Kalau dicermati pada beberapa wilayah di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya pada area-area di sekitar sunga Bengawan Solo, diketahui ternyata merupakan daerah yang dikenal sebagai situs-situs purbakala. Kalau saat ini yang dikenal adalah daerah Trinil, Ngawi atau daerah Sangiran, Sragen. Selain itu juga menyebar juga ke wilayah di sekitarnya seperti Blora, Pati dan sekitarnya. Pada daerah-daerah itu banyak ditemukan sisa-sisa arkeologis berupa fosil-fosil binatang purba yang beraneka macam, bahkan untuk situs Sangiran terkenal karena temuan fosil manusia purba. Fosil yang ditemukan banyak di antaranya berupa pecahan tulang ataupun sebagian tulang yang utuh, sisa-sisa kerang ataupn artefak peninggalan jaman purba. 

Penemuan fosil ini secara arkeologis dimulai saat penelitian ahli sejarah Belanda di daerah Trinil yang melakukan ekskavasi dan penggalian secara intensif. Walaupun saat ini penggalian juga banyak diteruskan oleh instansi arkeologi atau pun dari kalangan peneliti arkeologi dari berbagai universitas namun masih belum berlangsung secara intensif. Dalam waktu-waktu selanjutnya, penemuan fosil banyak dilakukan secara tidak sengaja oleh masyarakat di sekitar lokasi, khususnya saat mereka mengolah tanah baik untuk keperluan mengolah sawah ataupun untuk menyiapkan pondasi bangunan.

Gerbang museum Trinil

Apabila di suatu daerah sudah diketahui sebagai suatu situs yang berpotensi banyak mengandung tinggalan purbakala, mestinya daerah tersebut harus diisolir untuk aktivitas yang tidak terkait. Selanjutnya diperlukan peran para arkeolog untuk mengelola situs secara hati-hati dengan penemuan fosil. Bahkan menurut pemahaman saya, diperlukan suatu teknik penggalian yang sangat cermat dan biasanya secara manual, sehingga diharapkan dapat diperoleh temuan yang tidak rusak. Secara alamiah, seringkali fosil dan benda-benda purbakala ini akan mengalami kerusakan secara cepat, karena obyek yang tadinya tertimbun dalam tanah kemudian digali dan akan cepat bereaksi dengan udara yang lembab, sehingga obyek akan cepat rapuh. Namun apabila saat penggalian dilakukan dengan baik, maka keutuhan obyek diharapkan dapat terjaga.

Dilihat dari kondisi nyata saat ini, wilayah-wilayah tersebut banyak dijumpai sebagai daerah pertanian seperti sawah dan ladang. Dalam hal eksploitasi tanah untuk pertanian ini, sering kali para pengolah tanah menginginkan pengolahan yang cepat, efisien dan mudah. Dengan masuknya teknologi modern dan didukung dengan kemampuan yang ada maka salah satu hal yang kerap dijumpai adalah penggunaan traktor untuk pengolahan sawah khususnya untuk membajak sehingga tanah menjadi siap tanam.  Dengan pengunaan traktor, maka pekerjaan membajak sawah dapat dilakukan dengan cepat. Tanah sawah dapat tergali dengan segera, tetapi karena dilakukan oleh mesin, terkadang jika mengenai sesuatu obyek akan terus diabaikan saja. Berbeda halnya jika dilakukan secara manual menggunakan cangkul, jika petani merasa cangkulnya mengenai sesuatu obyek, maka dia akan berhati-hati mengeluarkan obyek itu dan apabila obyek itu dirasa suatu benda purbakala akan dapat diperlakukan secara hati-hati. Oleh karena itu terdapat potensi merusak berbagai temuan fosil dari penggunaan traktor pada suatu wilayah situs purbakala.

Cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan upaya insentif pertanian untuk tidak menggunakan traktor. Meskipun hal ini akan memberatkan tetapi karena pemilik lahan sah dan berhak untuk mengolah lahannya, maka hal ini dapat dilakukan sebagai alternatif pencegahan kerusakan benda purbakala yang mungkin ada. Kendalanya adalah wilayah yang mungkin berpotensi adalah sangat luas dengan kemungkinan temuan yang belum dapat dipastikan.

