Kepedulian instansi pemerintah untuk ikut peduli dalam program hemat energi yang ditujukan untuk ikut mengurangi laju pemanasan global patut diacungi jempol. Dalam tingkat pelaksanaan di lapangan banyak hal yang sudah dilakukan dengan berbagai jenis aksi dan program nyata. Namun terkadang hal ini masih perlu dilakukan kajian dari sisi efektivitas langkah tersebut apakah dapat menuai hasil atau tidak. Hal ini sebenarnya cukup relevan jika dikaitkan dengan berbagai porgram serupa lain dimana kegiatan ini membutuhkan perubahan pola kebiasaan dari masyarakat yang biasanya kemudian berakibat program macet dan tidak terlaksana dengan baik.

traffic light dari web yogyaPada tulisan ini saya menyorot langkah yang dibuat oleh otoritas jalan raya berupa anjuran untuk mematikan mesin saat lampu merah. Program ini dibuat untuk menghemat penggunaan bahan bakar yang digunakan pengguna kendaraan bermotor saat kendaraan berhenti karena terkena giliran lampu merah.

Anjuran yang ada adalah berupa pesan untuk mematikan mesin saat lampu merah dan menghidupkan kembali mesin setelah lampu merah tersisa 20 detik. Secara sepintas hal ini cukup baik dan logis untuk diterapkan. Dengan mematikan mesin maka mesin tidak beroperasi dan tentu saja tidak ada bahan bakar yang dibakar untuk menjalankan mesin. Dapat dibayangkan bila jumlah kendaraan yang ada cukup banyak dan tentu saja bahan bakar yang dapat dihemat secara total menjadi banyak. Idealnya seperti itu. Akan tetapi kalau dilihat lebih jauh banyak hal yang menjadi pertanyaan dan perlu dikaji lebih jauh tentang sisi efektivitas anjuran ini.

Anjuran mematikan yang terpampang di APILL.

Anjuran mematikan yang terpampang di APILL.

 

Kutipan dari website pemkot Yogyakarta :

Apabila diasumsikan kendaraan yang berhenti di Simpang 4 Pingit pada saat signal merah sebanyak 5 mobil dan 5 motor pada masing-masing lengan, dan kebutuhan BBM untuk 5 motor sebanding dengan 1 mobil, maka selama 1 tahun dapat dihitung sebanyak =
6 kendaraan x 3 lengan x (60 menit/2 menit) x 24 jam x 365 hari = 3.730.400 kendaraan yang mematikan mesin.
Jika tiap kendaraan yang berhenti mematikan mesin selama 30 detik, maka dalam 1 tahun terdapat 30x 4.730.400 = (141.912.000dtk/3600dtk) = 39.420 jam kendaraan yang mematikan mesin.
Jika diasumsikan mesin mobil yang hidup selama 1 jam rata-rata menghabiskan BBM 1 liter, maka dalam satu simpang selama 1 tahun akan menghemat 39.420 X 1 = 39.420 liter/simpang. 

Sekarang misalkan kalau hal itu kita lihat realitas di jalan, banyak sekali pertimbangan dari para pengguna jalan terhadap anjuran tersebut. Pengguna paling mudah untuk mengikuti anjuran tersebut adalah para pengendara sepeda motor. Begitu berhenti saat lampu merah, mereka dapat segera mematikan mesin. Walaupun kenyataannya kadang untuk pengendara sepeda motor, mereka lebih suka berjalan pelan sambil merapat menemukan ruang kosong di antara kendaraan lain sehingga dapat mencapai sedekat mungkin ke arah depan. Kalau mesin sudah mati, mestinya hal ini sudah harus berhenti di posisi tersebut saja. Untuk mendorong mungkin sudah malas. Untuk pengguna jenis kendaraan lain mungkin banyak sekali pertimbangannya.

