Menjelang puasa, selain persiapan diri dan keluarga untuk menyambut bulan suci Ramadhan, juga terdapat banyak kegiatan lain yang dilakukan orang. Meskipun banyak yang tergolong sebagai bukan rukun puasa yang wajib dilaksanakan, tetapi tetap saja dilakukan, seperti kegiatan ritual padusan dan nyekar di makam keluarga. Kegiatan nyekar di makam keluarga dilakukan untuk mengingat kembali para pendahulu baik orang tua atau kakek yang sudah meninggal, dan juga mendoakan bagi mereka agar mendapatkan tempat yang sesuai di sisi-Nya.

Acara tebar bunga saat nyekar.

Acara tebar bunga saat nyekar.


Seyogyanya kewajiban kita untuk mendoakan dapat dilakukan di mana saja, namun banyak orang yang merasa wajib untuk datang ke makam. Pilihan waktu untuk nyekar yang juga sebenarnya bebas pun dipilih pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan puasa ini. Kegiatan nyekar ini terutama adalah berupa bersih-bersih areal makam dan berdoa di dekat makam. Namun ada satu hal lagi yang kadang jadi satu rangkaian acara nyekar ini yakni tabur bunga di atas tanah makam.

Terkait dengan hal itu, saya jadi ingat pada satu kegiatan ekonomi berupa jual beli bunga tabur yang meningkat menjelang bulan puasa ini. Dari sini saya teringat lagi ada papan nama yang menarik untuk promosi bunga tabur ini. Ada satu papan nama dan spanduk toko di bilangan Yogyakarta yang sering membuat orang tersenyum saat melihatnya. Kalau berjalan dari arah perempatan Wirobrajan ke timur, maka kira-kira 200 meter kemudian di sisi selatan jalan ada papan bertuliskan “Warung Makan Roh Halus”.

Papan nama warung makan roh halus.

Papan nama warung makan roh halus.

wihans.web.id)

Papan nama warung makan roh halus (sumber : wihans.web.id)

Sesuai dengan apa yang tertulis di papan nama tersebut, ternyata toko kecil tersebut yang menjual beberapa jenis bunga untuk acara nyekar atau tabur bunga di makam. Di toko tersebut, tersedia beberapa wadah besar yang masing-masing berisikan bunga mawar, melati, kantil, kenanga, bunga selasih, daun pandan dan beberapa jenis lainnya. Yang terlihat dominan dan mencolok tentu saja adalah bunga mawar yang berupa jenis mawar lokal dengan warna merah dan putih. Bunga mawar ini dipasok dari daerah Tegalrejo, Magelang atau daerah Bandungan, Semarang. Untuk bunga yang lain dipasok dari daerah di sekitar Yogyakarta saja.

Di beberapa pasar tradisional di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, masih dijumpai juga satu atau dua penjual bunga tabur di dalam pasar. Mengingat pasar hanya beroperasi dari pagi dan tutup sampai siang hari saja, kemudian berkembang muncul toko yang khusus berjual beli bunga tabur ini. Jam buka toko seperti ini kadang sampai malam, sehingga orang sudah tahu kemana akan membeli bunga tabur ini. Kalau di Yogyakarta, selain di Wirobrajan juga ada di daerah Pakualaman.

Pada tradisi di Jawa, acara nyekar di makam atau kirim doa dengan jalan ziarah kubur memang masih sering dilakukan. Pada saat ritual ini, orang datang ke makam menengok kuburan almarhum/almarhumah, membersihkan area cungkup kuburan dan kemudian mendoakan arwah yang bersangkutan. Ritual ini kemudian akan terasa kurang lengkap jika setelah makam dibersihkan tetapi kemudian tidak ditaburi dengan bunga. Untuk itu seringkali sebelum datang ke makam, orang akan membeli bunga tabur terlebih dahulu.

Orang membeli bunga tabur untuk acara nyekar atau ziarah kubur ini, kira-kira seukuran keranjang bambu kecil. Bunga sejumlah itu dapat digunakan untuk ditaburkan pada satu makam. Di dalam keranjang lengkap berisikan mawar merah, mawar putih serta sering ditambahkan beberapa helai bunga kantil atau kenanga. Bunga yang ditaburkan ini akan memberikan semerbak keharuman pada areal makam, terlebih saat disiram dengan air di atas tanah makam tersebut. Bau harum inilah yang membuat makam terasa suasana khusus. Hanya saja patut diingat bahwa daya tahan bunga mawar jenis ini, setelah dipetik tanpa tangkai dan direndam air, adalah sangat singkat. Kesegaran bunga hanya bertahan paling lama dua hari, kecuali kalau dijaga kelembabannya dengan disiram air mungkin akan dapat bertahan lebih lama. Setelah kering tentu saja tidak lagi mengeluarkan aroma harum lagi dan secara fisik warna bunga juga berubah mengering kecoklatan. Kalau sudah seperti ini maka bunga tabur sudah berubah akan menjadi sampah.

