Beberapa hari ini aku seperti kehabisan minat untuk menulis. Pikiran seperti buntu untuk mengeluarkan angan-angan dan gagasan yang harus dikeluarkan sebagai katarsis. Terkadang memang sepertinya ingin meledak di dalam kepala tetapi begitu melihat laptop yang sudah aktif, aktivitasku ini menjadi diam kembali.

Berbagai gagasan tentang ilmu yang sehari-hari ketekuni, kembali lenyap. Masalah lingkungan yang menjadi minatku pun yang terasa akan meloncat dari kepala, tiba-tiba berhenti saat kesepuluh jari-jari ku berhenti mogok. Bahkan masalah keluarga yang biasa aku dapat sajikan secara lancar, sekarang pun kehabisan kata-kata. Tulisan gosip murahan yang biasanya menjadi produk sampingan untuk menopang isi dompetku pun ikutan macet. Jari-jariku melakukan aksi unjuk rasa dengan mogok massal. Bahkan jika mungkin jari kaki bisa digerakkan untuk mengetik pun, rasanya akan ikut mogok.

Rasanya aku ingin seperti Ebiet G Ade di beberapa tahun yang lalu. Dia dengan gigih dan bersemangatnya, dapat membangkitkan pena yang tajam. Menuliskan gagasan dan perasaan melankolisnya dengan huruf yang ditulis tebal-tebal. Keseharian dan pengamatan alam di sekitarnya dapat ditulis dengan baik dan menjadikan nada-nada yang abadi. Tetapi atas nama trend dan popularitas tema maka semuanya terkalahkan dengan tulisan guna memenuhi kolom yang disukai pembaca.

Aku letih…

Benar-benar letih….

Atas nama hukum supaya tidak dikenai pasal pencemaran nama baik. Atas nama etik sosial supaya tidak dianggap melanggar norma ketimuran kita. Semua tulisan dan kalimat yang mengarah pada orang-orang itu tidak boleh disebutkan dengan nama pelaku yang bersangkutan. Semuanya harus diimbuhkan dengan kata awalan ‘mirip’. Padahal jelas-jelas sudah disebutkan 99 % adalah benar yang bersangkutan, mengapa tetap harus disebutkan dengan ‘mirip’ juga. Padahal dalam perkembangannya jelas sudah ada yang mengakui, mengapa masih ada yang harus menuliskan perkataan ‘mirip’ juga.

Aku heran kepada banyak orang yang mau menuliskan perkataan ‘mirip’ di hampir setiap kalimatnya dengan cermat. Tidak ada satupun yang melakukan keshilafan dengan terlupa tanpa diawali dengan kata ’mirip’. Begitu saktinya kata ’mirip’ ini untuk melindungi mereka dari resiko dituntut status dakwaan atau tuduhan karena pencemaran nama baik. Mereka dengan sadar dan penuh inisiatif untuk selalu menuliskan kata ’mirip’ ini.

Saat aku mencoba menuliskan pemikiran yang sama, opini yang sama, komentar yang sama, aku pun tidak berani untuk menghilangkan kata ’mirip’ ini. Padahal hati nurani dan analisis fakta yang terbentang pun menyarankan untuk mengabaikan pencantuman ’mirip’ untuk mengawali nama terkait. Jari-jemariku pun dipaksa untuk bergerak tambahan mengetikkan kata ’mirip’ ini. Telunjuk kanan bertugas menekan tombol m, jari tengah kanan bertugas pada tombol i sebanyak dua kali, telunjuk kiri kebagian tugas pada tombol r dan terakhir jari kelingking kanan pada tombol p. Empat jari ini terpaksa melakukan tugas tambahan untuk selalu bergerak menghasilkan perkataan ’mirip’ di rangkaian kata-kata yang tertuang di layar.

Meskipun sebenarnya hanya tugas tambahan merangkai kata yang terdiri dari lima aksara ini, akan tetapi karena harus dikerjakan di seluruh rangkaian kalimat yang ada, maka tugas tambahan ini benar-benar menjadikan beban. Beban yang lama kelamaan pun akan menjadi memuakkan. Saat memuncak inilah maka jari jemariku pun kompak mogok demi solidaritas pada keempat jari yang bertugas ekstra ini. Bahkan solidaritas ini menjalar ke jari jemari kaki dengan ekspresi kesemutan yang menuntut perhatian untuk dipijat. Benar-benar meletihkan….

Sebenarnya cantik, tapi karena munafik, ya gimana gitu ???

Sebenarnya cantik, tapi munafik, ya gimana gitu ???

Sekali lagi, aku benar-benar letih…terlebih saat menjelang waktu-waktu deadline seperti ini….

Coba saja engkau tidak munafik dari dulu… Langsung memberikan pengakuan dengan tulus dan ikhlas… Mungkin saja sekarang aku tidak letih dan jari-jariku mau berkompromi….

Seiring dengan waktu, walau di mataku kau tetap munafik. Ku berharap dapat mengembalikan pulihnya keletihan jari jemariku untuk kembali mau mengetik. Dan yang jelas jangan paksa jemariku untuk mengetik kata ’mirip’ kembali. Peduli secantik apapun kamu, kalau tetap tidak mengaku, ya tetap munafik.

…………….

Pukul 23.58, hape ku bergetar ada sms masuk. Tanpa melihat nama pengirim aku langsung tahu dari siapa. “Mas, artikelnya ditunggu nih. ASAP”.

Pukul 23.59, cuma sempat menulis dan mengirimkan sms balasan “Sebentar kurang 5 huruf lagi.

…………….

Sudut Semenanjung, Agustus 2010.

Ps1. Foto ilustrasi adalah tulisan di Mikrobus Jurusan Dieng-Wonosobo (Dokumentasi pribadi. Iqmal).

Ps2. Ini diketik sambil diiringi mp3 Kupu-kupu Kertas – Ebiet G Ade

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s