Pernah aku singgah di suatu masjid di tepi jalan Yogya-Purworejo atau tepatnya di sebelah barat Sentolo. Saat perjalanan pulang dari Purbalingga di pagi hari, dan menemui waktu untuk untuk menunaikan shalat subuh, kendaraan kuberhentikan di area parkir masjid tersebut. Masjid yang tergolong baru dan terletak di tepi jalan sehingga banyak pengendara memanfaatkannya untuk singgah guna beribadah di masjid ini.

Saat itu setelah menunaikan sholat, biasanya kesempatan berhenti ini digunakan untuk beristirahat sejenak dan juga untuk keperluan buang hajat ke belakang. Di lokasi masjid ini, kadang saya merasa seperti kebanyakan di tempat lain. Kalau tempat sholat dan tempat wudlu benar-benar dijaga baik dari sisi fasilitas dan kebersihannya, namun kebanyakan masih kurang memperhatikan masalah kamar kecil yang ada. Mungkin ini sudah hal yang wajar karena tempat untuk shalat harus suci, tetapi untuk urusan belakang dapat dikesampingkan. Padahal kalau dipikir sering orang berkunjung ke suatu masjid, terutama masjid yang berada di tepi jalan, adalah juga karena keinginan untuk urusan ke belakang ini. Ke depan mestinya pengelola masjid hendaknya juga tidak melupakan urusan bangunan dan fasilitas kamar kecil di masjid itu.

Kembali ke hal yang ingin saya tuliskan di artikel ini, yakni terkait dengan apa yang saya jumpai di dalam kamar kecil di masjid yang saya sebutkan di atas. Sewaktu selesai membuang hajat dalam keremangan lampu lima watt, saya memperhatikan tulisan di dinding kamar kecil ini. Tulisan yang terbaca berupa anjuran ”SIRAMLAH AIR YANG BANYAK”.

Papan anjuran menyiram kloset.

Papan anjuran menyiram kloset.di masjid Sentolo.

Pikiran iseng saya langsung keluar untuk menanggapi tulisan ini. Kalau diminta banyak, seberapa banyak air yang harus saya gunakan. Apakah harus satu ciduk, jelas kurang banyak. Satu ember, ini berarti kira-kira sekitar 5 ciduk. Kalau tetap kurang banyak, apakah harus satu bak kecil seperti yang tersedia di kamar kecil itu. Banyak adalah bukan suatu ukuran yang dipersyaratkan untuk proses membersihkan diri dan kloset tempat buang hajat itu. Hal yang lebih tepat adalah terkait dengan tujuan menyiram air yakni untuk membersihkan diri dan kloset setelah digunakan. Oleh karena itu anjuran yang lebih tepat mestinya adalah ”SIRAMLAH SAMPAI BERSIH” atau ”SIRAMLAH DENGAN AIR SAMPAI BERSIH”.

Untuk kesopanan kadang perlu juga diungkapkan dengan awalan ”mohon” atau kalau dalam bahasa Inggris sering digunakan istilah ”please”. Ungkapan ini jauh lebih manusiawi kepada semua pengunjung. Sebenarnya dapat juga menggunakan anjuran umum sebagai eufemisme yakni ”Jagalah Kebersihan”.

Walaupun sebenarnya secara etik, orang yang menggunakan kamar kecil mestinya juga punya kewajiban untuk membersihkan diri dan kloset yang telah digunakan. Namun dalam kenyataannya memang anjuran dan peringatan seperti ini tetap lebih baik diberikan. Pengunjung banyak berasal dari berbagai macam kebiasaan dan budaya masing-masing sehingga hal ini dapat membantu mengingatkan mereka akan fasilitas umum yang digunakan secara bersama.

Kembali pada anjuran asli yang tertulis untuk menyiram air dengan banyak, sekiranya dengan air sedikit saja kloset sudah bersih, maka langkah ini menjadi sia-sia. Dengan menyiramkan air kembali maka hal ini menjadi tidak bermanfaat lagi. Dari sisi ini berarti kita melakukan pemborosan dan juga harus kita pahami bahwa kita perlu berhemat dalam penggunaan air bersih.

Terimakasih dan hanya sekedar iseng saja… syukur-syukur bermanfaat.

Iklan

One response »

  1. […] menulis artikel terkait fasilitas yang tersedia di masjid yang berada di tepi jalan besar (Baca artikel ini) maka saya tertarik menuliskan artikel tentang ini. Apalagi hal yang saya tuliskan ini sesuai dari […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s