Artikel dimuat di kolom Suara Warga (Suara Merdeka Online)
tanggal 10 November 2009.

Kalau dilihat dari judul tulisan tersebut di atas, mungkin pembaca mengira tulisan ini memprovokasi supaya anti dengan gerakan konversi minyak tanah dengan gas elpiji. Padahal justru dengan tulisan ini sebenarnya berharap orang agar lebih bijakasana dalam menggunakan bahan bakar elpiji ini.

Pemerintah sudah bertekad melakukan kebijakan sektor energi bagi masyarakat berupa konversi minyak tanah untuk dialihkan dengan penggunaan gas elpiji. Hal ini karena beban subsidi pemerintah untuk minyak tanah relatif cukup besar dan perlu dikurangi. Kebijakan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penyediaan gas elpiji kemasan 3 kg untuk melengkapi kemasan elpiji sebelumnya yang tersedia dalam ukuran 12 kg untuk konsumsi rumah tangga dan 50 kg untuk industri. Setelah adanya kebijakan konversi gas elpiji ini, kalangan rumah tangga dan berasal dari golongan tidak mampu mendapatkan bantuan berupa tabung gas, kemudian semakin banyak pihak yang mulai terbiasa dengan menggunakan gas ini. Pertamina sebagai pelaksana tunggal (kalau tidak boleh disebut pemiliki monopoli) pengelolaan dan distribusi gas elpiji ini, pada akhirnya secara bertahap terus menaikkan harga jual gas elpiji ini. Masyarakat sebagai konsumen inilah yang akhirnya mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kebijakan harga yang ditetapkan produsen tunggal ini. Cara paling baik sebagai konsumen tentu saja adalah sedapat mungkin berhemat di dalam mengkonsumsi gas elpiji sebagai bahan bakar di rumah tangga mereka masing-masing.

Tips hemat menggunakan gas elpiji untuk bahan bakar di rumah sudah banyak diulas di berbagai sumber baik di surat kabar cetak maupun elektronik. Beberapa tips hemat elpiji tersebut antara lain adalah :

  • Mengatur nyala api sesuai keperluan, jadi jangan sampai terlalu besar sehingga nyala api melewati wadah yang sedang dipanasi.
  • Usahakan untuk selalu mengatur klep udara sehingga nyala api selalu berwarna biru.
  • Cek apakah ada bau tajam yang muncul pada saat kompor tidak digunakan, bau ini mengindikasikan adanya kebocoran gas.

Sebenarnya ada satu tips lagi menghemat gas elpiji ini. Tips tersebut adalah setiap membeli gas, jangan bilang mau beli satu tabung gas, tapi bilang mau beli tiga koilo atau dua belas kilo gas elpiji. Mengapa demikian ? Simak saja penjelasan berikut.
Untuk diketahui elpiji adalah pelafalan dari huruf LPG yang merupakan singkatan bahasa Inggeris dari Liquified Petroleum Gas atau fraksi gas dari minyak bumi yang dicairkan. Elpiji kalau dipasarkan dalam bentuk gas akan tidak efisien, oleh karena itu dibuah menjadi bentuk fase cairnya. Untuk keperluan ini elpiji dipasarkan dengan menggunakan tabung logam tahan tekanan tinggi. Fraksi gas ini terdiri dari komponen gas hidrokarbon terutama adalah propana, butana atau pentana. Untuk faktor keamanan tabung gas, maka biasanya tabung hanya diisi sekitar 80 % saja dari volume tabung total, yang tujuannya adalah untuk mengantisipasi penguapan gas akibat terjadinya ekspansi thermal.

