Beberapa bulan yang lalu, setelah tinggal di Kangar, Perlis Malaysia, di ujung utara semenanjung Malaysia, kemana-mana di dalam kota saya menggunakan sepeda kayuh. Di kota inilah aku tinggal dimana suatu kota dengan penduduknya relatif sedikit dan tidak ada angkutan umum dalam kota yang nyaman kecuali taksi. Kemudahan bepergian paling mudah tentu saja kalau ada kendaraan sendiri. Untuk sementara pada awal kepindahan itu hanya dengan menggunakan sepeda kayuh. Pernah suatu waktu, ban sepeda ternyata kempes dan tidak bisa menahan angin saat dipompa lagi. Hal ini berarti harus pergi ke bengkel untuk menambal ban yang bocor ini. Saat datang ke bengkel dan memberitahu bahwa tayar pancet (hihi… ini artinya bannya bocor, tyre punched). Bayangan saya proses pengerjaannya macam di Indonesia. Eh… ternyata ini tidak. Tukangnya langsung mencopot as roda dan melepas roda dari sepeda, kemudian ban luar dicungkil dan juga ban dalamnya. Ban dalam selanjutnya diambil dan dibuang ke sudut. Dia kemudian pergi ke dalam mengambil kotak berisi ban dalam baru dan memasangnya di roda kembali. Setelah dipasangkan kembali ke roda dan dipompa maka keseluruhan proses selesai tak sampai lima belas menit. Sepuluh ringgit digunakan sebagai pembayaran ban baru dan jasa penggantian.

Tukang tambal ban

Ternyata di Malaysia ini, konsep 3R untuk masalah ban ini jarang dilakukan. Hal ini juga saya alami saat sudah berganti dengan sepeda motor dan mengalami kejadian ban bocor lagi. Bengkel yang menangani langsung membuka roda, melepas ban dalam dan menggantinya dengan ban baru. Saya pikir parah juga nih padahal bisa saja ban itu cuma bocor halus. Saya pikir ini mungkin karena negeri ini penghasil karet nomor satu di dunia, sehingga karet yang digunakan untuk bahan baku ban tersedia banyak. Jadi proses menyelesaikan masalah ban bocor lebih sesuai jika dilakukan dengan jalan mengganti ban yang bocor dengan menggunakan ban yang baru.

Di bengkel yang saya lihat di lokasi, terlihat banyak tumpukan ban dalam yang dionggokan di sudut halaman, ada juga yang dilempar ke atap. Saya merenung, lama kelamaan gunungan ban bekas itu akan diapakan ya ? Itu baru dari satu bengkel, belum lagi untuk bengkel yang lain.

Setelah kejadian ini saya jadi merasa lebih salut pada tukang tambal ban di Indonesia. Mereka tanpa kampanye besar-besaran, sebenarnya sudah peduli kelestarian lingkungan. Di dalam menjalankan tugasnya melayani pengguna jasanya untuk menambal ban kendaraan yang bocor, maka mereka menerapkan prinsip konsep 3R khususnya untuk langkah reduce dan reuse.

Saat ada pengguna kendaraan sepeda motor atau sepeda yang mengalami kejadian ban bocor misal karena tertusuk paku atau kawat, kemudian tukang tambal akan mengerjakan tugasnya. Selanjutnya motor akan disiapkan dan ban yang bocor di periksa. Ada beberapa macam cara yang mungkin dilakukan. Cara pertama adalah dengan melepas roda ban yang bocor dari as roda kendaraan, sedangkan cara yang kedua adalah roda tidak dilepas dari as tetapi cukup dengan mencungkil ban luar dan kemudian ban dalam dapat dikeluarkan. Setelah ban dalam dicungkil maka ban dalam dipompa kembali. Selanjutnya dimasukkan ke ember berisi air untuk dicari bagian yang bocor dan ditandai dengan gelembung udara yang keluar. Dengan menggunakan batang korek api, maka bagian yang bocor tadi ditandai. Setelah ban dikempeskan kembali maka bagian yang bocor tadi dilap dan digosok dengan ampelas supaya permukaannya menjadi kasar. Kemudian diambil potongan karet tipis seukuran 2 centimeter persegi dan diberi lem khusus untuk ditempelkan menutup bagian yang bocor tadi. Bagian ini selanjutnya dipress dengan alat tekan dan dipanaskan secukupnya. Teknik pemanasan yang ada pun bermacam-macam seperti menggunakan pemanas dengan minyak tanah atau menggunakan listrik. Setelah lapisan terlihat rapat maka ban diambil dan dipompa kembali untuk pengujian bahwa sudah tidak bocor lagi. Jika sudah tidak bocor, ban dalam dikempeskan kembali dan dipasang ke roda dan ban luar dikatupkan kembali. Setelah dipompa kembali maka proses tambal ban selesai. Jadi dengan cara ini maka konsep reuse itu berlaku.

tukang tambal ban

Kalau terjadi kasus ban bocor di dekat lubang pentil, maka ban dalam tidak bisa ditambal dan ini harus diganti dengan ban dalam yang baru. Sebenarnya kebocoran ban dalam kasus ini bisa dilakukan Cuma memerlukan waktu lebih lama. Cara pertama adalah dengan melepas katup besi dan dipindah ke bagian yang lain. Selanjutnya lubang yang lama dapat ditambal.

