Artikel dimuat di kolom Kompasiana – Harian Kompas Online
tanggal 5 Desember 2009.

Salah satu kekhawatiran dokter gigi di Indonesia adalah banyak orang di masa kini karena giginya rusak karena sering mengkonsumsi permen. Darimana kebiasaan ini muncul, ternyata adalah karena banyak orang sering mengunyah permen yang sebenarnya dia tidak ingin beli, tetapi terpaksa dapat karena memperoleh sebagai pengganti uang kembalian recehan setiap kali belanja di supermarket. Mungkin itu pengantar ringan untuk artikel yang membahas tentang mudahnya pihak kasir memberikan permen sebagai pengganti uang receh.

Kasir supermarketBelanja mungkin merupakan jadi aktivitas rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belanja barang dapat dilakukan dengan berbagai cara, kalau dulu belanja sering dilakukan di pasar atau toko-toko eceran biasa, tetapi dengan perkembangan waktu, belanja sudah banyak dilakukan di supermarket atau toko-toko besar. Pola pergeseran tempat lokasi belanja ini ternyata juga menimbulkan perbedaan budaya juga. Salah satunya adalah soal harga, yakni situasi harga di pasar yang relatif fleksibel dan berlangsung lebih interaktif dan sangat berbeda dengan status harga di supermarket dimana harga sudah fix tertera di label. Bahkan orang yang belanja di pasar kadang dapat menawar, kalau di supermarket pembeli hanya bisa berharap dari adanya diskoun yang tertera pada saat akan membeli.

Ada kondisi tertentu dimana saat pembeli membayar barang belanjaannya kemudian membayar dengan uang lebih. Konsekuensinya adalah penjual harus mengembalikan sisa uang yang ada. Permasalahannya adalah tidak selalu penjual atau kasir di supermarket memiliki uang receh untuk pengembalian. Dalam hal ini tentu saja penjual harus memiliki kewajiban untuk mengupayakan uang kembalian tersebut sehingga transaksi jual beli sah.

Untuk pasar tradisional, penjual sering mensiasati permasalahan uang kembali yang belum ada ini dengan berbagai langkah kekeluargaan. Langkah yang pertama adalah membulatkan harga ke pecahan yang lebih rendah sehingga kembalian dapat dibulatkan ke uang pecahan yang dipunyai dan itu digunakan sebagai alat kembalian. Pembeli akan merasa senang karena seolah-oleh itu sebagai diskoun dan penjual juga tidak merasa rugi karena sebenarnya dia sudah tetap dapat untung serta dapat berharap pembeli itu akan datang kembali. Jika memang uang tidak ada maka dia menawarkan kepada pembeli untuk memberi tambahan barang sejenis yang dibeli tanpa ditimbang hanya dengan kira-kira saja semacam bonus tambahan bagi pembeli. Tetapi hal ini berlaku hanya untuk barang-barang kecil macam sayuran dan bahan lain yang belum dikemas. Pembeli juga tidak berkeberatan karena barang yang diterima sama dengan yang memang dibelinya saat itu.

uang koin receh

Berbeda kasusnya jika terjadi pada supermarket. Transaksi pembayaran terjadi pada pembeli dan kasir dimana kasir berstatus bukan pemilik dan hanya bertanggung jawab pada transaksi kas uang pembelian yang ditangani pada saat itu. Harga barang-barang yang diperjualbelikan di toko sudah ditentukan berdasarkan label harga dan umumnya dijual dengan satuan tertentu, misalnya per kilo, per unit, per pak dan lain-lainnya. Di supermarket tidak ada lagi barang yang dijual bisa dijumput tanpa dikira harganya secara pasti. Pada proses pembayaran, masalah uang kembalian ini seringkali terjadi lagi. Kasir sebenarnya sudah selalu menyediakan uang receh untuk kembalian, tetapi tetap sering terjadi masalah pengadaan uang kembali ini terjadi. Saat ini banyak dijumpai penyelesaian sepihak oleh supermarket dengan memberi uang kembalian dalam bentuk permen. Jika uang kembalian uang kurang dari lima puluh rupiah maka akan dapat satu buah permen atau jika kurang dari seratus rupiah maka akan dapat dua buah permen.

