Bagi penikmat kuliner nusantara, tentunya tidak lupa akan beberapa makanan khas yang sering dikenal dengan istilah salad lokal. Dalam beberapa variasi dari jenis sayuran atau bumbu kuah yang digunakan maka mungkin kita sudah mengenal jenis-jenis masakan seperti rujak, gado-gado atau pecel. Perbedaan dari makanan tradisional ini terletak pada komposisi bumbu dan cara persiapan yang dilakukan. Pecel dan gado-gado berbeda dengan rujak dalam hal bumbu kuah yang disiramkan ke dalam sayuran atau isi makanan, bumbu pecel dan gado-gado adalah sudah disiapkan sebelumnya. Isi makanan seperti nasi kupat, aneka sayuran meliputi bayam, kol, kecambah dan lain-lain disiapkan dan ditata dalam wadah, kemudian terakhir disiram dengan bumbu kuah kental. Bumbu kuah ini terdiri atas komposisi bawang putih, garam, gula kelapa, cabe dan kacang tanah. Pada gado-gado biasanya sering juga ditambahkan pelengkap seperti telur, kerupuk atau bakwan. Untuk pecel tentu saja, bumbu kuah ini berbeda karena biasanya ditambah dengan kencur. Pada dasarnya isi makanan pecel yang terutama adalah daun bayam, kecambah, kol, kangkung atau sayuran lainnya. Sayuran ini biasanya dibuat layu dengan jalan direndam dalam air panas untuk beberapa saat. Makanan rujak berbeda dengan kedua makanan di atas, karena biasanya bumbu akan disiapkan dan diramu secara instan dan setelah bumbu siap baru isi sayuran dan bahan lainnya baru dimasukkan untuk dicampur rata.

Pada tulisan ini saya hanya akan menuliskan tentang pecel dengan beberapa variasinya khususnya yang dijumpai di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keunikan sajian pecel yang saya tuliskan di sini adalah pada salah satu jenis sayuran yang digunakan dan memberikan ciri pecel itu sehingga berbeda dengan pecel dari daerah lain.

1. Pecel kembang Kecombrang – Kroya

Tanaman kecombrang Kecombrang adalah kembang dari tanaman combrang (Nicolaia speciosa) yang merupakan tanaman sayuran umbi. Bagian yang biasa diambil untuk bumbu adalah umbi tanaman yang beruas. Akan tetapi kembang kecombrang yang berwarna merah keunguan ini ternyata memiliki rasa dan aroma yang khas. Kembang kecombrang ini dapat digunakan untuk campuran rujak buah-buahan dan juga sebagai sayuran pengisi pada makanan pecel. Aslinya bunga akan berkhasiat sebagai obat penghilang bau badan, memperbanyak air susu ibu dan pembersih darah.

Pecel yang menggunakan kecombrang ini banyak dijumpai di daerah Kroya, Banyumas. Dengan menggunakan kecombrang ini warna pecel menjadi semakin menarik dan meriah karena ada nuansa warna merah pada bahan makanan sebelum disiram dengan bumbu kuahnya. Dari sisi rasa, tentu saja akan memberikan sensasi baru karena ada aroma khas yang muncul dari kecombrang ini.


Pecel Kembang Kecombrang

Pecel Kroya saat ini banyak dijual di stasiun kereta api di Kroya. Perlu diketahui kalau Kroya adalah kota kecil dan termasuk pada Kabupaten Cilacap. Kota ini sebenarnya tidak termasuk pada jalur jalan raya Jawa Tengah bagian selatan, sehingga relatif tidak dikenal bagi banyak orang. Akan tetapi bagi banyak orang pengguna kereta api di lintasan Jawa selatan, kota Kroya mesti akan diingat, karena di kota inilah terdapat persimpangan lintasan kereta api dari arah Yogya yang akan terbagi untuk tujuan Bandung dan tujuan Jakarta. Sebagai lokasi persimpangan jalan kereta inilah maka sering kereta api berhenti untuk kepentingan pintasan antar kereta, khususnya untuk kereta ekonomi. Pada saat berhenti inilah, maka banyak penjual asongan yang menjajakan nasi bungkus yang antara lain menjual menu pecel ini. Walaupun pecel khas Kroya aslinya berisikan kembang kecombrang, namun dalam perkembangannya, banyak juga penjual yang menghilangkan kembang kecombrang dalam menu pecel yang dijualnya. Hal ini mungkin dikarenakan kesulitan pasokan kembang kecombrang saat ini, selain juga banyak konsumen mungkin yang tidak memilih jenis sayuran ini pada pecel yang dipesannya karena aromanya yang terasa asing bagi mereka.

