speed 120Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan raya, sering terjadi karena faktor ketidakdisiplinan pengguna jalan. Salah satu bentuk ketidakdisiplinan ini antara lain adalah karena pematuhan batasan kecepatan kendaraan di jalan raya. Saat ini dengan didukung teknologi otomotif yang semakin maju maka tenaga yang dihasilkan mesin semakin kuat sehingga dapat membuat laju kendaraan semakin cepat. Pengendara akan dimanjakan dan terpacu untuk meningkatkan laju kendaraan secepat mungkin untuk mendukung mobilitasnya, tanpa mengindahkan pengguna jalan yang lain. Di sisi lain, fasilitas ruas jalan yang cenderung konstan akan tetapi jumlah pengguna semakin banyak. Akibatnya kenyamanan dalam berkendara akan semakin berkurang. Pihak pengelola jalan raya dalam hal ini menerapkan upaya untuk membatasi kecepatan kendaraan pengguna, antara lain adalah pembuatan polisi tidur dan peraturan pembatasan kecepatan berkendara di jalan raya.

Teknis pembatasan kecepatan berkendara ini diatur dengan menggunakan rambu-rambu lalu lintas pembatasan. Kecepatan di jalan raya dalam kota biasa diatur maksimal 40 km/jam atau mungkin di luar kota pada batasan maksimal 60 km/jam. Mungkin kalau pada jalan bebas hambat, lebih tinggi lagi menjadi 80 km/jam. Aturan tak tertulisnya adalah, batas kecepatan tersebut boleh dilanggar maksimal 10 km/jam. Untuk angkutan berat dan angkutan umum, biasanya batas kecepatan yang diperbolehkan lebih rendah daripada batasan tersebut.

Kalau di kawasan kampus UGM, ada yang lucu, yakni pembatasan laju kecepatan pada angka 10 km/jam. Bayangkan aturan rambu tersebut mestinya adalah untuk kendaraan bermotor. Misal diasumsikan toleransi kecepatan yang diperbolehkan adalah 10 km/jam maka kecepatan maksimal yang tidak melanggar adalah 20 km/jam. Untuk jaman sekarang, hampir tidak pernah ada pengemudi kendaraan yang secara normal di jalan akan membatasi pada kecepatan itu. Untuk aturan penggunaan gigi persnelling mesin kendaraan sekarang, kecepatan tersebut dianjurkan untuk dilakukan pada gigi satu atau maksimal dua. Mestinya akan lebih menyebabkan penggunaan bahan bakar yang lebih boros. Konsekuensi dengan mematuhi aturan ini, mestinya kawasan kampus akan jadi macet karena terjadi semacam simpul bottle neck bagi pengguna lalu lintas di sekitarnya. Kecepatan 10 km/jam itu adalah normal untuk pengguna sepeda kayuh, dan sangat tidak tepat untuk diterapkan bagi pengguna kendaraan bermotor. Kalau diamati sekarang dapat dibayangkan semua pengguna kendaraan bermotor yang melewati jalur kampus adalah pelanggar batasan kecepatan. Jadi kalau akan ditindak, siapa yang berhak menilang karena itu adalah kawasan kampus. Pembuat batasan kecepatan itu juga adalah otoritas dari kampus sendiri. Berdasarkan pada uraian di atas, dapat dikatakan itu pembatasan kecepatan yang tidak masuk akal.

Saya sebenarnya tidak akan membahas ukuran batas kecepatan itu, karena hal ini sudah pernah didiskusikan di milis dosen universitas, yang termasuk banyak komentar adalah dari para pakar lalu lintas. Bagian yang mengusik pikiran saya adalah rambu tersebut mestinya dirancang dan dibuat oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Mestinya rambu tersebut dibuat melalui pertimbangan akademik yang baik dan tidak sekedar mengikuti rambu-rambu semacam yang sudah ada. Tetapi dalam kenyataannya selain, besaran kecepatan yang sudah ditulis di atas, masih ada satu faktor lain yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar.

