Semua jenis minuman yang mengandung alkohol di dalam agama Islam dikenakan hukum haram bagi orang muslim untuk meminumnya. Minuman beralkohol ini adalah minuman yang diproses dari bahan dasar mengandung gula atau karbohidrat melalui cara fermentasi menggunakan teknik bioteknologi. Alkohol dalam minuman ini terdapat sebagai ethanol dan saat ini di pasaran banyak dijumpai minuman dengan kadar ethanol yang sangat bervariasi. Kita dapat menjumpai minuman dengan kadar alkohol 1 % untuk minuman seperti bir dan juga dapat juga dijumpai minuman dengan kadar alkohol tinggi di atas 30 % berupa minuman vodka. Tentu saja baik minuman dengan kadar alkohol ringan maupun yang tinggi semua diharamkan.

Perbandingan minuman beralkohol

Saat ini dijumpai suatu produk minuman dengan mempromosikan diri sebagai minuman dengan kadar alkohol 0%. Minuman seperti apakah ini ? Benarkah minuman ini termasuk kategori yang tidak diharamkan karena kadarnya 0% ?

Bagi seorang yang kritis hal ini mestinya menjadi pertanyaan karena kalau memang tidak mengandung alkohol mengapa harus ditulis sebagai minuman alkohol 0 %?

Minuman ini dapat saja berupa minuman yang aslinya mengandung alkohol, tetapi dengan menggunakan proses lanjutan maka kadar alkohol dalam minuman dapat dikurangi sampai mendekati nol. Apabila memang demikian tentu saja minuman ini tetap dalam kategori minuman yang diharamkan.

Kalau benar proses pembuatan minuman ini dilakukan dengan cara itu, maka memang kadar alohol itu benar 0%. Penentuan kadar alkohol dalam suatu sampel saat ini dapat dilakukan dengan mudah menggunakan analisis High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Apabila alkohol yang terdapat dalam minuman ini masih ada, maka dapat ditentukan walaupun untuk ukuran ketelitian yang sangat kecil sampai pembacaan ppm (part per million) atau bahkan ppb (part per billion). Satu ppm itu sama dengan ukuran 0,0001 %.

 HPLC untuk analisis alkohol

Secara analitik, hasil pengukuran sering dinyatakan dalam jumlah besaran angka signifikan (atau angka penting) yang diperlukan saja. Untuk suatu pengukuran dengan alat yang menghasilkan pembacaan 6 angka, maka hasil pengukuran dapat dinyatakan hanya dalam 2 atau 3 angka signifikan saja. Contohnya adalah hasil penimbangan dengan angka yang tertera adalah 6,681217 gram, maka kita dapat menyajikan penulisan dengan 4 angka penting menggunakan pembulatan menjadi 6,681 gram atau kalau dalam 2 angka penting menjadi 6,7 gram. Pembulatan yang terjadi dilakukan dengan konvensi untuk angka 0 sampai 4 dibulatkan ke bawah menjadi 0, sedangkan untuk angka 5 sampai 9 dibulatkan ke atas menjadi 1.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah hasil pengukuran boleh disajikan dalam bentuk bulat tanpa pecahan ? Tentu saja hal ini sah-sah saja,walaupun dalam dunia riset kadang hal ini dihindari karena akurasinya menjadi sangat rendah. Dalam kasus di atas, hasil pengukuran 6,681217 gram akan dibulatkan menjadi 7 gram. Hal ini tentu saja dapat dengan mudah dipahami.

Kembali untuk kasus minuman beralkohol dengan label kadar alkohol 0 %. Apabila benar setelah diuji ternyata memang minuman itu mengandung alkohol sebesar 100 ppm, ini merupakan jumlah alkohol yang sangat kecil dan mungkin kalau diminum tidak akan memabukkan. Kalau hasil pembacaan itu kemudian dinyatakan dalam % maka hasil itu adalah sama dengan 0,01 %. Sekarang kalau kadar terukur itu dinyatakan dalam pembulatan, data yang dilaporkan adalah berupa kadar alkohol 0 %. Jadi kesimpulannya adalah di dalam itu tetap mengandung alkohol walaupun dalam jumlah yang sangat kecil atau tentu saja minuman itu juga tetap dalam kategori minuman yang haram untuk diminum bagi orang muslim.

Boleh saja produsen minuman itu mengklaim bahwa produknya sama sekali bebas alkohol. Kalau seperti ini maka pihak produsen dapat dikenakan aduan penipuan terhadap konsumen melalui cara mengelabui dalam klaim iklannya.

Demikian semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk menjaga kehati-hatian kita dalam pola budaya konsumtif seperti sekarang ini. Kita tetap harus jeli dan kritis dalam menghadapi variasi produk makanan dan minuman yang ada sekarang ini. Mestinya BPOM, YLKI dan MUI sebagai instansi yang terkait hal ini harus juga bersikap proaktif termasuk untuk kasus ini.

 Intermezzo :

 

  •  Saya menemukan tulisan yang relatif sangat terkait, saya tidak memplagiat lho. Tulisan dapat dibaca di link ini dan di link ini.
  • Ada ulasan menarik dari ulama tentang permasalahan ini, dapat dibaca di link ini. Intinya kalau tidak ada logo halal dari MUI yang identik dengan sertifikat untuk menjamin kehalalan, berarti masuk kategori lebih jangan diminum.
  • Diskusi tentang salah satu produk minuman di dalam negeri yang terkait dengan hal ini tetapi tinajuan dari aspek pemasaran produk, dapat diikuti di link ini.

 

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s