Spamming adalah aktivitas di suatu forum, mailing list, atau bahkan ke email atau web pribadi yang menyebarkan informasi tertentu secara massal dengan tidak memperhitungkan kerugian bagi para penerimanya. Aktivitas spamming ini dilakukan dengan tujuan publikasi blog/website, penyebaran hoax, penawaran produk, memancing informasi data pribadi (akoun dan password) atau bahkan penyebaran virus. Bagi kebanyakan orang, spamming ini akan sangat mengganggu selain manfaatnya yang tidak ada, mengurangi bandwith internet, bahkan dapat jadi bahkan cenderung merugikan misal terpancing memberikan data pribadi atau bahkan tidak sengaja mendownload suatu program virus. Untuk itulah di dalam penggunaan internet saat ini diperlukan pemahaman akan netiket (etiket dalam berinternet) serta pengenalan rambu-rambu dalam beraktivitas (misal dalam mailing list atau dalam citizen blog).

Kasus yang mirip spamming di Kompasiana juga pernah terjadi. Kompasiana merupakan salah satu bentuk citizen blog dengan jumlah anggota yang cukup besar. Anggota dapat mengirim posting berita, komentar ataupun cuma aktif sebagai pembaca. Perkembangan situs Kompasiana ini ternyata cukup menakjubkan dan hal ini pun memancing spammer untuk beraktivitas di sana.

Terdapat beberapa aktivitas spamming yang tercatat pernah terjadi dan menghebohkan di Kompasiana. Hal ini menjadi ramai dan bahkan menjadi suatu bahan postingan artikel di sana. Contoh yang masih saya ingat adalah :

Kasus mahasiswa teknik elektro salah satu universitas negeri di Padang yang beramai-ramai membuat spamming di komentar artikel kompasiana untuk menuju ke website jurusan, fakultas dan universitas. Saat itu ada banyak sekali anggota baru sebagian menggunakan nama mirip nama orang asli, tetapi sebagian diduga nama samaran. Para kompasianer baru ini banyak sekali memberi komentar di berbagai artikel dengan isi komentar sangat singkat seperti terimakasih atau apa, bahkan banyak komentar yang sepertinya tidak ada relevansinya dengan isi postingan. Di akhir komentar itu terdapat link yang diberikan oleh penulis untuk menuju situs Jurusan, Fakultas dan Universitas tempat yang bersangkutan kuliah. Setelah diusut ternyata ada yang mengaku bahwa mereka melakukan itu karena tugas pembuatan link oleh dosen pengajar. Dalih disuruh dosen dengan memanfaatkan media umum seperti ini tentu saja sangat tidak sehat dari sisi netiket. Tujuannya jelas bahwa dosen tersebut ingin memanfaatkan mahasiswanya untuk menaikkan jumlah pengunjung yang berasal dari kompasiana. Kesan negatif akan sangat dirasakan oleh para penerima spam atau pembaca kompasiana terhadap dosen dan institusi yang bersangkutan. (Berita ini dimuat dalam artikel : Aktivitas Nyampah di Kompasiana)

Kasus yang lebih terbaru adalah peristiwa dimana ada seorang kompasianer baru yang melakukan 46 posting dalam waktu 3 jam. Ternyata isi tulisan berupa artikel yang tidak lengkap dengan isi berupa pengantar yang kemudian diberikan link ke blog yang bersangkutan untuk melanjutkan akhir dari isi tulisan tersebut. Apabila postingan seperti ini hanya satu atau dua saja mungkin tidak akan dipermasalahkan walaupun membuat pembaca kesal saja. Bayangkan, mau mencapai klimaks kok disuruh pindah tempat dulu. Tetapi kalau yang terjadi adalah sejumlah postingan 46 artikel dengan tipe serupa, maka hal ini sudah termasuk kategori spamming. Kasus-kasus seperti itu mungkin terjadi karena berharap pengunjung blog yang bersangkutan menjadi meningkat. Dengan traffic meningkat maka status website dalam ranking pun akan meningkat. Pemilik blog tersebut mungkin terbuai setelah membaca artikel-artikel tentang optimasi SEO atau yang sejenis. (Baca postingan ini lebih lanjut : Posting 46 Tulisan di Kompasiana)

Kemudian beranjak dari kasus-kasus tersebut maka saya tercenung. Dengan introspeksi kepada diri sendiri maka mungkin hal-hal seperti itu juga pernah saya lakukan. Saya juga bisa ikut kena tuduhan kategori spammer nih. Terdapat beberapa hal yang mungkin menjadikan saya termasuk melakukan aktivitas spamming di Kompasiana.