Dilihat sekilas, maka transaksi ini terlihat sudah sah. Lagipula uang kurang seratus rupiah saat ini mungkin sudah terbilang sangat kecil. Akan tetapi ternyata hal ini juga menimbulkan dampak lebih lanjut. Budaya ini ditiru oleh lebih banyak toko dan supermarket lain sehingga sudah menjadi semacam kebiasaan yang boleh diberlakukan. Pembeli sebagai konsumen sudah dapat menerima. Ternyata dari bukti adanya komplain melalui surat pembaca yang mempermasalahkan permen sebagai alat ganti uang receh untuk kembalian, berarti sebenarnya ada banyak pembeli yang tidak sebenarnya menerima dengan terpaksa langkah ini.

Banyak hal yang menyebabkan terjadinya masalah ini. Salah satunya adalah saat ini banyak supermarket menawarkan harga psikologi yakni harga yang kurang sedikit dari harga pembulatannya. Di tengah kompetisi, banyak supermarket bersaing untuk memberikan harga seolah-olah serendah mungkin di mata pembelinya. Dapat dibayangkan jika pembeli disuruh membeli barang dengan harga di toko A adalah Rp 4.000,00 dan di toko B adalah Rp 3.990,00 maka dia relatif akan membeli di toko B, walaupun harganya hanya selisih Cuma sepuluh rupiah. Harga psikologis ini cenderung juga menyebabkan pembeli untuk terdorong membeli barang walaupun barang itu mungkin tidak jadi prioritas. Hal ini dapat terjadi misal pada kasus harga barang yang seharusnya berharga di atas Rp 10.000,00, tetapi oleh toko Cuma diberi harga Rp 9.990,00, maka orang akan terdorong untuk membeli, meski sebenarnya kalau dibandingkan relatif hampir tidak berbeda jauh. Kondisi harga seperti ini kalau menyebabkan transaksi akan menyebabkan kesulitan dalam hal uang pengembalian, mengingat saat ini sudah tidak ada lagi uang sepuluh rupiah.

Dari sisi lain, sebagai pelaksana otoritas keuangan negara, Bank Indonesia sudah banyak menarik uang pecahan kecil dan kemudian menerbitkan uang pecahan baru dengan nominal lebih besar. Tahun 2009 ini sudah muncul uang nominal dua ribu rupiah menyusul beberapa tahun sebelumnya berupa uang logam dua ratus dupiah. Dengan naiknya nominal dari uang pecahan yang ada saat ini relatif mendorong tingkat inflasi juga dan pergeseran harga. Sementara uang pecahan dengan nominal di bawahnya akan semakin kurang berharga dan peredarannya di masyarakat akan semakin berkurang. Kondisi jumlah uang pecahan yang semakin berkurang ini menyebabkan kesulitan pihak kasir untuk selalu dapat menyediakan uang kembalian dalam jumlah yang mencukupi.

Pengembalian untuk transaksi yang sering memerlukan uang kecil memang paling mudah diganti oleh kasir yang tidak memiliki uang itu dengan menggunakan ganti berupa memberikan permen sebagai ganti uang receh. Bagi konsumen, sebenarnya hal ini jauh dari rasa keadilan. Pembeli kadang memang tidak menginginkan permen itu. Kalau memang ingin permen mengapa tidak bisa memilih jenis dan merk permen yang diinginkan. Lagipula dapat saja supermarket tidak ingin rugi misal dengan memberikan dari stok permen yang tidak banyak terjual atau mungkin produk dengan tanggal kedaluwarsa yang sudah mau habis. Konsumen yang kritis tidak bisa memilih option yang lain selain harus menerima permen itu.

Permen selalu dipilih oleh banyak supermarket sebagai alat kembalian, karena bentuknya kecil, nilainya sebanding dengan jumlah uang pecahan yang harus diberikan, dan disukai secara universal bagi banyak orang terutamanya bagi anak-anak. Permen bagi pembeli yang memperolehnya mungkin langsung diberikan ke anak-anak jika mereka pergi bersama. Tetapi kadang juga untuk dikonsumsi sendiri oleh orang dewasa. Bayangkan jika setiap ke toko selalu terus memperoleh permen yang tidak dikehendaki. Hal ini cenderung akan bertentangan dengan anjuran dokter gigi untuk mengurangi konsumsi permen jika ingin mempertahankan gigi yang baik.