Rambu biasanya tersusun dari angka yang menunjukkan batasan kecepatan yang diperbolehkan. Rambu yang menunjukkan arah dan anjuran secara aturan standar mestinya menggunakan bentuk rambu kotak, sedangkan rambu untuk larangan atau instruksi menggunakan bentuk lingkaran. Jadi untuk rambu batasan kecepatan ini seharusnya juga standar menggunakan bentuk kotak. Tetapi pada kenyataannya sering juga rambu yang dibuat bukan oleh DLLAJR atau inisiatif oleh pihak tertentu atau masyarakat menggunakan bentuk lingkaran. Pada rambu ini dicetak angka batasan kecepatan tersebut, seperti tulisan 40, 60, atau 80. Untuk ruas jalan setelah batasan kecepatan itu tidak lagi diberlakukan maka akan dipasang rambu baru yang serupa dengan rambu batasan tersebut tetapi dengan garis diagonal yang mencoret angka yang tertera.

Petunjuk rambu-rambu seperti ini dapat dilihat di buku pedoman berlalulintas di Indonesia, yang biasa diperoleh pada saat akan melakukan ujian permohonan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Namun sayang sekarang ini, buku tersebut sudah tidak lagi banyak dijumpai atau diperoleh oleh para pemohon SIM. Seiring itu adalah kemudahan untuk mendapatkan SIM juga dapat dilakukan dengan mudah. Dengan demikian masyarakat kadang merasa tidak dibekali dengan pengetahuan berlalulintas yang baik, mereka hanya akan belajar peraturan lalulintas secara alami di jalan raya, sehingga kadang budaya berlalulintas yang mereka jumpai itu adalah suatu peraturan yang berlaku, tanpa peduli itu benar atau tidak.

Kembali pada rambu batasan kecepatan kendaraan yang diperbolehkan. Rambu tersebut cukup menunjukkan angka kecepatan. Satuan besaran fisik dari kecepatan tersebut sebenarnya tidak perlu dicantumkan. Tetapi pada perkembangannya orang perlu untuk menunjukkan satuan dari kecepatan yang dimaksud. Untuk di Indonesia berlaku menggunakan satuan km/jam sedangkan untuk negara-negara di Eropa banyak juga yang menggunakan mil per jam atau mph. Mengingat rambu itu diberlakukan di Indonesia, maka angka yang mestinya otomatis dipahami oleh pengguna jalan adalah dengan menggunakan satuan km/jam. Dimensi kecepatan adalah jarak dibagi kecepatan seperti telah disebutkan di atas berupa km/jam atau mph.

Kenyataannya sekarang ini sering terjadi salah kaprah. Pembuat rambu ada yang mencantumkan besaran satuan untuk melengkapi angka batasan, namun yang ditulis hanya berupa “km” saja. Tidak tahu mengapa hanya besaran jarak saja yang ditulis, apakah karena ketidaktahuan atau hanya untuk menghemat ruang pada rambu yang tersedia. Secara fisika kalau hanya pencantuman besaran jarak saja akan keliru, karena akan sangat berbeda dengan besaran kecepatan. Kalau orang yang teliti, maka dapat memberikan interpretasi bahwa rambu tersebut menunjukkan bahwa ruas jalan itu memiliki panjang 10 kilometer misalnya. Padahal yang dimaksud adalah batasan kecepatan yang diperbolehkan di jalan tersebut adalah maksimal 10 km/jam.

Untuk kasus yang terjadi di wilayah kampus UGM, rambu yang terpasang adalah “10 km”. Foto berikut menunjukkan rambu yang terpasang di dua tempat, yakni lokasi di pintu gerbang utama arah ke boulevard dan di jalan eksakta (antara fakultas farmasi dan fakultas MIPA).

 Rambu kecepatan boulevard ugm

Justru informasi yang kecepatan yang benar dan tepat adalah pada rambu sementara di perempatan fakultas Kedokteran Gigi, seperti pada foto di bawahnya. Meskipun tentu saja jenis pilihan rambu yang digunakan yang bukan standar. Jadi siapa yang harus belajar dalam hal ini.

Rambu kecepatan fkg ugm 

Kalau ini rambu yang terpasang di perumahan Kanoman, tempat tinggal saya. Di rambu ini yang terpasang juga cuma satuan km saja. Kalau merujuk ke panjang gang, itu bukan perumahan besar, jadi hanya berupa gang buntu dengan panjang tak sampai 200 meter.

 rambu kecepatan Perumahan Kanoman

Jangan-jangan kebiasaan salah ini lama-lama akan dianggap biasa.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s