Untuk mobil yang menggunakan pendingin udara, jelas pengemudi tidak akan mematikan mesinnya. Sebenarnya kalau mesin dimatikan, bisa saja pendingin tetap hidup dengan menggunakan sumber energi dari aki, tetapi hal ini akan mengakibatkan aki akan cepat habis. Jadi hal ini tidak akan dilakukan. Kalau mesin dimatikan dan pendingin dimatikan, maka tentu saja di dalam mobil akan terasa panas. Kenyamanan dalam hal ini akan menjadi prioritas, jadi mereka mungkin akan memilih mesin tetap hidup untuk menjalankan pendingin. Alternatif lain untuk mengurangi panas jika pendingin dimatikan maka jendela harus dibuka. Tetapi jika kemudian setelah mesin berjalan, pendingin dihidupkan kembali, disini juga terjadi pemborosan energi untuk menghidupkan pendingin sehingga dicapai temperatur dalam kabin yang sejuk kembali. Apalagi jika hal ini dilakukan berulang-ulang di setiap perempatan, pengemudi harus mematikan mesin dan pendingin, membuka jendela, kemudian setelah lampu hijau, menyalakan mesin dan pendingin, menutup jendela kembali. Dapat dibayangkan betapa tidak praktisnya langkah ini. Lagipula kalau jendela dibuka di simpang jalan, hal ini dapat memancing kerawanan berupa aksi penodongan. Kecuali jika keamanan di setiap simpang jalan sudah cukup terjamin.

Ada beberapa kendaraan yang memerlukan teknik sendiri untuk menghidupkan mesin. Hal ini mungkin akan menjadi pertimbangan pengendaranya untuk tidak mematuhi anjuran itu. Misalkan untuk pengemudi kendaraan roda empat bermesin diesel, cara menghidupkan mesin adalah dengan memanaskan bagian koil di saluran bahan bakar yang biasa ditunjukkan dengan pemanasan kumparan sebagai indikatornya. Perlu waktu sekitar 5-10 detik untuk langkah ini. Dapat dibayangkan sangat tidak praktisnya jika hal ini harus dilakukan berulang-ulang.

Demikian juga berlaku untuk kendaraan tua dimana menghidupkan mesin susah, maka mungkin bagi pengendaranya akan menjadi pertimbangan untuk tidak mematuhi anjuran itu. Untuk sepeda motor jenis lama yang belum lagi menggunakan starter elektrik. Cara mematikan harus manual dengan kunci sedangkan untuk menghidupkan mesin harus ditendang kick starternya. Mungkin hal ini menyebabkan pengendara akan malas mematikan, karena diperlukan aktivitas tambahan. Sepeda motor jenis 2 tak kadang harus di-‘chuck’ dulu untuk dapat hidup, walaupun sebenarnya kalau sudah jalan dan mesin sudah panas tidak lagi. Untuk bis kota tua yang menghidupkan mesinnya saja harus didorong, maka pilihan mematikan mesin jelas harus dihindari. Perlu diketahui bis kota dan angkutan umum usang sekarang banyak yang masih bertahan, dimana kondisinya kadang hanya sudah asal bisa jalan saja. Termasuk dalam hal cara menghidupkan mesinnya saja yang harus perlu dipancing dengan jalan didorong karena perawatan onderdilnya sudah kurang lagi dijaga oleh pemilik kendaraan tersebut.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan di atas, maka bisa jadi anjuran untuk mematikan mesin ini menjadi tidak efektif. Untuk dapat menghemat energi mungkin perlu dipikirkan alternatif lain yang tetap memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan raya sementara kelancaran lalu lintas tetap berjalan. Beberapa langkah yang mungkin dapat diambil antara lain adalah :

  • Alternatif pengaturan lama waktu nyala lampu merah.