Apabila bahan berfasa gas, maka ukuran kuantitatif dinyatakan dalam ukuran tekanan (dalam satuan atm atau bar) untuk sejumlah volume tertentu (misal dalam tabung dengan ukuran standar). Untuk bahan berfase cair ini dapat digunakan ukuran volume atau berat. Apabila akan menggunakan ukuran tekanan, maka diperlukan manometer dalam jumlah banyak sesuai dengan tabung. Meski relatif lebih tepat, akan tetapi harganya menjadi tidak ekonomis lagi dan tidak sesuai untuk tujuan konsumsi masyarakat banyak. Mengingat tabung elpiji terbuat dari logam yang tebal tentu saja tidak dapat dilakukan dengan ukuran volume, dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan ukuran berat. Saat ini tabung standar yang tersedia di pasaran adalah untuk ukuran elpiji 3, 12 dan 50 kg. Ukuran 50 kg hanya digunakan untuk keperluan energi bagi industri, sedangkan ukuran 3 dan 12 kg digunakan untuk konsumsi rumah tangga atau industri kecil.

Cara mengetahui berat elpiji ini adalah dengan mengetahui berat tabung kosong dan berat tabung setelah isi elpiji. Berat tabung kosong bisa dicetak pada bagian luar tabung. Dengan demikian berat total seharusnya selalu adalah berat yang tertera pada tabung tersebut ditambah dengan berat gas. Hal ini seharusnya perlu dan harus disosialisasikan lebih banyak lagi bagi para masyarakat luas.

Dengan adanya pemahaman ini mestinya praktek kecurangan pencurian elpiji oleh oknum penyalur atau pedagang elpiji dapat dihindari. Konsumen harus lebih jeli dan kritis pada saat membeli elpiji dengan selalu mengecek ulang berat elpiji yang dibeli. Jadi mereka hendaknya paham bahwa mereka membeli elpiji adalah sesuai dengan beratnya, bukan membeli elpiji satu tabung tetapi tidak tahu beratnya berapa. Kalau harga elpiji sudah ditetapkan per kilo, masyarakat diingatkan untuk mengecek berat tersebut. Jadi kalau ternyata beratnya ternyata kurang dari yang seharusnya maka tentu saja konsumen harusnya juga berhak untuk membayar per kilo elpiji yang ada dalam tabung itu saja.

Praktek pencurian elpiji dengan modus pengurangan sebagian isi elpiji dalam tabung sudah banyak diberitakan dalam berbagai media pemberitaan. Oknum pelaku ini ini mengurangi isi elpiji biasanya sekitar 2-3 kg untuk elpiji dalam tabung 12 kg atau sekitar 0,5 – 1 kg untuk tabung 3 kg. Elpiji yang diambil ini diambil untuk dipindahkan pada tabung kosong lainnya. Dapat dibayangkan berapa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan pencurian ini, sekaligus dibayangkan juga krugian dari konsumen yang membeli elpiji dalam tabung dengan isi yang kurang dari isi sebenarnya.

Dengan adana fenomene ini, sebenarnya ada peluang lain bagi para penjualnya. Mereka akan mendapatkan kesan positif dari pembelinya dan mungkin akan bertambah jumlah pelanggannya jika pada saat melaksanakan transaksi jual beli, mereka memberikan pelayanan ekstra yakni dengan menunjukkan pada pembelinya berapa isi elpiji yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan proses penimbangan ulang tabung elpiji di depan konsumen. Dari sini konsumen akan tahu secara nyata kuantitas gas elpiji yang akan dibeli.

Cara ini mestinya juga dapat diatur melalui kebijakan Pertamina bagi para distributor atau pengecer gas elpiji. Jika Pertamina saat ini dapat memberikan sertifikat Pasti Pas bagi SPBU yang memenuhi standar pelayanan dan penjualan BBM sesuai kriteria Pertamina, maka mestinya Pertamina juga dapat menerapkan prosedur yang srupa bagi pihak penjual elpiji.

Pada akhirnya masyarakat selaku konsumen akan memperoleh elpiji sesuai dengan yang dibelinya. Dan di masa mendatang berita tentang pencurian isi elpiji dalam tabung oleh oknum pengecer sudah tidak akan menghiasi media lagi. Kalau pencurian tabungnya, mungkin sih masih tetap saja.

Ilustrasi :

Tabung gas elpiji dan label tertera yang menunjukkan berat kosong tabung gas.

(Sumber gambar dari link ini)

tabung gas elpiji

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s