Artikel dimuat di kolom Suara Warga (Suara Merdeka Online)
tanggal 7 November 2009.

 

Berikut mungkin pengalaman pribadi saya yang perlu dapat diketahui bersama dan untuk dapat menjadi bahan kewaspadaan kita.

Saat tinggal di asrama yang belum ada dapurnya dan di kamar juga tidak boleh memasak, maka semua pemenuhan kebutuhan dalam hal makan harus diatasi dengan jalan membeli jadi. Pada keadaan tertentu, saya lebih suka memilih membeli makanan untuk dibawa dan dimakan di rumah. Kalau dimakan di tempat, dihitung jatuhnya akan lebih mahal karena harus membeli minuman juga.

Makanan yang dipesan disini, ada warung makan yang sudah siap masak atau ada yang harus memasak terlebih dahulu menyesuaikan dengan pesanan. Untuk warung dengan makanan siap saji, pelayan akan membungkus nasi dan lauk sesuai yang dipesan. Untuk warung dengan makanan yang dimasak dahulu, tentu saja pembeli harus menunggu masakan diolah dulu dan setelah siap lalu dikemas. Tentu saja kalau masakan yang ini terasa lebih fresh karena baru saja dimasak dan masih terasa panas. Tetapi justru masalah panas inilah yang ternyata menyebabkan satu permasalahan baru.

Tiap-tiap warung, cara pengemasan makanannya juga berbeda-beda. Kalau di Indonesia, ada yang menggunakan daun pisang atau kertas minyak. Di negara tetangga sini, lebih banyak menggunakan plastik yang ditaruh di atas kertas koran. Untuk makanan yang berkuah, menggunakan kemasan plastik. Namun ada juga yang menggunakan kemasan styrofoam untuk mengemas makanan.

Kemasan styrofoamSeperti diketahui bahwa disini banyak sekali jamuan atau pesta dengan banyak pengunjung. Dalam menjamu tamu tersebut, biasa juga digunakan gelas, piring atau mangkok yang terbuat dari styrofoam. Bahan yang sama juga ada dalam bentuk wadah kotak yang bisa ditutup, sehingga praktis untuk menaruh makanan. Jadi bahan styrofoam ini sangat popular sekali untuk digunakan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini, styrofoam juga dipilih oleh beberapa kedai makan sebagai tempat menaruh makanan yang dipesan untuk dibawa pulang.
Saya sering mencoba beberapa tempat makan untuk mencari yang sesuai dengan lidah Jawa saya. Ada satu tempat yang kebetulan memang cocok dan enak masakannya. Tapi kalau ke warung makan tersebut, saya terpaksa harus makan di tempat karena pernah punya pengalaman mengerikan saat pesan makanan untuk dibawa pulang. Hal ini terkait dengan styrofoam juga. Saya membeli nasi goreng dan telur dadar. Setelah siap, saya melihat makanan yang dipesan dan dikemas dalam dua wadah styrofoam. Setelah saya bayar dan dibawa ke rumah, saya terperanjat begitu membuka tas, karena ada cairan yang tumpah. Dalam bayangan saya, tadi mungkin miring, sehingga ada kuah yang tertumpah. Tetapi kemudian ingat kembali bahwa saya hanya memesan nasi goreng dan telur dadar, darimana cairan ini ? Begitu diamati, tampak lebih parah lagi karena ternyata kemasan styrofoam itu berlubang di beberapa bagian karena meleleh. Bahan styrofoam ini ternyata meleleh setelah terkena minyak dari telur dadar yang dimasukkan ke dalamnya pada saat masih panas. Akhirnya karena sudah malam dan lapar tentu saja makanan harus tetap dimakan sebagian saja, yang kira-kira tidak terkena lelehan styrofoam ini.

Iseng lebih lanjut, styrofoam tersebut kalau diperhatikan maka bagian yang meleleh adalah yang memang terkena panas cukup tinggi. Hal ini ditandai pada bagian yang kontak dengan telur dadah. Untuk panas yang tidak cukup tinggi, yaitu pada wadah nasi goreng, ternyta permukaannya juga di beberapa tempat menjadi semacam berlubang dan tidak rata lagi. Hal ini dapat dibayangkan jika telah terjadi lelehan juga walaupun cuma di bagian permukaan saja.

Foto styrofoam hangus

 Kemasan styrofoam itu terbuat dari polimer sejenis polystyrene (PS). Kalau di industri, dikenal sebagai plastik dengan kode angka 6. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang terdiri dari komponen monomer styrene. Styren dapat muncul dari styrofoam yang terbakar atau bahkan saat kontak dengan bahan yang masih panas saat terjadi kontak. Dari beberapa kutipan, diketahui bahwa styrene ternyata sangat berbahaya untuk kesehatan otak, dapat mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah kesehatan reproduksi, pertumbuhan dan sistem syaraf (wah bahaya nih, bisa-bisa jadi tidak mampu menulis artikel blog ini dong). Styrene adalah bahan yang relatif susah untuk didaur ulang.

Jadi tentu saja dengan pengalaman di atas, maka kita semua harus selektif untuk memilih kemasan makanan. Baik sebagai pembeli maupun sebagai penjual diperlukan kewaspadaan ini. Kemasan lain yang terbuat dari plastik juga sebenarnya berbahaya juga, walaupun mungkin tidak seperti styrofoam, tetapi juga harus diwaspadai. Kalau masih bisa menggunakan daun pisang maka lebih dianjurkan, Cuma karena kebutuhannya yang akan sangat besar tentu saja juga akan menjadi kendali lagi. Bisa saja pembeli selalu membawa wadah makanan dari rantang logam stainless atau aluminium, atau dapat juga dari jenis plastik yang lebih aman dan kuat panas. Hanya saja seringkali pembeli juga tidak mau direpotkan dengan membawa rantang ini sebelumnya.

Cara yang lebih dianjurkan tentu saja adalah dengan memperhatikan panas makanan yang akan dikemas, mungkin dibiarkan lebih dingin terlebih dahulu dan setelah hangat baru dimasukkan ke wadah. Cara ini merupakan pilihan yang paling mungkin diterapkan bagi warung-warung makan. Hanya saja pembelinya diminta lebih sabar lagi untuk menunggu makanannya jadi lebih dingin sedikit.

Pada akhirnya tentu saja kita sendiri yang harus memilih, bagaimana caranya untuk dapat selalu hidup sehat. Termasuk dalam hal penggunaan styrofoam dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ilustrasi gambar :

1. Styrofoam untuk bungkus makanan (sumber gambar dari link ini)

 Kemasan styrofoam

2. Styrofoam untuk tempat makan (ini diambil gambarya saat habis makan di food-court Bukit Merah)

 piring dan gelas styrofoam

Tulisan dapat dibaca juga di link : Deltu-blogspot.

Link yang berguna dapat diakses di sini.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s