan yang lepasan untuk menggenapi berat supaya sesuai takaran kembali dan tidak membohongi pembeli.

Kembali pada kasus pengolahan pasca panen buah, alternatif yang mungkin adalah proses pengalengan atau kemasan lain. Untuk diketahui buah kalengan saat ini banyak tersedia di pasaran, dan buah yang mirip rambutan adalah buah leci atau kelengkeng. Akan tetapi buah rambutan sampai saat ini tidak ada yang berusaha untuk melakukan pengalengan. Sebenarnya proses pengawetan buah dengan cara pengalengan ini relatif dapat dilakukan dengan mudah menggunakan teknologi tepat guna yang sudah ada. Pengalengan buah rambutan pada dasarnya dapat dilakukan melalui tahapan pemilihan buah yang berkualitas bagus, pemisahan daging buah dari kulit dan biji rambutan, pencucian dan pembuatan larutan sirup perendam, proses sterilisasi dan pengalengan.

Berbeda dengan buah leci atau kelengkeng, buah rambutan memiliki tekstur yang berbeda. Bagian dalam daging buah memiliki kulit ari, kadang untuk jenis tertentu kulit ari ini terasa agak tebal, yakni untuk rambutan dari jenis yang ’ngelothok’. Kulit ari ini susah untuk dipisahkan dari daging buahnya. Untuk leci dan kelengkeng tidak ada kulit ari yang terbawa pada daging buah saat pemisahan dari biji.

Dari sisi prospek, memang saat ini buah rambutan kaleng masih kalah dengan jenis buah kaleng lainnya seperti leci, kelengkeng, nanas atau buah lainnya. Permasalahan hal ini dapat diatasi dengan membuat campuran beberapa jenis buah dalam 1 kaleng, selain tentu saja tetap menyediakan produksi khusus buah rambutan dalam kaleng. Hal ini diharapkan dapat mengenalkan rambutan sebagai jenis buah dalam kaleng baru. Siapa yang berminat untuk berinvestasi dalam bidang ini ?

Ilustrasi foto : 

 

mBorong rambutan di Mungkid

Memborong rambutan dari penjual musiman di  Jalan Raya Mungkid Salam (Januari 2009). Ada Rapiah, ada binjai, ada lokal…. ada-ada saja.

 

Iqmal Tahir

Iklan

3 responses »

  1. LikA berkata:

    Mas saya tertarik dengan teknologi pengalengan buah rambutan, bisakah memberi info pada saya?Ini juga permasalahan yang dihadapi daerah saya. ma kasih infonya.

    • Iqmal berkata:

      saya sendiri sebenarnya belum punya pengalaman teknis soal ini, hanya ide saja…. mungkin proses pengalengan ini bisa dilakukan seperti hanlnya pengalengan pada buah leci atau buah-buah yang lain…semoga sukses…

  2. […] Mungkinkan Teknologi Pasca Panen Buah Rambutan currPath = "http://ambarnurhayati.com/wp-content/plugins/embed-facebook/slidewindow/"; strImgOf=""; .sohailerror { border:1px solid #eee; background:#f9f9f9; padding:10px; margin-bottom:15px;} .sohailfbbox { margin:0 0 25px 0; padding:0; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana; font-size: 12px; line-height:18px; border: 1px solid #C6CEDD; border-top-color:#315C99; } #content .sohailfbbox a, .sohailfbbox a { color:#3B5998;text-decoration:none; } #content .sohailfbbox a:hover, .sohailfbbox a:hover { color:#3B5998;text-decoration:underline; } .sohailfbboxhead { margin: 0; padding: 10px; font-size: 17px; border-bottom: 1px solid #D8DFEA; background: #EDEFF4; height:40px; } .sohailfbboxhead span { margin: 0; padding: 0px; font-size: 12px; } .sohailfbboxbody { margin: 0; padding: 12px 10px 8px 10px; } .sohailfbboxinfo { margin: 0 0 0 10px; padding: 10px; float:right; width:250px; border:1px solid #D8DFEA; background:#EDEFF4; tex-align:right; font-size:11px; } #content .sohailfbthumb, .fbalbumpics .sohailfbthumb { border:1px solid #ccc; padding:4px; margin-right:6px; width:130px; height:98px; } var _wdfb_ajaxurl="http://ambarnurhayati.com/wp-admin/admin-ajax.php";var _wdfb_root_url="http://ambarnurhayati.com/wp-content/plugins/wpmu-dev-facebook"; […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s