Bulan Maret 2010  di Bandung diberitakan heboh penebangan pohon peneduh di beberapa ruas jalan utama di kota tersebut. Seperti dikutip dari Detik Online disebutkan bahwa diduga sebuah biro reklame memangkas habis 51 batang pohon di Jalan Soekarno Hatta. Aksi penggundulan itu tidak diketahui oleh petugas Dinas Pertamanan Kota Bandung. Menurut keterangan Sekretaris Dinas Pertamanan Kota Bandung disebutkan bahwa pohon yang dipangkas tersebut terdiri dari 22 pohon anting-anting, 6 pohon kersen, dan 23 pohon dadap merah.

Penebangan pohon perindan di jalan protokol itu terkesan tergesa-gesa dan tidak ada perencanaan yang jelas.  Hal ini diakui oleh sekretaris dinas itu yang menyatakan penebangan dilakukan secara cepat karena sore hari sebelumnya pohon masih rindang. Berdasarkan penelusuran ke bagian pengelolaan jalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, karena jalan itu merupakan jalan provinsi, ternyata penebangan bukan oleh pihak provinsi. Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata yang melakukan pemangkasan itu salah satu biro iklan reklame. Pihak provinsi berhasil menemukan penebang di kawasan Jalan Soekarno Hatta dan petugas dari Pemprov sempat menangkap mereka. Kendaraan dan alat penebangan yang digunakan juga sempat diamankan.

Pemangkasan 51 pohon estetis yang berada di median Jalan Sekarno Hatta oleh salah satu biro iklan reklame membuat pemkot kecewa. Hal ini karena jalan tersebut merupakan salah satu jalan yang dinilai oleh tim penilai Adipura.  Dari sisi hukum pemangkasan pohon tersebut dapat dikenai pasal dalam Perda K3 (Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan). Sanksinya, menebang satu pohon akan dikenakan denda sebesar Rp 5 Juta.

Pemangkasan pohon itu dengan tidak memperhatikan penghijauan itu diduga karena menghalangi reklame yang mereka pasang. Hal ini dapat diketahui karena di lokasi jalan tersebut memang terdapat beberapa papan reklame besar. Dengan keberadaaan prohon perindang ini jelas papan reklame ini kurang mendapat perhatian karena tertutup tajuk pohon.

Apabila dilihat dari konteks waktu jelas yang salah adalah papan reklame tersebut. Pohon perindang pastinya sudah ada di lokasi itu jauh sebelum reklame itu dibuat. Tidak mungkin papan reklame itu dibuat kemudian baru tumbuh pohon perindang itu dalam waktu sekejap. Dari sini seharusnya biro reklame yang membuat pemilihan lokasi itu yang tidak berpikir panjang. Mereka mungkin hanya menganggap bahwa lokasi jalan itu banyak dilewati orang sehingga strategis apabila membuat dan menempatkan media reklame di sana. Dalam kenyataannya setelah reklame dipasang ternyata baru diketahui bahwa ada penghalang dengan keberadaan pohon perindang yang menutup pandangan. Dalam kasus ini tentu saja tidak berarti mereka yang sudah punya hak dan ijin pemasangan iklan terus punya hak juga untuk melakukan pemangkasan dan penebangan pohon. Ketegasan untuk menindak pelaku jelas harus dilakukan.

Pemangkasan pohon perindang demi iklan.

Pemangkasan pohon perindang demi iklan.

Sisa-sisa tonggak batang pohon yang telah ditebang.

Sisa-sisa tonggak batang pohon yang telah ditebang. Memang bikin pemandangan jadi lapang, tetapi efeknya adalah panas.

Dengan pemberian sanksi sesuai perda K3 yang digunakan maka boleh jadi kasus ini selesai secara hukum. Pelaku dapat membayar denda sanksi sebanyak lima juta rupiah per batang pohon. Mungkin saja mereka dapat menutup dari pembayaran reklame yang bisa jadi lebih besar dari nilai denda itu. Tetapi masih ada nilai lain yang tidak terbayar misal dari kenyamanan pengguna jalan di lokasi itu. Jalan yang tadinya teduh menjadi panas dan tidak hijau lagi. Demikian juga bagi pihak kota akan dirugikan karena salah satu kawasan andalan yang merupakan salah satu poin penilaian penghargaan lingkungan kalpataru menjadi hilang.

