Perempuan boleh dikata sudah tidak boleh dipandang lemah dalam situasi terkini. Mereka memiliki kedudukan yang setara dengan pria dalam banyak hal. Kalau jaman dahulu masih ada yang berpikiran bahwa perempuan ditakdirkan untuk lebih banyak di belakang atau bahkan lebih rendah dari pria maka sekarang ini harus dihilangkan. Banyak sekali prestasi perempuan modern yang patut dicatat dengan tinta emas. Pada tataran biasa di masyarakat umum, lebih banyak lagi prestasi dan jerih payah perempuan yang tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan, mulai dari sektor jasa, layanan pendidikan, layanan kesehatan, sektor kewirausahaan dan lain-lain. Untuk tingkat keluarga, bagian dari upaya menopang penghasilan tidak hanya didominasi oleh suami, tetapi isteri juga banyak juga yang berperan dengan memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri.

Terkait dengan pekerjaan perempuan di luar rumah di kalangan menengah ke bawah, maka sudah banyak sekali diulas masalah ini. Saya pernah membaca cerita-cerita perempuan-perempuan yang aktif bekerja untuk ikut menopang penghasilan suatu keluarga. Sebenarnya saat ini cukup banyak pekerjaan yang melekat sebagai pekerjaan umum seorang perempuan. Contoh dalam hal ini adalah sekretaris, jurumasak, pelayan toko, jururawat, dan lain-lain. Meskipun sebenarnya ada juga pria yang bekerja juga dalam sektor itu. Namun kebalikannya adalah ada beberapa jenis pekerjaan yang dianggap umum sebagai suatu pekerjaan seorang pria, tetapi masih jarang dilakukan oleh perempuan.

Beberapa contoh tentang aktivitas kerja perempuan yang umumnya dianggap sebagai pekerjaan seorang laki-laki, dilaporkan cukup banyak. Di Bali dilaporkan wanita juga bekerja di sektor pembangunan fisik suatu bangunan. Di Yogyakarta dan Jombang, ada perempuan yang bekerja dengan menjadi penarik alat transportasi becak yang tentu saja membutuhkan energi cukup besar. Di Jakarta, perempuan juga tercatat sebagai supir busway.

Perempuan penambang batu

  Buruh perempuan 

Buruh perempuan

 Tukang becak perempuan

 Supir busway perempuan

Dengan melihat hal ini tentu saja, perempuan harus dianggap bagian penting sebagai sekrup yang berperan dalam perekonomian baik dalam skala kecil maupun skala besar. Untuk itu mereka harus dihargai dan tentu saja berhak diberikan akan kompensasi yang sama jika pekerjaan itu oleh mereka tanpa perbedaan status jenis kelamin ini. Perlindungan diri juga mestinya harus dilakukan secara profesional mengingat masih banyak kasus pelecehan yang terkait dengan perbedaan status dalam pekerjaan ini.

Pada sektor informal dengan melibatkan kegiatan kewirausahaan maka peran perempuan juga sangat besar. Banyak sekali kegiatan kewirausahaan yang justru dilakukan oleh perempuan. Hal ini banyak dijumpai di berbagai daerah, mulai dari kegiatan skala rumah tangga sampai skala Usaha Kecil Menengah (UKM).

Dengan melihat uraian tersebut, maka tentunya pelaku kebijakan ekonomi saat ini hendaknya juga tidak memandang remeh lagi terhadap peran perempuan dalam sektor ekonomi. Kewirausahaan yang saat ini sedang digembar-gemborkan oleh pemerintah untuk dibina dan diberi insentif baik pemodalan atau pendampingan juga hendaknya tidak mendiskriminasikannya berdasarkan aras gender ini. Demikian juga jika permasalahan pemodalan yang sering menjadi kendala utama bisa dilakukan dengan bantuan pinjaman oleh bank, maka pihak bank juga hendaknya tidak mempersulit hanya karena pemohon kredit berstatus sebagai seorang perempuan.

Dengan adanya gambaran ini maka penghargaan akan peran perempuan ini mestinya sangat besar. Terlebih lagi tanpa melupakan kodrat perempuan dalam keluarga, dia mestinya tetap berfungsi sebagai isteri dari seorang suami dan juga sebagai ibu dari anak-anaknya. Beban ganda ini harus diemban dengan baik tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Semoga tulisan ringan ini dapat memberikan kesadaran kita akan kesetaraan status pria dan perempuan dalam banyak hal, selain itu juga tetap mengingatkan peran perempuan untuk tetap berprestasi walaupun tetap dituntut untuk mengelola keluarga yang merupakan tugas sehari-hari yang sangat berat. Selamat hari Ibu.

Intermezzo :

PKL di depan RS Sarjito Yogya

Saya mengambil foto berikut di lokasi jalan di depan RS Sarjito Yogyakarta, tentang seorang perempuan yang menjadi penjual makanan di trotoar jalan. Meskipun seharusnya di lokasi itu dilarang untuk lokasi berjualan, tetapi dia dan beberapa orang lain tetap berjualan di situ. Setiap hari tentu saja harus melakukan pengangkutan beberapa peralatan dan fasilitas untuk berjualan itu. Hal ini dilakukan oleh perempuan tadi dengan perjuangan berat termasuk mengabaikan masalah keselamatan diri. Dalam gambar ini terlihat dia dengan menggunakan sepeda motor sanggup membawa meja kayu besar, beberapa kursi plastik dan peralatan lain sekaligus.

 

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s