Bagi anak muda, kegiatan yang terkait pecinta alam sudah jamak dan banyak dilakukan sebagian kalangan, baik yang terorganisir di klub sekolah atau kampus maupun yang sekedar kumpulan beberapa orang. Aktivitas ini yang terutama adalah mendaki gunung, selain aktivitas lain berupa penjelajahan gua, scuba diving atau aktivitas alam lainnya. Kalau dilihat dari namanya sebagai pecinta alam, mestinya aktivitas ini hendaknya juga dilakukan dengan bukti dan implementasi yang benar-benar mendukung kelestarian alam. Namun saat ini banyak dijumpai trend aktivitas alam tetapi disertai dengan kegiatan yang destruktif cenderung merusak alam berupa kegiatan vandalisme di alam terbuka. Aksi vandalisme atau corat-coret merusak banyak dijumpai di gunung atau media di alam lainnya. Contoh vandalisme ini saya jumpai saat tanggal 23 Juli kemarin yakni saat mendaki gunung Merapi.

Foto bersama yang dapat lebih indah lagi kalau batunya bebas dari vandalisme.

Foto bersama yang dapat lebih indah lagi kalau batunya bebas dari vandalisme. (Dok. pribadi : Iqmal)

Bagi saya, mendaki gunung Merapi saat itu adalah sudah untuk yang ketiga kalinya. Mendaki gunung yang merupakan hobby pecinta alam bagi anak muda, kalau bagi saya kadang-kadang selalu membangkitkan rasa ragu apakah dapat terlaksana dan kesampaian sampai puncak. Terkadang rasa ketagihan untuk mengulang mendaki kembali selalu saja ada. Seperti waktu minggu kemarin itu keinginan ini mengalahkan keraguan tadi karena terbukti akhirnya sampai puncak Merapi juga.

Berbeda dengan acara pendakian yang sebelumnya, suasana gunung Merapi cenderung banyak berbeda. Meskipun perjalanan pendakian dilakukan malam hari tetapi tetap saja tertangkap mata banyak sekali ulah tangan iseng berupa aksi vandalisme yang berlebihan. Aksi vandalisme yang berupa kegiatan iseng dan tidak bertanggung jawab dari beberapa orang berupa coret-coret di berbagai tempat atau fasilitas umum. Media corat-coret yang umum adalah berupa tembok, dinding atau obyek lain agar dapat dibaca secara luas, berupa tulisan nama orang, nama sekolah, nama gank atau tulisan-tulisan lain tanpa makna berarti. Tetapi di gunung Merapi ini, media untuk aksi ini dapat berupa batang pohon atau batu-batuan besar yang ada di lokasi pendakian.

Berbagai coretan yang umumnya adalah nama orang, nama klub, sekolah atau kota asal, bahkan kadang disertai waktu penulisan. Kalau di batang pohon, maka tulisan ini harus dilakukan dengan pisau atau ujung logam yang tajam untuk menoreh permukaan kulit kayu. Kalau di permukaan batu, maka aksi coret-coretan dapat juga dilakukan dengan mengorek menggunakan pisau atau obeng, tetapi yang lebih banyak adalah dengan menggunakan cat semprot, spidol atau tip ex. Aksi vandalisme yang lain adalah dengan menggunakan batu-batu kecil yang disusun di atas permukaan pasir dengan membentuk formasi huruf, sehingga dari kejauhan akan terlihat kata yang dibentuk.

Dari kegiatan ini mungkin bagi yang bersangkutan memberikan rasa bangga tetapi bagi alam itu sendiri atau orang lain jadi terasa menyesakkan pemandangan. Suasana alami yang diharapkan akan ternoda dengan keberadaan tulisan-tulisan yang tidak karuan dan sama sekali tidak memiliki rasa seni.

Beberapa hasil aksi vandalisme yang sempat saya dokumentasikan disajikan pada bagian berikut.

Hasil vandalisme di pagar basecamp pemberangkatan New Selo.

Hasil vandalisme di pagar basecamp pemberangkatan New Selo.

Batu besar di dekat puncak yang tak luput dari vandlisme.

Batu besar di dekat puncak yang tak luput dari vandlisme. (Dok. pribadi : Iqmal)

Coretan tanpa makna berarti yang merusak alam dan pemandangan.

Coretan tanpa makna berarti yang merusak alam dan pemandangan. (Dok. pribadi : Iqmal)


Vandalisme dengan merusak struktur batu.

Vandalisme dengan merusak struktur batu.


Susunan batu membentuk formasi tulisan di kawah mati.

Susunan batu membentuk formasi tulisan di kawah mati.


Saya pernah membaca postingan artikel di kompasiana ini yang menyajikan kegiatan positif dari para pecinta alam berupa aksi bersih-bersih alam menghapus vandalisme ini. Salut dan penghargaan buat para pelaku kegiatan seperti ini.

Ke depan hendaknya para pendaki gunung yang mestinya mengaku sebagai pecinta alam agar dapat memiliki kesadaran untuk tidak melakukan aksi vandalisme ini. Jangan biarkan orang lain yang harus memikul tanggung jawab untuk menghapus coretan-coretan hasil aksi anda.

Iqmal Tahir

PS1. Tulisan ini sebenarnya segera setelah pendakian tetapi tidak langsung disempurnakan dan diposting segera. Beberapa hari lalu ada aksi vandalisme yang dilakukan oleh Pong Harjatmo yang sebelumnya harus mendaki gedung kura-kura DPR. Berdasarkan alibi ini, saya berkeyakinan bahwa Pong Harjatmo tidak terinspirasi dari tulisan ini. Dengan demikian saya tidak ikut bertanggung jawab atas vandalisme Pong Harjatmo itu lho….

4 responses »

  1. abenk mengatakan:

    nice info….salam kenal
    check it out.. click

  2. nur shafikah mengatakan:

    ada kenangan manis untuk dikenang.
    teringin!

    • Iqmal mengatakan:

      wah, kenangan yang mungkin kalau diulang lagi itu sudah berubah tuh…. minimal berubah setting lokasinya gara-gara letusan 2010 kemarin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s