Pepatah lama itu diungkapkan untuk memberi hikmah kalau memang tidak tahu lebih baik tidak berkomentar atau tidak usah banyak omong atas sesuatu hal karena mungkin akan mengakibatkan seusatu yang menjadi salah tafsir. Walaupun kondisi saat ini agak aneh kalau orang banyak diam malah tidak dianggap, justru banyak orang yang berani omong walaupun ngawur yang dianggap lebih piawai. Saat ini boleh kita tengok banyak sekali di televisi ditampilkan orang-orang yang mengaku sebagai komentator atau pengamat baik dalam bidang politik, ekonomi, bahkan olahraga seperti dalam bidang sepakbola, motoGP atau lain-lainnya. Dalam banyak kasus, seolah-olah mereka lebih ahli daripada pelaku atau pelatihnya sendiri. Nanti setelah akhir kasus, kalau komentarnya terbukti tepat maka mereka akan membanggakan sendiri, tetapi kalau meleset, mereka akan mengajukan banyak alasan atau argumentasi untuk mengelak bahwa obyek tidak melakukan hal yang semestinya. Di tingkat pergaulan sehari-hari saja, banyak muncul komentator-komentator tingkat kecil. Tapi memang perlu juga mengabaikan pepatah itu, sekedar berkomentar bebas, mumpung sudah diberi kebebasan untuk bersuara, mestinya dapat menjadi pelampiasan atas beban hidup yang semakin berat. Lagipula kebebasan bersuara dan mengeluarkan pendapat sudah dijamin di dalam UUD kita.

Kalau tulisan saya kali ini sebenarnya bukan menyangkut masalah di atas, tetapi masalah pepatah itu yang dirasa tepat untuk situasi jalan-jalan bagi saya di negeri orang ini. Diam itu emas… atau tepatnya diam itu penghematan uang dalam masuk ke tempat wisata tertentu… Baca lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Acara jalan-jalan bagi saya adalah suatu kebiasaan yang susah dihilangkan. Dulu di rumah, acara jalan tidak harus jauh dan sampai menginap segala, yang penting tempat bagus, bersih dan ada makanan enak, biasanya sudah dapat menjadi target perjalanan. Kalau dulu seringnya bersama dengan keluarga atau mengantar tamu, maka sekarang yang sering ya dengan teman-teman saja. Dari banyak tempat wisata yang pernah dikunjungi, ternyata kalau tempat wisata yang besar dan menjadi kunjungan utama untuk para pelancong, diketahui sering ada diskriminasi tarif masuk.

taman rekreasi baling kedah

Diskriminasi paling banyak biasanya berupa pembedaan tarif tiket untuk bagi orang dewasa atau untuk anak-anak. Tarif anak-anak biasanya lebih murah daripada orang dewasa. Tidak tahu mengapa alasannya, atau mungkin karena ukuran tubuh anak-anak lebih kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh orang dewasa. Kadang dibedakan juga tarif diskon untuk usia manula. Kalau ini mungkin karena mereka sudah tidak mungkin banyak bergerak lagi sehingga tidak mungkin mengunjungi seluruh area wisata atau tidak mungkin menggunakan banyak fasilitas permainan lagi. Kasus lain adalah berupa perbedaan harga tiket karena fasilitas diskoun misal untuk pelajar. Hal ini biasanya digunakan pada museum atau obyek wisata khusus lainnya.

Tetapi ada juga diskriminasi tarif yang cenderung menyerempet SARA, atau tepatnya menyangkut kebangsaan. Ada beberapa tempat wisata yang membedakan tarif masuk untuk turis lokal dan turis asing. Biasanya ini merupakan tempat wisata besar dengan atraksi yang mengagumkan dengan wahana / sarana khusus atau atraksi monumental, dengan banyak dikunjungi oleh turis asing. Pembedaan tarif ini dilakukan mungkin untuk memberi kesempatan pada turis lokal untuk membayar di bawah tarif yang seharusnya sehingga lebih banyak orang lokal yang memiliki kemampuan untuk membayar dan mau untuk berkunjung.

Sebagai contoh adalah kalau tempat wisata di tanah air, maka dapat berupa tiket masuk untuk obyek wisata candi borobudur atau candi prambanan, turis lokal dikenakan tarif 12 ribu rupiah, sedangkan untuk turis asing 9 dolar atau sekitar 80 ribu rupiah. Selisihnya adalah cukup besar. Kalau saat ini saya ada di malaysia, contoh obyek wisata yang dikenakan perbedaan tarif adalah berupa naik cable car atau kereta gantung di pulau Langkawi. Tiket masuk yang dikenakan untuk turis asing adalah 32 ringgit, sedangkan untuk turis lokal cuma sebesar 15 ringgit. Kalau dirupiahkan selisihnya mungkin ada sekitar 50 ribu rupiah sendiri untuk setiap orangnya.

