Kegiatan unjuk rasa atau demonstrasi oleh sekelompok orang, rasanya saat ini sudah jadi semakin marak dan hampir menjadi kebiasaan. Demonstrasi dapat terjadi karena saluran resmi tidak memberikan hasil yang sesuai dengan harapan orang banyak. Sekelompok orang yang tidak puas atas suatu kondisi atau situasi, kemudian merasa buntu dengan tidak dapat mengeluarkan tuntutannya melalaui jalur resmi tersebut, kemudian perlu mengadakan kegiatan unjuk rasa atau demonstrasi ini.

Pada kegiatan demonstrasi ini baik yang bersifat tertib maupun tidak, selalu melibatkan orang banyak yang berkumpul menjadi satu. Konsentrasi massa yang melibatkan banyak orang ini tentu akan mengundang pedagang yang akan berjualan di lokasi tempat demonstrasi tersebut. Umumnya para pedagang itu merupakan pedagang keliling yang menjajakan minuman, makanan ringan, rokok, tissue atau surat kabar. Konsumen yang dituju tentu saja adalah orang-orang yang melakukan unjuk rasa tersebut. Ibarat ada gula ada semut, maka kumpulan orang yang berunjuk rasa yang umumnya berlangsung siang hari akan menjadi target utama untuk membeli produk yang mereka jajakan. Ciri khas produk asongan ini adalah dikemas dengan pembungkus, sehingga pada akhirnya akan ada sampah yang dihasilkan dari buangan bungkus produk.

Demonstrasi untuk menyalurkan aspirasi.

Demonstrasi untuk menyalurkan aspirasi.

Dari kegiatan demonstrasi ini yang sering terjadi setelahnya akan menghasilkan tumpukan sampah. Kalau dilihat dari jumlahnya maka yang paling banyak berasal dari kemasan atau bungkusan makanan. Jumlah sampah ini tentu saja tergantung dari berapa banyak partisipan yang terlibat. Tugas dan tanggung jawab membersihkan sampah sisa-sisa dari aktivitas demonstrasi ini tentu saja akan menjadi bagiandari tugas Dinas Kebersihan di wilayah daerah tempat lokasi unjuk rasa. Dinas harus mengerahkan banyak petugasnya untuk segera membersihkan areal yang penuh tumpukan sampah tersebut.

Kalau di negara-negara maju, kegiatan membersihkan dilakukan dengan menggunakan kendaraan pembersih. Alat yang didesain seperti kendaraan traktor mini yang digerakkan denga mesin sehingga cukup ditanggani oleh satu orang operator saja. Alat ini dapat menyapu dan emnghisap sampah ke dalam suatu wadah kantong di dalam kendaraan tersebut. Dengan demikian tugas untuk membersihkan area yang luas akan dapat diselesaikan dengan cepat. Namun kalau di Indonesia, tugas membersihkan dilakukan secara manual dengan menggunakan orang untuk menyapu. Dengan demikian akan diperlukan jumlah petugas yang relatif banyak dan waktu yang diperlukan pun akan menjadi lama.

Sampah seperti botol dan gelas minuman sebenarnya memiliki nilai ekonomi tertentu karena dapat didaur ulang cepat. Hal inipun disadari oleh para pemulung yang biasanya juga datang di lokasi untuk memunguti dan memulung sampah jenis ini. Para demonstran yang melakukan unjuk rasa tentu saja banyak mengkonsumsi air, sehingga sampah sisa minuman akan banyak dihasilkan. Dengan beredarnya produk minuman kemasan di pasar yang sangat bervariasi maka tentu saja akan ada buangan kemasan minuman ini. Kalau pedagang menjual minuman dalam botol gelas, biasanya botol akan kembali ke penual dan hanya menghasilkan sisa sampah sedotan. Namun kelau minuman dalam kemasan kertas pak seperti untuk minuman kotak, maka sampah kemasan akan terbang dan tidak dipungut oleh pemulung. Sampah yang dimanfaatkan pemulung hanya sampah gelas dan botol plastik yang terbuat dari jenis plastik PET. Para pemulung akan mencari dan mengambil sampah dari jalanan dan kotak sampah.

Bahan kemasan makanan yang terbuat dari plastik warna-warni umumnya akan terbuang begitu saja. Sampah jenis ini juga tidak diambil oleh pemulung. Oleh karena itu akan banyak sekali jumlah sampah jenis ini. Sampah lain yang terbuang saat unjuk rasa ini adalah sisa rokok atau bahan/alat peraga unjuk rasa seperti poster dan asesoris topeng.

Kegiatan demonstrasi juga menghasilkan sampah kertas yang bisa berasal dari berbagai sumber. Salah satunya adalah dari poster-poster untuk memuat pesan dan aspirasi peserta. Kertas poster ini akan berukuran besar dan setelah demonstrasi selai akan dibuang begitu saja. Di beberapa kegiatan aksi seperti ini, sering orang juga membawa koran baik untuk dibaca maupun hanya sekedar untuk pelindung kepala dari terik matahari. Setelah selesai, banyak lembaran koran yang dibuang begitu saja. Lembar kertas seperti ini kadang juga dikumpulkan oleh para pemulung karena masih dapat dijual kembali.