1. 2. Pecel Godhong Cakla-Cikli – Petanahan Kebumen

Seperti yang disebutkan dari namanya, maka pecel ini dapat diterka menggunakan tanaman cakla-cikli dan yang digunakan adalah bagian daun mudanya. Tanaman cakla-cikli sebenarnya merupakan tanaman non produktif dan lebih biasa digunakan sebagai tanaman hias yang banyak digunakan sebagai tanaman pagar. Tanaman ini ditumbuhkan berjajar secara rapat di tepi halaman dan setelah besar dipotong rapi sehingga menyerupai pagar. Daunnya berwarna hijau kekuningan. Daun muda inilah yang digunakan sebagai bahan untuk sayur pecel. Sewaktu kecil saya, malah daun tanaman ini sering digunakan saudara dan teman perempuan untuk bermain membuat minyak yang mirip minyak goreng karena kental dan jernih. Caranya sangat mudah yakni daun yang sudah tua, dimasukkan ke dalam air secukupnya dan diremas-remas, maka perasan yang dihasilkan akan berubah kental. Kebetulan saya tidak memiliki koleksi foto tanaman ini dan dari hasil penelusuran di internet pun belum menjumpai.

Pecel yang menggunakan daun cakla-cikli ini banyak dijumpai di daerah Petanahan, Kebumen. Tanaman cakla-cikli memang banyak dijumpai sebagai pagar hidup di rumah-rumah di daerah ini. Kawasan yang relatif didominasi tanah yang cenderung berpasir di sana ternyata cukup subur untuk dijadikan tempat pertumbuhan tanaman ini meski hanya difungsikan sebagai tanaman pagar dan bukan sebagai tanaman yang dibudidayakan secara khusus.

Kalau menginginkan pecel ini, maka dapat pergi sambil berwisata ke pantai Petanahan, pengunjung dapat memesan pecel ini. Tinggal meminta pecel yang sedap ini dengan bumbu pedas atau tidak. Satu porsi pecel ini disajikan dalam jumlah yang cukup banyak dan ukuran porsi yang mantap. Hanya sayangnya bumbunya terlihat encer dan kurang pekat, walaupun bumbu terlihat merata pada seluruh sayur yang ada. Pecel yang dipesan sering disajikan dalam pincuk yang terbuat dari daun pisang.

Kalau makan di tepi pantai, biasanya sambil makan pecel, saat angin bertiup kencang, maka posisi makan harus menghadap searah dengan angin bertiup. Jika tidak maka pecel yang ada akan mendapatkan bonus tambahan berupa butir-butir pasir yang terbawa angin.

2. 3. Pecel Kembang Turi – Imogiri Yogyakarta

Untuk bahan guna masakan pecel kembang turi ini diperoleh dengan menggunakan bunga yang diperoleh dari pohon turi. Pohon turi (Sesbania grandiflora (L)) merupakan tanaman semi keras yang banyak ditanam oleh para petani karena memang berkhasiat menghasilkan rontokan dedaunan yang dapat berfungsi sebagai pupuk hijau. Pohon turi dapat tumbuh sampai sekitar 5-8 meter menjulang ke atas dan biasa ditanam di tepi-tepi sawah atau halaman. Daun pohon ini menyerupai jenis kacang-kacangan hanya berukuran lebih besar. Pohon turi diketahui memiliki dua jenis ditandai dari bunga tanaman ini yakni ada yang berbunga warna putih dan warna merah keunguan. Umumnya yang digunakan sebagai bahan untuk sayur pecel adalah kembang turi yang berwarna putih.