Cara lain adalah dengan melalui penyelidikan intensif untuk menemukan sisa-sisa fosil misal dengan menggunakan instrumen khusus seperti Geiger counter atau dengan 3D scanner. Alat Geiger counter adalah alat berbasis deteksi aktivitas radioaktivitas dan dalam hal ini diarahkan untuk mendeteksi aktivitas obyek-obyek yang memiliki unsur aktivitas isotop karbon-13.  Semestinya unsur-unsur fosil akan memiliki kandungan isotop karbon-13 ini yang selanjutnya dapat ditangkap keberadaannya oleh alat ini meskipun obyek ini berada dalam tanah.  Hanya saja teknik ini kurang dapat diintensifkan penggunaannya karena memiliki selektivitas yang kurang tinggi dan juga banyak obyek non purbakala yang kemungkinan ikut terdeteksi. Alternatif lain adalah dengan menggunakan scanner obyek secara tiga dimensi yang berbasis radiasi infra merah atau gelombang radio. Alat ini dapat mendeteksi keberadaan obyek padat di dalam tanah dan dapat diprediksikan secara visual bentuk dari obyek yang terdeteksi.

Proses penyelidikan ini dapat dilakukan pada suatu wilayah luas secara komprehensif, sehingga seluruh wilayah tersebut pernah dilakukan scanning. Untuk suatu titik yang diduga terdapat obyek purbakala maka selanjutnya dapat dilakukan penggalian. Tentu saja masing-masing cara ini tidak akan menyelesaikan seluruh permasalahan, karena seringkali lokasi dan titik kedalaman suatu obyek dalam tanah sangat bervariasi, namun tentunya langkah ini dapat membantu pemetaan wilayah dari suatu area yang berpotensi sebagai situs purbakala.

Relokasi daerah pertanian dari daerah yang diteliti ternyata memang berpotensi sebagai situs purbakala selanjutnya perlu dilakukan. Pada akhirnya daerah yang benar-benar pusat situs ini terbebas dari aktivitas umum. Jika perlu hak kepemilikan wilayah ini dimiliki oleh negara dan ke depannya dapat dijadikan sebagai suatu wilayah ekskavasi arekologis yang terbatas dan terjaga. Selanjutnya hanya petugas dan pihak-pihak yang memperoleh ijin saja yang dapat melakukan penggalian di daerah sana.

Catatan lain yang menarik adalah realitas bahwa di daerah Sangiran banyak dijual cinderamata fosil-fosil palsu yang dibuat menyerupai fosil asli untuk ditawarkan sebagai souvenir. Fosil ini dibuat dari campuran gips dengan dicetak menyerupai bentuk fosil yang sesungguhnya melalui teknik pencetakan dan pewarnaan tertentu. Biasanya para pembeli ini adalah wisatawan lokal yang tertarik untuk membawa cinderamata sekedar sebagai tanda kenangan pernah berkunjung ke lokasi ini. Pada dasarnya cinderamata yang paling baik saat berkunjung ke lokasi situs purbakala adalah cerita yang ada di balik sejarah purbakala yang pernah terjadi di daerah itu. Untuk itu diperlukan adanya buku yang representatif dan dikemas dengan baik yang dijual pada para pengunjung. Saat ini ada buku yang dijual di lokasi, namun terkesan seadanya, dibuat dengan kurang menarik dengan ilustrasi yang sangat minim.

Saat ada pengunjung yang datang lokasi situs Sangiran, kalau ada pengunjung yang tertarik untuk memiliki fosil asli, seringkali ada pedagang yang secara sembunyi-sembunyi menawarkan fosil asli. Mereka menempuh langkah ini karena hasil penjualan pada turis khususnya turis asing akan lebih tinggi dibandingkan kompensasi pemerintah yang diterima jika temuan mereka laporkan ke dinas terkait. Masyarakat khususnya petani yang tidak sengaja menemukan suatu fosil biasanya akan langsung menjual ke pedagang fosil ini karena mereka dapat langsung menerima uang saat transaksi, berbeda kalau mereka melaporkan ke dinas. Upaya kompensasi material dan penghargaan memerlukan proses yang lama. Oknum pedagang fosil inilah yang sebenarnya harus diberantas. Tentu saja dalam hal ini diperlukan langkah sosialisasi lebih intensif lagi bagi masyarakat petani di wilayah itu untuk selalu melaporkan hasil-hasil temuan dan tidak menjual kepada para pedagang. Selain itu juga perlu diperketat larangan aktivitas jual beli barang-barang purbakala dan jika terjadi maka dibuat sanksi yang ketat berupa proses hukum.

Demikian semoga tulisan ini, yang sebenarnya sangat jauh dari kompetensi saya, dapat memberi masukan pada berbagai pihak terkait untuk dapat meningkatkan pengelolaan daerah-daerah situs purbakala Indonesia. Saya yakin beberapa hal sudah pernah dipikirkan dan dilaksanakan oleh mereka, untuk itu mestinya tulisan ini dapat menjadi bahan pengingat kembali langkah apa yang perlu diintensifkan kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s