Sebenarnya ada langkah preventif yang dapat digunakan untuk mencegah dihasilkannya sampah dalam jumlah besar saat demonstrasi ini. Langkah ini antara lain adalah :

  • Pengaturan dan penunjukkan wilayah tertentu sebagai tempat untuk melakukan demonstrasi. Pada wilayah ini dikhususkan untuk demonstrasi dan bukan berupa wilayah yang akan mengganggu kepentingan umum. Dalam wilayah misal ditetapkan di bagian khusus halaman gedung DPR yang dialokasikan sebagai tempat rakyat berkumpul untuk menyalurkan aspirasinya kepada para wakilnya. Di wilayah ini disediakan tempat sampah dalam jumlah yang mencukupi. Para demonstran mestinya akan membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Hal ini berbeda kalau demonstrasi dilakukan di jalan-jalan yang minim akan fasilitas tempat sampah.
  • Pemberian tanda larangan untuk membuang sampah sembarangan termasuk bagi para demonstran. Aturan ini harus ditegakkan dengan pemberian sanksi bagi yang melanggar. Permasalahannya tentu saja adalah jumlah petugas yang mengawasi akan terbatas. Hanya saja biasanya para pengunjuk rasa bisa bersifat anarkis kalau saat beraksi dikenakan sanksi.
  • Kewajiban untuk demonstran supaya membawa sendiri sampah-sampah yang dihasilkannya. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membagikan kantong atau tas besar guna membawa sampah tersebut. Kantong ini diedarkan berkeliling di arena unjuk rasa ini sehingga sampah akan dimasukkan ke dalam kantung tersebut.
  • Kewajiban pembayaran tugas kebersihan oleh penanggung jawab aksi unjuk rasa. Untuk diektahui bahwa setiap aksi unjuk rasa saat ini harus meminta ijin kepolisian sebelum dilakukan aksi tersebut. Pada saat pengajuan ijin inilah maka mereka dikenakan pembebanan biaya kebersihan, tergantung dari perkiraan jumlah orang terlibat. Hanya saja pengelolaan dana ini juga relatif rawan karena ijin dilakukan oleh kepolisian tetapi tugas kebersihan oleh dinas kebersihan. Kalau aturan seperti ini diberlakukan, kemungkinan akan ada demonstrasi susulan untuk memprotes kebijakan ini.
  • Kewajiban bagi para demonstran untuk membersihkan sendiri-sendiri sampah yang mereka hasilkan. Hal ini dapat dilakukan kalau organisasi atau kelompok penyelenggara demonstrasi ini relatif mapan dan tertib. Penanggung jawab meminta kepada para anggota yang terlibat untuk ikut menjaga kebersihan. Selain itu mereka juga dapat menyediakan tenaga khusus dari mereka yang memang diterjunkan untuk membantu pelaksanaan kebersihan ini. Mungkin yang menjadi masalah adalah jika para pengunjuk rasa adalah orang-orang bayaran yang ikut berunjuk rasa bukan murni untuk menyalurkan aspirasinya, melainkan dibayar untuk ikut meramaikan aksi saja.

Kalau sudah berlangsung demonstrasi yang tertib dan aspiratif seperti ini maka tentunya diharapkan tidak mengganggu kepentingan umum. Hal ini juga akan memancing dukungan rakyat banyak jika aksi demonstrasi ini berlangsung damai, tidak anarkis dan pada sisi lain peduli akan lingkungan. Semoga bermanfaat.

Catatan khusus (karena ada yang terlupakan) :
Ada beberapa jenis sampah yang ternyata juga dihasilkan dari aksi unjuk rasa ini.

  • Jangan membakar ban atau benda lain karena tindakan seperti ini cenderung anarkis. Alasan yang pasti sih karena aksi bakar-bakaran seperti ini tidak ramah lingkungan, tidak pedulu penghematan bahan bakar serta akan memberi kontribusi pada pemanasan global.

    Pembakaran ban saat unjuk rasa.

    Pembakaran ban saat unjuk rasa.

  • Saat ini ada trend membawa hewan ke dalam arena demonstrasi. Tentu saja akan ada sampah berupa kotoran hewan saat dibawa di lokasi. Sampah ini juga harus ikut dibersihkan lho !!!
  • Kalau saat ini demonstrasi di kedubes negara jiran, selain membakar bendera, maka para pengunjuk rasa sebagian juga melempari dengan  tinja. Hal yang saya herankan adalah darimana tinja itu dibawa. Bisa jadi yang ikut bertanggungjawab hal ini adalah bagian perusahaan penyedot tinja yang bisa dicurigai sebagai pemasok. Kalau demonstran harus mengeluarkan di lokasi sepertinya tidak mungkin. Kotoran seperti ini mestinya tidak usah dibawa-bawa mending tetap di septictank untuk diolah menjadi biogas.

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s