Hal di atas berlaku untuk kendaraan bermotor roda dua, untuk kendaraan besar. Roda harus dicopot dan kemudian dengan mencungkil ban luar, maka ban dalam akan dapat dikeluarkan. Proses penambalan ban dalam relatif mirip dengan penambalan ban dalam roda dua, hanya proses pemanasan perlu waktu lebih lama sehingga tambalan dapat merekat kuat.

Untuk kasus ban kendaraan yang tidak menggunakan ban dalam atau dikenal dengan istilah ban tubeless, maka konsep reuse juga tetap dapat diterapkan oleh tukang tambal ban. Setelah mencari bagian ban luar yang bocor maka dengan menggunakan helaian karet yang dilumuri lem khusus ditusukkan ke lubang ban tempat kebocoran tadi. Karet tidak ditusukkan semua tetapi masih ada sedikit bagian yang tersisa di sebelah luar. Jika ban dipompa kembali maka ban ini sudah tidak bocor lagi.

tambal ban tubeless

Ban yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi adalah ban dalam yang sobek. Kasus seperti ini biasanya karena ban sudah kempes tetapi oleh pengendaranya tetap dinaiki sehingga lubang akan melebar. Tentu saja kalau ban sudah dalam kondisi sobek seperti ini tidak ada jalan lain kecuali harus diganti dengan yang baru.

Untuk ban luar, pergantian biasanya dilakukan saat ban sudah tipis. Hal ini ditandai dengan kembangan atau motif yang tertera di lapisan luar sudah habis. Dari sisi keselamatan berkendara seperti ini mestinya ban yang tipis seperti ini sudah harus diganti dengan ban baru. Dalam prakteknya muncul kreativitas baru untuk memanfaatkan ban luar yang sudah tipis ini. Ban seperti ini dapat dilapis kembali bagian permukaan luarnya dan menghasilkan ban baru dengan motif permukaan yang terlihat baru. Proses ini sering disalah kaprahkan oleh para pelaku dengan nama di-vulkanisir. Ciri ban yang dihasilkan dari proses vulkanisir ini kadang tampak lapisan pada sisi samping ban, bagian dalam yang tampak sudah halus. Kalau dari sisi warna kadang tidak akan tampak, demikian juga dari penampakan permukaan yang ditandai dengan ujung karet seperti rambut. Meskipun efek yang dihasilkan menghasilkan ban yang dapat digunakan kembali, namun dapat menimbulkan bahaya apabila digunakan untuk penggunaan yang memerlukan beban berat seperti untuk truk atau bus. Jangka waktu dari usia ban seperti ini juga tentu tidak seawet ban asli.

Cara lain memanfaatkan ban luar yang sudah tipis adalah dengan proses pengukiran. Ban luar yang sudah hilang motifnya atau motifnya sudah menipis, maka dengan bantuan pisau tajam, motif dapat ditimbulkan kembali dengan pengukiran permukaan ban tersebut. Efeknya adalah terlihat seperti ban baru dengan ukiran motif yang tampak baru. Tentu saja sebenarnya ketebalan ban tidak bertambah, malah akan berkurang. Hal ini tentu saja akan menimbulkan resiko dalam pemakaiannya khususnya apabila digunakan untuk kendaraan berat atau kendaraan dengan laju tinggi.

Meskipun dua langkah terakhir ini juga termasuk proses reuse tetapi praktis ada resiko terhadap keselamatan pengguna nantinya. Kalau proses recycle bisa dilakukan dalam jumlah besar, mungkin ban-ban bekas ini perlu ditampung terlebih dahulu untuk kemudian di bawa ke pabrik untuk didaur ulang. Namun karakteristik material ban ini ternyata tidak dapat didaurulang dengan mudah seperti material logam. Bahan karet alam berupa lateks di pabrik akan diolah melalui proses polimerisasi yang bersifat tidak reversibel saat diproduksi menjadi ban. Oleh karena itu proses daur ulang ban juga tidak dapat dilakukan. Jadi jika diinginkan cara mengatasi limbah ban bekas ini mestinya hanya dengan jalan reduce atau reuse saja. Untuk konsep reuse yang paling mungkin adalah dengan jalan menggunakan ban sebagai bahan bakar untuk tungku pembakaran kapur atau tungku pabrik semen.

Jadi langkah tukang tambal ban di Indonesia yang masih bersedia menambal ban bocor, sebenarnya perlu diacungi jempol juga.

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s