Di tempat tinggal saya, baik di Banyumas maupun di Yogyakarta sekarang, banyak dijumpai ketupat. Ketupat sudah menjadi makanan khas di tanah air. Ketupat biasa dihidangkan sebagai pengganti nasi pada makanan soto, pecel atau makanan lainnya. Ketupat juga biasa disajikan sebagai makanan pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari raya Idul Fitri.

Ketupat dari daun kelapa

Ketupat dari daun kelapa

Ketupat ini dapat berfungsi sebagai pengganti nasi putih biasa. Ketupat merupakan olahan dari beras yang dimasak dengan jalan direbus, tetapi berasnya dimasukkan pada wadah selongsong terbuat dari anyaman daun kelapa. Butiran beras akan menyerap air dan selanjutnya ukuran butiran akan membesar sehingga memenuhi ruang selongsong yang tersedia. Pada satu selongsong ketupat biasa diisi dengan beras sekitar seperempat volume ukuran yang ada dan jangan terlalu banyak. Proses perebusan ketupat ini biasanya memakan waktu lama hampir tiga kali lipat yang diperlukan untuk menanak nasi biasa. Hal ini karena diperlukan proses pemasakan butiran beras supaya lunak dan bersifat lengket, yang selanjutnya dapat menyatu antar partikel beras. Kalau pada proses pembuatan bubur, butiran beras juga menggunakan air yang cukup banyak dan dimasak lama, namun karena beras tidak dimasukkan dalam wadah selongsong dan juga sambil diaduk, maka butiran beras hanya akan berubah lembek tetapi tidak menyatu. Produk ketupat yang baik adalah setelah bungkus selongsong dibuka, diperoleh bentuk utuh ketupat sesuai wadahnya dan tidak terurai menjadi butiran kembali. Cara penyajian selanjutnya adalah dengan jalan dibelah atau dipotong-potong menggunakan pisau sesuai selera.

Selongsong ketupat yang umum adalah dengan menggunakan anyaman dari daun kelapa muda atau dikenal dengan istilah janur kelapa. Janur ini dipetik dari tunas daun yang masih muda dari pohon kelapa, mengerucut di pucuk pohon dan belum mekar. Janur ini dapat dipisahkan dari susunan tangkainya dan kemudian dilepas dari bagian lidinya. Mengingat masih muda maka helaian janur ini terlihat lemas dan dapat dianyam dengan mudah, tetapi sudah cukup kuat dan tidak mudah sobek. Anyaman daun kelapa ini memiliki banyak sekali variasi baik dari sisi ukuran maupun bentuknya. Faktor yang tidak kalah penting adalah penggunaan daun kelapa tidak memberikan pengaruh warna atau cita rasa terhadap ketupat yang dihasilkan. Tradisi penggunaan daun kelapa sebagai bahan pembungkus ketupat ini rasanya sudah berlangsung lama dan telah dikenal oleh berbagai masyarakat di seluruh Indonesia.

Pembuatan selongsong ketupat dari daun kelapa.

Pembuatan selongsong ketupat dari daun kelapa.


Penjual selongsong ketupat saat lebaran.

Penjual selongsong ketupat saat lebaran.


Di era kemajuan seperti ini, permasalahan selongsong ketupat sering dijumpai. Untuk di daerah, daun kelapa dapat dipetik dari pohon yang ada di daerah tersebut dan kemudian langsung dianyam. Tetapi kalau di daerah perkotaan, maka daun kelapa harus didatangkan dari daerah lain. Untuk pengayaman daun, tidak semua orang bisa mengayam daun menjadi selongsong ketupat. Meskipun sebenarnya mudah, tetapi tetap saja diperlukan keterampilan untuk menganyamnya. Saat ini banyak orang yang menganyam daun kelapa untuk dijual sebagai selongsong ketupat. Kalau menjelang lebaran maka selongsong ini banyak dijumpai dijual di pasar-pasar. Pada hari-hari biasa, tidak banyak orang yang menjual selongsong ketupat dari daun kelapa ini.

Berawal dari masalah ini kemudian orang berpikir untuk mencari alternatif lain pengganti selongsong ketupat dari daun kelapa. Bahan yang kemudian digunakan adalah plastik pembungkus. Plastik ini tersedia banyak di toko atau pasar untuk digunakan sebagai pembungkus barang. Plastik ini kebanyakan tipis dan transparan, tersedia dalam berbagai ukuran dan jenis ketebalan. Untuk bahan selongsong ketupat, maka penggunaannya juga relatif hampir sama. Butiran beras diisikan secukupnya ke dalam plastik dan ujung bagian plastik yang terbuka direkatkan dengan bantuan lilin, panas api atau menggunakan alat press (hot press).

Ketupat pakai pembungkus plastik.

Ketupat pakai pembungkus plastik.

Ketupat plastik, kalau di negeri jiran disebut nasi impit.

Ketupat plastik, kalau di negeri jiran disebut nasi impit.

Kalau pada anyaman daun kelapa, selama pemanasan, air dapat masuk ke dalam rongga dengan mudah melalui sambungan anyaman. Untuk selongsong ketupat dari plastik, supaya air dapat masuk, maka dinding plastik harus dilubangi dengan jalan ditusuk-tusuk di beberapa bagian.

Sepertinya dari sisi rasa, nasi ketupat yang dibuat dari selongsong plastik ini juga tidak berbeda jauh, namun kalau dikaji lebih jauh, sebenarnya ada risiko tertentu akibat penggunaan plastik ini. Plastik pembungkus biasanya dibuat dari polimer jenis polietilen atau polipropilen. Apabila terkena pansa dalam waktu yang relatif lama maka akan ada bahan aditif plastik yang terlepas dari bahan. Kalau pada proses pembuatan ketupat ini, tentu saja pelepasan bahan kimia ini akan keluar ke air rebusn dan sangat mungkin terserap dan tertinggal sebagai residu di dalam butiran nasi ketupat. Beberapa jenis bahan polutan ini terdapat yang bersifat karsinogenik, sehingga kalau ketupat termakan maka bahan kimia ini akan ikut terakumulasi dalam tubuh. Hal inilah yang seharusnya dihindari sejauh mungkin.

Beranjak dari pemikiran terjadinya risiko di atas, maka hendaknya kita sebagai konsumen ketupat hendaknya selalu waspada. Jika akan membuat ketupat sendiri, mestinya menggunakan selongsong dari daun kelapa saja, baik hasil anyaman sendiri atau pun membeli selongsong yang sudah jadi. Kalau akan membeli produk kuliner yang menggunakan ketupat, juga hendaknya selektif melihat ketupatnya tersebut. Kalau melihat penjual makanan yang menggunakan ketupat tapi dengan bahan plastik hendaknya berperan aktif untuk memberitahu dan menganjurkan penjualnya agar beralih dengan tidak lagi menggunakan plastik untuk bahan selongsong ketupat.

Kesehatan tubuh itu sangat mahal harganya. Demikian juga kita perlu menghindarkan diri dari ancaman bahaya karsinogenik yang ditimbulkan saat pemanasan plastik selongsong ketupat ini. Untuk itu kewaspadaan dan kepedulian kita harus selalu ditingkatkan. Semoga bermanfaat.

Iqmal Tahir

2 responses »

  1. MI Islamiyah 01 Rakit mengatakan:

    matur nuwun ngelmune

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s