Pertama :

Pada profil yang tertera di bagian nama diri, saya mencantumkan suatu link menuju blog pribadi. Kutipan di profil saya adalah sebagai berikut :

Link profil

Tapi ternyata ada pembaca yang serupa. Jadi kalau hal ini mau disemprit, saya juga boleh melaporkan profil kompasianer lain yang melakukan hal serupa. Bahkan ada yang jauh lebih vulgar dengan menuliskan alamat situs lengkap, serta ada yang lebih dari satu alamat.

Kedua :

Saya berusaha membuat bentuk tulisan postingan yang khas untuk artikel yang saya tulis. Hal yang paling mudah adalah dengan membuat penutup artikel berupa tulisan yang mengajak pembaca berkunjung ke blog pribadi saya. Bagian gambar yang merupakan gambar nama khas yang merupakan link ini adalah sebagai berikut :

Link penutup

Pada setiap akhir artikel, saya cantumkan nama dalam format gambar (jpg) sebagai penutup, tetapi gambar tersebut merupakan link yang mengarah pada blog pribadi. Jadi pembaca dapat mencoba mengklik gambar tersebut, maka akan terbuka page baru yang menampilkan blog pribadi saya.

Ketiga :

Pada beberapa kasus isi tulisan, seringkali terdapat rujukan yang ternyata mengarah pada ke link artikel di blog pribadi. Beberapa artikel saya ternyata sering memiliki keterkaitan dengan isi artikel sebelumnya, untuk membantu pembaca memperoleh sisi lain atau melengkapi gambaran isi artikel tersebut, maka saya berikan link untuk menuju artikel tersebut. Hal yang menjadi masalah adalah karena alasan bahwa artikel saya yang diupload ke kompasiana, sebenarnya juga diposting ke blog pribadi di alamat ini. Mengingat artikel selalu dibuat untuk kepentingan blog maka link yang ada selalu juga menuju yang ke blog. Pada saat artikel di copy – paste untuk diposting ke kompasiana, yang sering terlupakan adalah mengganti alamat link artikel tersebut. Contoh artikel dengan kasus-kasus seperti ini adalah dengan judul-judul :

Di kompasiana, ternyata ada postingan yang macam ini juga, jadi mestinya sah-sah saja. Yang jelas khusus untuk artikel saya, tulisan diposting secara lengkap, tidak memaksa pembaca membaca kelanjutan cerita yang hanya ada di versi blog saja.

Keempat :

Sering ada artikel yang memuat isi tulisan terkait dengan artikel yang pernah saya tulis di blog. Saya kadang membuat komentar tentang hal itu. Tetapi biasanya secara spontan saya ingin mengajak penulis untuk membaca artikel tersebut sehingga punya pandangan lain, oleh karena itu sering saya menuliskan link artikel di blog saya pada bagian komentar ini.

Contoh kasus ini adalah :

Link dalam komentar

Kelima :

Untuk artikel wisata saya sering tertarik setelah membaca artikel reportasi kunjungan wisata suatu daerah. Terkadang artikel ini dilengkapi dengan foto-foto lokasi, tetapi sering juga artikel hanya berupa tulisan dan tidak ada foto pendukungnya. Dari sini saya kadang sering otomatis memberikan komentar tentang lokasi tersebut dan memberikan link galeri wisata yang ada di blog saya.

Contoh galeri wisata yang ada di blog saya dan saya sering cantumkan ke komentar di kompasiana adalah :

Dari lima dosa tersebut, maka saya pasrah kalau harus disemprit oleh Admin jika hal ini termasuk dinilai sebagai kategori aktivitas spamming. Akhirnya sekali lagi mohon maaf (sekaligus mengucap terimakasih juga, dimohon agar sudi datang menjenguk kembali) kepada para pembaca yang telah berkunjung ke blog saya melalui link di kompasiana. Mohon maaf juga bagi kompasianer yang membaca artikel ini, yang terkesan spamming juga nih…

Iqmal Tahir

Catatan penutup :

Akhirnya saya dapat juga membuat artikel yang pas dan layak untuk dimasukkan di kategori New Media. Sebelumnya hampir tidak pernah punya ide yang bisa ditulis yang pas di kategori New Media ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s