Dengan menggunakan sistem embeded komputer maka pengaturan nyala lampu dapat diatur secara otomatis berdasarkan pertimbangan waktu dan jumlah kendaraan yang lewat. Jalur dimana sangat sibuk pada waktu-waktu tertentu di suatu lokasi simpang dengan traffic light ternyata memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dengan kajian survey awal maka dapt ditentukan kondisi optimum untuk pengaturan waktu jalan dan berhenti yang perlu diberlakukan di simpang jalan tersebut.

Demikian juga untuk situasi dimana jumlah simpang dengan traffic light sangat berdekatan, seperti di kota Yogya, maka pengaturan waktu antara simpang satu dengan simpang yang lain perlu diintegrasikan. Dengan demikian akan terjadi kelancaran arus lalu lintas yang normal dan tidak menyebabkan terjadinya semacam bottle neck pada suatu simpang jalan karena pengaturan lampu traffic light yang tidak terintegrasi.

  • Pengurangan jumlah traffic light

Untuk kota dengan ruas jalan terbatas dan dengan jumlah simpangan yang banyak maka keperluan pemasangan traffic light ini menjadi besar. Kendalanya adalah hal ini akan berbanding terbalik dengan kelancaran lalu lintas. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan secara matang, simpang mana yang harus dipasang dan simpang mana yang tidak perlu dipasang. Pengurangan jumlah traffic light ini dapat diatur dengan alternatif penggunaan bundaran jalan. Cara lain adalah dengan pengaturan arah lalu lintas dan larangan berbelok pada simpang-simpang tertentu.

  • Pembuatan jalan layang atau fly over.

Langkah ini tentu saja akan memerlukan investasi lebih banyak untuk pembangunan infrastruktur yang diperlukan. Tetapi dampak yang dihasilkan jauh lebih besar dan memberikan kelancaran lalu lintas yang sangat kentara. Sebagai contoh saat ini untuk di Yogyakarta, dapat dibangun fly over di sepanjang Ringroad utara mulai dari perempatan jalan Magelang sampai Maguwo. Kepadatan lalu lintas di jalan tersebut dipercaya akan berkurang banyak dengan adanya fly over ini. Demikian juga diperlukan di jalan tengah kota yang membujur timur-barat atau utara-selatan.

Pada akhirnya tulisan ini dibuat hanya berdasarkan kacamata saya saja yang awam soal lalulintas, hanya kepedulian untuk ikut urun rembug saja, siapa tahu hal ini bisa jadi pertimbangan buat para pembuat kebijakan dan pelaksana pengelola jalan.

Intermezzo :

  • Anjuran untuk mematikan mesin dipasang dengan menggunakan display panel elektronik yang memerlukan bahan bakar listrik. Hal ini kontradiksi dimana pesan yang ditampilkan bertujuan untuk menghemat energi tetapi media penyampaian pesan justru menghambur-hamburkan energi juga. Bisa saja si pembuat berkilah bahwa papan display dibuat dari media panel dengan lampu LCD yang hemat listrik sementara listrik juga dipasok dari energi matahari. Argumentasi lebih lanjut, panel itu juga dapat dibuat untuk menampilkan pesan lain selain anjuran mematikan mesin saat lampu merah, seperti pesan tentang keselamatan di jalan raya. Akan tetapi kalau konsisten dengan tujuannya, mestinya panel dapat dibuat secara konvensional dengan menggunakan rambu seperti lambu lalu lintas biasa. Biaya pengadaan dan operasional mungkin akan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan panel elektronik itu.
  • Pertanyaan : Kalau misalkan ada orang yang datang dekat rambu petunjuk informasi itu pada saat angka masih menunjukkan 27 detik, kira-kira tindakan apa yang diambil oleh orang tersebut ?

Iqmal Tahir

ps. Silakan baca tulisan terkait : Anjuran Mematikan Mesin Bus di Terminal

One response »

  1. […] Silakan baca tulisan terkait : Anjuran Mematikan Mesin Saat Lampu Merah Rate this: Bagikan lewatFacebookEmailTwitterPrintLike this:SukaBe the first to like this post. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s