 

Untuk dapat mengembalikan kawasan tersebut menjadi hijau kembali jelas akan memerlukan waktu yang tidak pendek. Pohon untuk dapat tumbuh besar memerlukan waktu bertahun-tahun. Pemangkasan dan penebangan pohon yang bisa dikerjakan dalam waktu sehari tidak sebanding dengan waktu yang diperlukan untuk mengembalikan kondisi semula. Satu kerugian yang sangat besar bagi warga kota Bandung dan pemerintah kota setempat.

Pemangkasan pohon pelindung di Bandung.

Pohon pelindung yang ditebang di Bandung.

Pemangkasan pohon pelindung di Bandung.

Pemangkasan pohon pelindung di Bandung.

Kalau mau mendukung demi penghijauan kota Bandung, maka pihak biro reklame mestinya juga dihukum melakukan kegiatan restorasi penanaman pohon kembali di lokasi itu. Mulai dari penanaman dan perawatan pohon itu sampai besar. Sanksi denda saja sepertinya tidak cukup.

Hal yang lucu adalah bila seandainya terjadi ide gila sebagai kompensasinya. Atas nama penghijauan dalam arti sebenarnya, maka reklame-reklame yang dibuat akan bernuansa hijau. Gambar dan media visual yang digunakan akan dominan dengan warna hijau. Kalau ini sih hijau warnanya saja. Biro reklame bisa saja terus berkilah dengan mau menampilkan juga iklan penghijauan, seperti poster gerakan untuk reboisasi dan penanaman pohon. Sekali lagi maka bukan penghijauan artifisial seperti itu yang sangat dibutuhkan, tetapi justru aksi nyata untuk melaksanakan penghijauan sesungguhnya yang bermakna lingkungan.

Ke depan akan sangat diperlukan peran aktif berbagai unsur seperti dinas, LSM, aparat keamanan termasuk masyarakat untuk selalu memantau dan mengawasi masalah fasilitas dan prasarana jalan ini termasuk perlindungan pohon perindang ini. Masyarakat diminta aktif untuk melaporkan kegiatan penebangan pohon di jalan oleh pelaku liar. Bagi pelaku penebangan liar ini juga perlu ditindak tegas tanpa pandang bulu untuk dikenai sanksi hukum dan sanksi sosial. Apabila pelaku bertindak atas nama komersial seperti kasus biro reklame ini bisa saja dikenakan pencabutan ijin usaha.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagi pihak pemerintah daerah adalah berusaha menambah kawasan hijau di tempat kerja mereka. Termasuk dalam hal ini adalah dalam pembuatan jalan baru dengan selalu merencanakan pohon perindang di dalam master plan yang dibuat. Untuk jalan yang sudah ada jika belum ada maka perlu dibuat lokasi pohon perindang di sepanjang jalan tersebut. Pada akhirnya berbagai kawasan kota itu akan terlihat hijau dengan adanya pepohonan yang asri ini.

Banyak manfaat yang akan diperoleh dari keberadaan pohon perindang di jalan ini. Dari sisi penghijauan jelas pohon sebagai penyerap karbon dioksida dan pabrik oksigen untuk ikut berfungsi sebagai paru-paru kota. Terik panas matahari dapat sedikit diredam dengan adanya keteduhan yang dipancarkan dari pohon ini. Masyarakat pun dapat melakukan aktivitas jalan kaki atau bersepeda di lokasi jalan tersebut dengan nyaman karena tidak panas.

Semoga di masa mendatang, tidak ada lagi kasus penebangan pohon yang tidak bertanggung jawab. Marilah kita selalu menjaga kawasan lingkungan kita dengan baik.
Iqmal Tahir

ps. Sumber gambar dari blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s