Berdasarkan perbedaan tarif yang cukup besar ini maka turis dengan kantong pas-pasan harus dapat berhemat. Untuk turis asing dari rumpun yang berbeda dapat secara fisik ditandai. Misal untuk orang kulit putih dari Eropa atau Amerika, tentu saja dengan melihat warna kulitnya maka akan langsung terlihat dan disodori dengan tiket turis asing. Demikian juga untuk turis yang berasal dari Jepang, Arab atau Afrika, akan secara mudah dapat dikenali oleh petugasnya secara cepat.

Untuk kasus orang Melayu, bisa terjadi baik di Indonesia maupun Malaysia, orang asli dari kedua negara ini kadang tidak dapat dibedakan secara fisik. Warna kulit dan bentuk tubuh secara fisik dari orang Melayu relatif sama. Dengan demikian pengamatan luar akan tidak dapat membedakan apakah pengunjung yang orang melayu ini merupakan turis lokal atau turis asing. Untuk kasus di Malaysia, dimana juga terdapat kaum Cina dan India, maka mereka tidak dapat dibedakan antara turis lokal dengan turis asing. Secara fisik, penduduk lokal India dan turis yang berasal dari India akan terlihat sama. Demikian juga yang merupakan orang Cina, dengan warna kulit kuning dan mata sipit.

Untuk mengetahui perbedaan dalam kasus ini biasanya dilakukan dengan pengenalan tingkah laku dan dialek berbicara. Cara lain adalah dengan pengenalan baju atau asesoris yang dikenakan.

Dengan pengenalan tingkah laku, sering juga petugas di loket secara lisan menanyakan darimana pengunjung itu berasal, seringkali hal ini ditanyakan bagi turis yang dilihat memiliki tingkah laku asing dan tidak terbiasa dengan budaya atau situasi setempat. Pertanyaan ini diajukan dengan menggunakan alasan untuk data statistik jumlah dan asal pengunjung. Kalau pengunjung jujur tentu saja akan dapat dikenakan tarif masuk oleh petugas sesuai dengan kriteria turis lokal atau turis asing.

Dari cara berbicara atau dialek maka petugas juga dapat mengamati perbedaan asal pengunjung. Kalau untuk turis asing dengan wajah lokal, mungkin dapat disiasati dengan tidak perlu banyak omong. Tetapi langkah ini juga sering dapat dipantau dan dikenali oleh petugas.

Pengenalan baju atau asesoris ini juga dapat digunakan petugas untuk mengetahui asal pengunjung. Kalau orang menggunakan baju tertutup rapat sedangkan orang itu berwajah ke-arab-araban, maka jelas orang itu merupakan turis asing dari negeri teluk. Untuk orang melayu, ternyata orang Indonesia dan orang Malaysia sebenarnya dapat dibedakan dari pengenalan asesoris yang dikenakan. Cerita dari petugas di kaunter obyek wisata Candi Borobudur, dalam hal kancing baju dan kerudung yang dikenakan, ternyata berbeda. Mungkin salah satu syarat kejelian ini yang menjadikan mereka ditempatkan sebagai petugas di loket pembayaran ini.

Yang tidak umum adalah jika petugas harus meminta kepada turis untuk menunjukkan identitas baik ID card, ktp atau paspor. Sepertinya hal ini langkah yang sudah sangat berlebihan, jika harus mengecek sedetail ini. Jika dirata-ratakan maka jumlah orang yang mengelabui klasifikasi kategori asal turis ini sebenarnya relatif sedikit, sehingga langkah ini mestinya tidak perlu harus dilakukan. Pengunjung akan merasa tidak nyaman jika untuk berkunjung ke suatu obyek wisata saja harus menunjukkan identitasnya segala.

 Langkawi cable car

Jadi kembali kalau kita sebagai pengunjung suatu obyek wisata di negara lain yang masih serumpun dengan ada perbedaan tarif seperti ini, coba bertindaklah sebagai orang lokal. Jika bisa bercakap dan bertingkah laku macam orang lokal akan lebih baik. Jika sekiranya tidak bisa, mungkin minta bantuan teman lokal untuk mengantar dan membeli tiket di kaunter, sementara kita menunggu di kejauhan dengan tidak usah banyak omong. Diam itu emas atau diam itu hemat.

Terus apa nanti selama di tempat wisata harus puasa bicara, tentu saja tidak. Setelah melewati petugas, mungkin barulah kita dapat terbebas kembali untuk berbicara kembali.

 

Iqmal Tahir

Intermezzo :
Prinsip “diam itu emas eh… penghematan uang” ini sudah terbukti saya alami saat :

  • Mengantar kolega staf dari Yogyakarta berkunjung ke kereta kabel di Langkawi. Yang membeli tiket adalah teman saya yang asli sini dan kami semua puasa omong dulu sampai lepas dari petugas.
  • Berkunjung ke Zoo & Night Safary Taiping – Ipoh, kami berombongan sudah berpura-pura sebagai orang lokal tetapi lebih banyak diam. Saat ditanya darimana asal kami, oleh teman dijawab sebagai penduduk tempatan.
  • Masuk ke Croccodile Farm di Tanjung Rhu, teman kami yang baik membantu membelikan tiket sementara kami menunggu sambil pura-pura asyik berfoto.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s