Bagi warga Yogya atau orang yang pernah tinggal di Yogya, pasti tahu akan keberadaan sungai kecil di tengah kota ini. Sungai ini tampak jelas memotong dari dekat TMP kemudian mengalir ke arah terminal lama di Umbulharjo, sepanjang jalan Batikan. Kalau dilihat sesungguhnya maka sungai ini sebenarnya berasal dari hulu yang mengarah ke atas daerah lereng merapi, namun karena ukurannya kecil dan sekarang juga banyak tertutup areal pemukiman maka sungai ini tidak begitu dikenal sebagaimana sungai lainnya seperti kali Code, Winongo atau Gadjahwong.

Sungai ini tampak jelas di daerah kawasan UGM yang melintas lembah. Di daerah jalan Solo, sungai ini menjadi jelas karena tertutup kawasan pertokoan yang sangat padat. Kemudian sungai ini melintas di daerah Baciro, kawasan Bausasran dan kemudian terlihat lagi di jalan Batikan ini. Aliran air sungai ini sebenarnya cukup lancar untuk mengalirkan air ke arah hilir.

Kerjabakti membersihkan kali Mambu.

Kerjabakti membersihkan kali Mambu.

Namun ada satu hal lagi soal citra buruk sungai ini sehingga banyak julukan disematkan pada sungai kecil ini. Dari berbagai julukan sering terdengar mulai Kali Begal, Kali Belik, sampai Kali Lonthe dan yang paling dikenal adalah kali Mambu. Julukan-julukan negatif itu muncul karena dulunya memang terdapat situasi dan kondisi yang kemudian menimbulkan julukan itu.

Dulu kawasan jalan Batikan itu adalah kawasan sepi yang jauh dari hunian, sehingga banyak perampok atau begal yang menunggu mangsa di daerah tersebut. Dengan alasan banyak begal itu maka sungai ini pun mendapat julukan kali Begal.

Di beberapa titik lokasi di tepian sungai itu juga terdapat beberapa mata air kecil yang memunculkan air segar untuk digunakan sebagai sumber air minum atau untuk keperluan mandi dan mencuci. Mata air atau yang dikenal sebagai belik itulah kemudian sungai ini mendapat julukan kali Belik. Namun sekarang dengan perkembangan kepadatan hunian dan penggunaan air tanah dengan sumur atau pompa yang banyak berada di sekitar sungai, maka belik itu banyak yang mati dan tidak mengeluarkan air lagi.

Untuk julukan kali Mambu, hal ini muncul karena setiap beberapa waktu di kali ini memang mengeluarkan bau busuk. Selain bau busuk, air yang mengalir juga terkadang berwarna-warni. Permasalahan ini muncul karena sungai ini melintas di suatu instansi pengolahan dan penyamakan kulit. Sungai ini jadi tempat buangan limbah cair dari proses produksi penyamakan kulit tersebut. Limbah  cair yang dihasilkan memang sangat berbau busuk terutama karena mengandung protein dari sisa-sisa daging yang melekat di kulit yang dibuang. Dahulu memang limbah cair ini dibuang begitu saja ke dalam aliran sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Dengan demikian terjadi pencemaran sungai dalam bentuk penurunan kualitas air sungai yang tidak memenuhi baku mutu air sungai serta menghasilkan bau busuk yang menyengat. Meskipun saat ini proses penyamakan sudah direlokasikan dan limbah juga harus diolah terlebih dahulu sebelum dapat dibuang ke sungai, namun citra bau busuk ini tetap melekat di sungai ini.

Mulai bulan Maret 2010 ini Kali Mambu di Jalan Batikan secara resmi berganti nama menjadi Kali Manunggal. Perubahan nama sungai yang mengalir di perbatasan Kecamatan Mergangsan, Umbulharjo, dan Pakualaman Kota Yogyakarta tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Wali Kota No 108/Kep/2010. Nama Kali Manunggal ditetapkan karena diilhami dari kebersamaan jajaran Muspida untuk memperbaiki citra Kali Mambu melalui Festival X Mamboo dari 28 Maret hingga 4 April. Dengan nama baru Kali Manunggal diharapkan dapat menghapus citra buruk Kali Mambu.

Pelaksanaan Festival X Mamboo yang didukung Pemkot, Poltabes, dan Kodim 0734 Yogyakarta itu memang mempunyai visi konservasi lingkungan perkotaan. Pada acara itu digelar berbagai kegiatan yang  terkait perbaikan lingkungan. Lomba mancing digelar juga untuk mengakrabkan Kali Manunggal dengan masyarakat. Saat itu dua ton ikan lele dilepas di sungai dan menjadi rebutan pancingan ratusan peserta. Selain itu, diadakan karnaval, macapatan, dan penanaman pohon trembesi.  Sekitar 300 bibit pohon trembesi dibagikan di Kecamatan Umbulharjo. Pemilihan trembesi karena merupakan jenis pohon tertinggi penyerap gas karbondioksida.

Pengerukan lumpur di kali Mambu.

Pengerukan lumpur di kali Mambu.

Penutupan kali Mambu untuk dibuat jalan.

Penutupan kali Mambu untuk dibuat jalan.

Saat ini sebagian Kali Manunggal akan ditutup, sehingga jalan tersebut bisa menjadi dua lajur. Dengan demikian jalan Batikan yang melintas di sepanjang sungai itu dapat menjadi alternatif masyarakat yang pergi menuju arah Kotagede atau terminal baru.

Selain acara yang bersifat seremonial dan lebih bersifat temporer ini, maka hendaknya sosialiasi untuk menjaga kelestarian sungai ini hendaknya juga selalu dilakukan. Pada akhirnya masyarakat akan secara aktif menjaga lingkungan sungai ini sebagaimana mestinya. Kegiatan membuang sampah ke dalam sungai hendaknya tidak boleh dilakukan lagi. Penangkapan ikan juga dilakukan dengan jalan yang lebih baik, dengan larangan penggunaan racun apotas atau setrum ikan. Kegiatan kerja bakti untuk bersih-bersih tanggul sungai juga sering dilakukan untuk menjaga lingkungan tampak asri. Jika mungkin diadakan taman kecil untuk kerapian dan keindahan sepanjang tepi sungai.

Semoga dengan pelaksanaan festival ini dan pergantian nama tersebut dapat membangkitkan masyarakat sekitar untuk selalu menjaga lingkungan sekitarnya. Kota Yogyakarta akan diuntungkan dengan lingkungan yang bersih dan indah. Masyarakat sekitar pun akan menikmati keuntungan keindahan, dan yang terpenting dapat menikmati kesegaran udara, karena sudah tidak berbau lagi. Ancaman banjir pun dapat dihindarkan jika aliran sungai dapat dijaga lancar.

Iqmal Tahir

Iklan

One response »

  1. tatik berkata:

    nggerlibes….dulu seempet dengar singkatan itu..(kali mambu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s