Tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf) telah dikenal sebagai tanaman produktif yang dihasilkan di beberapa wilayah di Indonesia. Tanaman yang secara fisik dapat dikenali mirip dengan tanaman sereh wangi atau sereh, dan dapat tumbuh di berbagai wilayah dengan ketinggian dpl relatif bervariasi. Sentra tanaman ini adalah di daerah Garut atau di Gunungkidul. Produk yang diambil dari tanaman ini adalah akar dari tanaman yang sudah cukup umur. Dari akar tanaman ini dapat diperoleh komponen minyak atsiri yang memiliki bau harum dan memiliki komoditas tinggi. Untuk dapat memanennya tentu saja dapat dilakukan setelah tanaman cukup umur, yakni tanaman harus dicabut dan diambil dari tanah sehingga sistem perakaran dapat dipanen.

tanaman akar wangiMinyak atsiri dapat diperoleh dari bahan baku akar tanaman minyak wangi ini dengan jalan destilasi atau ekstraksi pelarut. Kadang ada juga yang menjual akar wangi ini dalam bentuk akar yang sudah dibersihkan dan dirapikan. Hal ini dapat dilakukan karena akar ini masih dapat menyimpan bau wangi dalam jangka waktu cukup lama, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengharum ruangan atau lemari dengan jalan digantung di posisi yang diinginkan. Perkembangan lebih lanjut, akar wangi dapat diolah lebih lanjut menjadi suatu bentuk kerajinan tangan, dengan jalan dianyam menjadi beberapa macam produk seperti taplak meja, aneka bentuk patung, kotak tempat tisu, dan lain-lain.

Berbeda halnya dengan tanaman sereh wangi dimana bahan minyak atsirinya banyak dikandung di dalam daun, maka akar wangi harus diambil dari akarnya. Untuk tanaman sereh wangi, pemanenan dapat dilakukan dengan memangkas daun dari tanaman, sementara tanaman masih dapat hidup untuk proses pertumbuhan berikutnya. Dengan demikian budidaya tanaman ini dapat dilakukan dengan lebih efektif mengingat pemanenan dapat dilakukan lebih dari satu kali. Tanaman akar wangi tidak mungkin dilakukan dengan cara yang sama. Proses pemanenannya mengharuskan tanaman harus dicabut dan untuk yang berikutnya harus ditanam kembali menggunakan bibit baru. Tentu saja dengan jalan ini kadang tidak menarik minat para petani atau pemilik tanah untuk membudidayakan jenis tanaman ini.

Untuk dapat memancing gairah petani menanam ini telah banyak dilakukan cara baik oleh pengguna tanaman (seperti produsen minyak atsiri atau pengrajin akar wangi) maupun oleh pemerintah melalui dinas terkait. Dengan stabilnya harga produk akar wangi tentu saja mestinya hal ini dapat menjamin penyerapan produk panen tanaman akar wangi ini. Selain itu arahan juga dilakukan untuk memanfaatkan lahan pertanian yang kurang produktif untuk digunakan sebagai lahan budidaya tanaman akar wangi ini. Namun demikian tanaman ini kadang juga tetap tidak menarik, karena secara alamiah tanaman ini juga memiliki karakteristik memerlukan kebutuhan air dalam jumlah cukup besar dan cenderung merusak kontur tanah. Dengan demikian di masa depan, dapat terjadi pasokan akar wangi akan mengalami kendala.

Apabila dilihat dari proses pemanenan akar wangi ini, menimbulkan pemikiran bahwa dimungkinkan suatu cara yang dapat diterapkan sehingga tanaman ini dapat dipanen lebih dari satu kali. Untuk cara konvensional mungkin dapat dilakukan mirip dengan pola pemangkasan akar pada tanaman hias di pot. Pada langkah ini setiap periode tertentu, tanaman dicabut dari pot dan kemudian dilakukan pemangkasan akar, akar utama disisakan untuk menjamin pertumbuhan tanaman di waktu berikutnya. Permasalahan yang mungkin dihadapi adalah pencabutan tanaman akan menyulitkan karena di ladang tanaman tidak ditanam di pot, jadi pencabutan akan memerlukan tenaga ekstra daripada kalau pencabutan tanaman dari pot. Selain itu jenis akar tanaman yang berupa akar serabut juga akan memerlukan tenaga ekstra dan dapat menyebabkan tanaman stres saat dicabut dengan kuat ini. Setelah sebagian akar tanaman diambil dengan menyisakan sistem perakaran utama maka tanaman dapat ditanam kembali. Dengan cara seperti ini kemungkinan daya tumbuh tanaman untuk periode berikutnya akan semakin kecil. Perawatan yang dapat dilakukan seyogyanya adalah mengurangi jumlah daun pada periode tanaman berikutnya, dan tentu saja dari sisi pertanian maka aspek pemupukan dan perawatan tanaman tetap harus dijaga.

Apabila ditinjau lebih lanjut, dimungkinkan untuk membuat sistem teknologi tepat guna dalam bentuk desain pot yang dibuat khusus untuk tujuan pemanenan akar secara mudah dan tanpa mengakibatkan efek kematian tanaman akibat pemanenan akar. Cara yang paling mungkin adalah dengan membuat pot dengan sistem berlubang dimana perakaran dapat keluar dari pot tersebut. Model memungkinkan keberadaan tanah di luar pot dan penyediaan nutrient yang dapat tetap terserap oleh sistem perakaran. Saat pot diangkat maka tanaman tetap dapat terjaga dalam pot, perakaran seluruhnya dapat ikut tercabut dan terangkat. Untuk perakaran di luar pot maka akan terlihat menggantung di udara dan dapat dipotong untuk diambil. Bagian akar inilah yang dipanen untuk dimanfaatkan, selanjutnya tanaman dalam pot dapat dikembalikan lagi ke tempat semula untuk dibiarkan tumbuh kembali. Risiko kematian tanaman akibat pemangkasan akar dengan sistem ini akan dapat ditekan, mengingat tanaman tidak dicabut dari pot.

Dengan jalan seperti ini sangat dimungkinkan untuk pemanenan atau pengambilan akar wangi dari tanamannya untuk selama beberapa periode. Tentu saja dalam hal ini diperlukan suatu kajian lebih lanjut untuk melihat tingkat adapatasi tanaman akibat pengaruh pemotongan. Selain itu juga perlu dilihat tingkat kualitas akar wangi yang dihasilkan dengan jalan ini apakah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas atau tidak. Bagaimana dengan sistem pot yang dibuat tentu saja diperlukan kreativitas untuk menjaga kualitas pertumbuhan tanaman.

Kalau sudah seperti ini mestinya sudah jadi wewenangnya orang pertanian atau agronomi untuk melanjutkan kajian seperti ini. Kalau ada yang tertarik boleh mengajak saya meneliti lebih lanjut, saya bisa share kajian aspek kimianya.
<

 

Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. Santi berkata:

    Apakah tanaman sereh mempunyai bunga dan apa kegunaanny..?

    • Iqmal berkata:

      hehe… pertanyaannya unik juga…
      Tanaman sereh kan bereproduksi secara vegetatif, jadi lebih banyak pakai tunas pangkal atau anakannya. Kalau ditanya soal ada bunga atau tidaknya, saya malah belum pernah melihat bunga sereh (maupun sereh wangi atau tanaman akar wangi), karena jarang sekali ada. Kalau ilalang malah ada.
      Informasi tambahan soal bunga sereh, memang ada berbentuk bulir tetapi relatif jarang. Hal ini langsung dibaca sendiri di :
      http://toiusd.multiply.com/journal/item/72/Cymbopogon_citratus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s