Pohon turi

Kalau bunga tidak dipetik, maka akan terjadi proses penyerbukan dan perubahan menjadi buah yang berbentuk panjang atau sering dikenal buah polong-polongan. Apabila buah telah matang, maka biji yang terdapat di dalamnya dapat digunakan untuk pembibitan pohon turi. Hampir semua bagian pohon turi dapat dimanfaatkan. Polongnya yang masih muda biasanya juga digunakan sebagai bahan masakkan, sedang biji yang tua dapat dipakai sebagai bahan tempe yang baik karena kandungan protein yang tinggi. Kelopak bunganya berbentuk mirip bulan sabit, setengah melengkung dan saat mekar, akan terbuka, mirip sayap kupu-kupu dengan juluran benang sari berwarna kuning. Benang sari inilah yang memberi rasa pahit saat dimasak, karenanya selalu dibuang atau dibersihkan. Dalam 100 gram bunga itu terdapat 70 persen karbohidrat, 14 persen protein, 3 persen lemak, mineral seperti kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium, vitamin b1, b2, b6, vitamin c dan betakaroten. Oleh sebab itu pemakaiannya sebagai sayur untuk pelengkap lauk pauk makanan penduduk sangat dianjurkan. Bunga turi secara turun temurun dipercaya bisa membantu memperlancar keluarnya air susu ibu, juga untuk mengatasi gangguan sulit buang air besar. Khasiat lain berhubungan dengan kecantikan yaitu sebagai pelembut kulit.

Kembang turi

Pecel yang menggunakan kembang turi ini relatif tidak banyak memiliki perbedaan rasa dari jenis pecel-pecel yang lain. Pada saat belum diracik, pembeli dapat melihat tumpukan kembang turi yang sudah dilayukan dengan disiram air panas, yang terlihat berbeda dari sayuran yang sudah umum lainnya sebagai menu pengisi pecel. Tekstur helaian kelopak kembang turi yang relatif lebih keras dibandingkan sayuran lain yang dicampurkan seperti bayam, maka akan menyebabkan terasa berbeda yakni terasa lebih kenyal dan alot. Namun yang terpenting adalah khasiat kembang turi ini cukup baik karena dipercaya dapat membantu peningkatan daya tahan tubuh.

Pecel kembang turi

Pecel yang menggunakan kembang turi ini banyak dijumpai di daerah Imogiri, Bantul. Pengunjung dapat membeli menu kuliner ini saat berkunjung ke pemakaman Imogiri, pasar Imogiri atau berwisata di gua-gua alami di sekitar Imogiri. Kalau pembeli memesan pecel di warung maka biasa disajikan dalam piring, namun kalau membeli pada penjual keliling, pecel sering disajikan dengan menggunakan pincuk dari daun pohon pisang.

Selain pecel-pecel yang saya sebutkan di atas, sebenarnya masih ada jenis pecel lain seperti pecel Madiun / pecel Ponorogo. Untuk pecel ini yang khas adalah bumbu kacang yang digunakan cukup kental dan disiramkan dalam jumlah banyak, sehingga rasa pecel akan terasa mantap. Pada pecel juga terasa ada aroma jeruk karena biasanya ditambahkan irisan daun jeruk pada bumbu yang digunakan.

Selain pecel sayuran, pada beberapa daerah sering juga dikenal pecel lele. Makanan ini sebenarnya merupakan ikan lele goreng yang disajikan dengan disiram bumbu kuah macam pecel.

Sekian dulu, penulis jadi merasa lapar karena menulis soal makanan yang bikin air liur mengalir ini. Buat pembaca yang ingin mencoba kuliner tadi dapat langsung menuju ke lokasi yang saya tunjukkan di atas. Jika merasa kurang yakin tentu saja cari informasi dulu arah ke lokasi yang diinginkan, atau kalau tetap ingin yakin supaya tidak tidak nyasar, boleh juga mengajak penulis sebagai guide lokal. Jangan khawatir, porsi makan penulis itu tidak banyak kok…..

Tertarik baca tulisan lain ? klik saja link berikut untuk menuju blog kami :
Iqmal Tahir

Iklan

2 responses »

  1. erry berkata:

    mau dong pecelnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s