Tradisi nyekar bagi orang kebanyakan berlangsung secara rutin tetapi tidak dalam jangka waktu yang berdekatan. Mungkin hanya kasus-kasus tertentu saja dimana ada orang yang berziarah secara sangat rutin, mungkin karena faktor kedekatan dengan almarhum/almarhumah atau karena kebetulan lokasi makam relatif dekat. Yang umum dilakukan orang kebanyakan adalah pada waktu-waktu tertentu seperti saat menjelang bulan puasa atau saat tahun baru muharram. Kalau sudah waktu seperti ini, maka dapat dipastikan penjualan bunga tabur meningkat dan otomatis harga bunga juga akan menjadi mahal.

Seperti diketahui di atas bahwa bunga tabur digunakan dan berfungsi sesaat saja, karena setelah itu akan menjadi sampah. Sebenarnya ada pemikiran lain yang dapat dicoba yakni dengan menata makam dan menghiasinya dengan tanaman bunga. Beberapa jenis tanaman bunga dapat dipilih yang mengeluarkan bunga yang indah dan jika mungkin mengeluarkan bau harum. Bunga mawar juga dapat dipilih untuk ditanam di arela makam karena mudah ditanam. Bunga jenis ini dapat ditanam dengan cara setek batang atau menggunakan bibit okulasi yang banyak dijual. Beberapa jenis tanaman lainnya adalah melati atau kaca piring. Hanya saja jenis-jenis tanaman ini memerlukan lahan karena tajuk pohon yang berbentuk semak. Kalau yang sudah umum adalah tanaman kamboja (Plumeria) yang merupakan khas tanaman kuburan di Indonesia, tetapi untuk keperluan ini dapat dipilih jenis yang kecil dari keluarga Adeniumatau dikenal juga sebagai tanaman kamboja Jepang.

Bunga kamboja di kuburan.

Bunga kamboja di kuburan.

Untuk tanaman yang tinggi dan membentuk semak, maka permasalahannya adalah tanaman akan memerlukan lahan sendiri di luar cungkup makam. Kalau lahan tanah kuburan masih cukup luas , mungkin tidak akan menjadi kendala. Namun kalau lahan sudah penuh sesak dengan kuburan seperti tanah makam di perkotaan, maka hal ini akan menjadi kendala sendiri. Selain itu saat awal penanaman, maka juga akan menjadi kendala karena tanaman harus diwawat dan disiram secara rutin. Untuk mengatasi hal ini tentus saja dapat dilakukan dengan solusi mengupah penjaga makam untuk melakukannya denga imbalan sekedarnya. Saat penanaman juga dapat dipilih saat berlangsung musim hujan sehingga tanaman dapat tumbuh mendapat pasokan air secukupnya.

Pada area tanah datar di dalam cungkup yang sering ditaburi bunga, maka dapat ditanam dengan jenis tumbuhan rumput. Jika ingin tanaman yang ada bunganya, maka dapat dipilih tanaman krokot-krokotan yang berbunga cantik dengan aneka warna bunganya. Tanaman ini mudah tumbuh, hanya dengan setek tunas dan cukup dirawat dengan mendapat pasokan ari secukupnya. Terlebih jika mendapat pasokan cahaya secukupnya maka pertumbuhan akan bagus dan menghasilkan bunga setiap harinya.

Kalau makam sudah tertata bagus dengan aneka bunga yang tumbuh langsung, baik di dalam cungkup atau di sekitarnya, maka sekarang tradisi nyekar dapat lebih mudah. Orang tidak perlu lagi harus membeli bunga tabur, tapi langsung datang ke makam untuk menengok dan berdoa. Suasana harum dan keasrian mungkin malah akan berlangsung setiap saat, daripada hanya kalau menggunakan bunga tabur yang mungkin berlangsung sesaat. Manfaat lain tentu saja kita dapat mengalihkan uang pembelian bunga tabur untuk disedekahkan bagi penjaga makam sekedar untuk merawat makam. Terakhir yang jelas fungsi tanaman hias di kubur ini dapat menghijaukan alam lingkungan khususnya di daerah pekuburan itu.

Demikian semoga acara mendoakan leluhur anda menjelang puasa ini dapat terkabul. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga lancar selama satu bulan penuh….

Iqmal Tahir

One response »

  1. […] Menjelang datangnya bulan puasa, selalu ada kesibukan tersendiri buat umat Islam atau tradisi orang di Jawa yang melakukan aktivitas ziarah ke makam keluarga atau kerabat lain. Saat melakukan ziarah ini tentunya sudah jamak untuk dilakukan dengan membawa bunga tabur sehingga kemudian muncul istilah nyekar di makam (yang berasal dari kata sekar atau bunga). Tentu saja dalam situasi seperti ini mendorong tingginya aktivitas jual beli bunga tabur, termasuk ramainya warung makan roh halus (baca tulisan terkait di sini). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s