Saya pernah menulis artikel tentang perlunya cara aman bagi para pengendara sepeda motor di jalan raya untuk menghindari gas buang knalpot yang dihasilkan oleh pengendara lain (dapat dibaca di sini). Di tulisan itu diibaratkan kalau gas knalpot itu sebagai kentut karena sama-sama berbentuk gas dan berbau, bahkan boleh disebut beracun. Kalau orang mencium bau kentut, otomatis dia merasa resah dan mencari biang kerok sumbernya, dan yang buang angin itu akan merasa malu atau bersalah. Tetapi kalau di jalan raya ini berbeda, kalau ada asap knalpot yang keluar, yang kena tidak merasa aneh dan yang buang angin pun tidak merasa bersalah. Bagi pengendara sepeda motor, hal ini sebenarnya perlu diperhatikan untuk menghindari efek kesehatan jangka panjangnya, apalagi memang untuk para bikers yang sehari-hari mengarungi jalan raya untuk menjalankan aktivitasnya.

Kalau di tulisan itu saya pada dasarnya telah menuliskan beberapa kiat menghindari gas buang knalpot itu, misal dengan menggunakan masker muka, helm rapat, memilih posisi untuk tidak berada di kendaraan yang mengeluarkan asap tebal, dan lain-lain. Bagi pemilik kendaraan disarankan juga untuk selalu merawat mesin motor, menjalankan kendaraan secara normal dan menyetel stasioner gas secara optimum.

Pada tulisan itu juga disinggung tentang pentingnya beralihnya penggunaan motor jenis mesin 2 tak menjadi motor dengan mesin 4 tak. Hal ini karena pertimbangan polusi yang relatif lebih sedikit. Langkah ini ternyata secara tidak sengaja sudah saya terapkan sejak dulu karena motor-motor yang ada selalu adalah motor 4 tak. Motor ini tidak menggunakan oli samping yang digunakan pada pembakaran mesinnya. Hasilnya asap knalpot yang dihasilkan pun relatif lebih bersih.

Kalau di Yogya saya konsisten dengan prinsip itu, tetapi kemudian saya kuwalat saat di Malaysia sini. Sekarang ini saya malah menggunakan sepeda motor dengan mesin 2 tak yang berpotensi untuk membuat kentut dan mengenai para pemakai kendaraan lain. Tadinya memang mau beli motor sendiri, tapi kemudian malah supervisor saya disuruh memakai motor yang sudah tidak dipakai lagi sama anak beliau. Ya sudah, terpaksa menelan ludah kembali.

Motor dengan mesin 2 tak yang sekarang jadi andalan hilir mudik. Asli bukan mak rempit lho..

Motor dengan mesin 2 tak yang sekarang jadi andalan hilir mudik. Asli bukan mak rempit lho..

Yang jelas jangan kuatir, selama berkendara, saya juga tahu diri kok. Mesin motor tetap dirawat baik sehingga pengeluaran asap tidak terlalu banyak. Saat pagi, juga memanaskan mesin cukup seperlunya saja. Dalam berkendara, juga tidak ngebut-ngebut sangat, kecuali saat-saat tertentu saja. Kalau di lampu merah juga saya atur biar selalu langsung dapat hijau atau kalau memang harus berhenti maka diatur supaya tidak terlalu lama.

Poin terakhir yang saya tuliskan disini adalah tentang julukan mak rempit setelah beberapa lama memakai sepeda motor ini. Ternyata jenis ini merupakan khas tunggangan untuk mak rempit. Istilah mak rempit ini untuk menyebut preman yang hobbynya balapan liar atau bahkan kadang untuk sebutan kriminal yang hobbynya merampas atau menjambret. Tapi tak apalah, sebutan mak rempit kan cuma sebutannya saja, masak ada sih mak rempit yang tiap hari kerjanya di lab. Mana ada mak rempit yang hobbynya posting artikel di kompasiana. Hehe…

Iqmal Tahir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s