Melihat permasalahan di atas maka pihak penjual mestinya mencari solusi atas permasalahan ini. Alternatif penyelesaian yang dapat dilakukan antara lain adalah berupa langkah-langkah berikut :

  • Supermarket menerbitkan stiker atau perangko dengan nilai rupiah tertentu sebagai pengganti uang kembalian. Stiker ini dapat dibawa ke kaunter khusus untuk ditukar dengan barang lain yang sesuai dengan yang dibutuhkan pembeli, bukan hanya permen saja.
  • Membuat kartu kembalian akumulatif. Untuk supermarket dengan sistem member maka hal ini cukup mudah, yakni dilakukan dengan melakukan penambahan secara elektronik pada akoun anggota yang bersangkutan.
  • Menuliskan jumlah kembalian pada struk untuk ditukar pada kunjungan berikutnya. Permasalahannya adalah sering struk ini hilang dan konsumen menjadi tidak peduli karena nilainya yang relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan untuk membawa struk tersebut. Dalam kasus ini mungkin nilai uang akan menjadi hangus.
  • Menuliskan jumlah kembalian pada kartu khusus dan dapat disarankan untuk menjadi bahan sedekah di kotak infaq yang tersedia. Tapi jika infaqnya tidak ikhlas, maka juga sia-sia karena tidak mendapatkan pahala. Jika perlu ditunjukkan juga bahwa sumbangan infaq akan ditujukan kepada tempat ibadah atau panti asuhan anak yatim tertentu.
  • Kasir harus selalu menyediakan uang receh dalam jumlah mencukupi, jika memang tidak tersedia pihak toko lah yang harus bersedia untuk menggenapi selisih sehingga pengembalian dapat diperoleh konsumen dengan jalan pembulatan ke uang receh. Perlu dibuat sistem untuk administrasi ini, sehingga yang dirugikan bukan kasir sebagai pelaksana, tetapi pihak pemilik supermarketlah yang menanggung konsekuensi hal ini.
  • Kebijakan toko untuk tidak membuat harga psikologis yang justru merugikan konsumen. Harga psikologis hanya diperbolehkan jika dilakukan dengan menggunakan kelipatan uang receh terkecil, macam lima puluh atau seratus rupiah.
  • Jika tetap harus dengan menyediakan barang, maka harus disediakan pilihan barang lebih dari lima macam produk sehingga pembeli bebas untuk menentukan barang penggantinya. Tentu saja tidak semua barang berupa permen, melainkan bisa berupa barang lain yang bermanfaat seperti klip paper, stiker menarik, penjepit buku, sabun cuci, lilin dan lain-lain.

Demikianlah semoga kegiatan transaksi jual beli dimanapun dapat berlangsung dengan sah dan adil bagi kedua belah pihak. Dengan adanya tulisan ini semoga dapat memberi jalan keluar bagi pihak penjual sekaligus juga menimbulkan rasa kritis selalu bagi pihak pembeli yang menyangkut haknya walaupun relatif dalam nominal kecil.

Intermezzo :

Untuk mengatasi uang kembalian ditukar dalam bentuk receh, cobalah iseng tanya kepada kasirnya beberapa hal berikut :

  • Kalau suka coklat atau es krim, tidak ada salahnya tanya : “Mbak, apakah permennya boleh minta yang coklat atau boleh tukar dengan es krim ?

Tebakan saya musti tidak bakalan ada.

  • Kalau uang kembaliannya misal tiga puluh rupiah terus dapat satu buah permen, maka bilang saja : ”Mbak jadi permen ini harganya tiga puluh rupiah ya? Boleh beli lagi seratus permen lagi, ini uangnya tiga ribu rupiah”.

Tebakan saya musti disuruh beli sendiri yang di dalam toko berupa yang kemasan dengan harga normal.

  • Kalau kasirnya cantik, maka bilang saja : ”Sudahlah buat mbak saja, buat tambahan nikahnya nanti”.

Tebakan saya musti kasirnya cemberut sambil membatin “Kok sedikit sekali kalau mau kasih kado nikahan. Lagipula kok ya tahu masnya tahu kalau saya sudah mau nikah sebentar lagi”.

  • Kalau kasirnya lebih cantik lagi, maka bilang saja :  ”Sudahlah disimpan buat mbak saja dulu, untuk tambahan kita pergi rekreasi nanti”.

Tebakan saya musti kasirnya tambah cemberut lagi sama mulutnya jadi monyong 2 cm sambil membatin “Untuk bayar parkir saja masih kurang tuh mas”.

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s