Shalat hari raya bagi umat Islam setiap tahunnya ada dua kali yakni pada saat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Shalat ini merupakan shalat sunnat dengan ketentuan dua rakaat dan memiliki rukun tersendiri. Ada beberapa umat yang mengatur keutamaan shalat sunnat ini untuk dilaksanakan di tanah lapang daripada dilakukan di dalam masjid. Meskipun shalat sunnat namun karena istimewa maka banyak umat Islam yang melaksanakan ibadah ini dengan sebaik-baiknya.

Kalau shalat dilaksanakan di dalam masjid maka tidak ada hal yang khusus harus dipersiapkan baik oleh takmir atau jemaah. Hal ini karena masjid memang sehari-hari digunakan untuk kegiatan ibadat shalat. Para jemaah tinggal datang setelah sebelumnya berwudu untuk menunaikan rukun shalat dan mendengarkan kutbah. Naum lain halnya kalau shalat dilaksanakan di tanah lapang. Biasanya takmir cuma akan menyiapkan tanah lapang dengan pengaturan baris untuk shaf dan peralatan mimbar atau sound system saja. Alas untuk tempat shalat dari masing-masing jemaat harus disiapkan masing-masing.

Orang melaksanakan shalat biasa menggunakan alas sajadah atau tikar. Sajadah ini kebanyakan bersifat per seorangan, satu sajadah untuk satu orang. Sajadah terbuat dari kain karpet yang tebal dan biasanya berbulu halus pada bagian permukaannya. Penggunaan sajadah juga banyak dipakai saat shalat di rumah atau bahkan di masjid. Mengingat sajadah digunakan sebagai alas untuk orang saat melakukan ibadah, maka kebersihan sajadah menjadi dijaga sebaik-baiknya. Demikian juga saat orang akan melaksanakan ibadah shalat Ied yang dilaksanakan di tanah lapang atau tanah berumput, maka orang berusaha juga menjaga kebersihan sajadah yang digunakan. Sajadah tidak langsung dibentang di atas tanah, namun sebelumnya di alasi terlebih dahulu dengan menggunakan plastik terpal, tikar atau alas lain.

Sampah kertas koran sehabis sholat.

Sampah kertas koran sehabis sholat.

Seringkali orang banyak yang tidak menggunakan alas karpet secara khusus namun menggunakan kertas koran untuk alas sajadah ini. Koran banya dipilih karena berbentuk lembaran tipis, ringan dan mudah dijinjing, serta biasanya dipilih yang sudah tidak terbaca karena tanggal penerbitan sudah terlewati. Biar lebih mantap, kadang lembaran koran ditumpuk dua atau tiga lembar sebelum di atasnya dapat digelar sajadah untuk shalat. Kalau sudah seperti ini rasanya shalat dan kemudian duduk mendengarkan kutbah dapat dilakukan dengan tenang.

Tapi apa yang terjadi kemudian setelah rangkaian ibadah selesai ? Para jemaah bersiap pulang dan mulai mengemas peralatan shalatnya. Sajadah, karpet atau tikar mungkin akan segera dikemas dan digulung. Tetapi yang untuk kertas koran, biasanya akan langsung berserakan ditinggal penggunanya begitu saja. Sampah buangan berupa kertas koran sisa alas sajadah shalat ini akan memenuhi penjuru tanah lapang. Mungkin bagi pemulung, hal ini dapat menguntungkan karena mereka segera dapat mengumpulkan untuk dijual kembali. Sampah kertas koran ini dapat segera dikumpulkan, hanya saja disini pemulung tidak lagi melipat kertas koran, melainkan segera ditumpuk begitu saja. Biasanya sampah kertas koran dijual dalam bentuk terlipat dan diikat dalam suatu tumpukan. Kertas koran hasil dari sampah pelaksanaan shalat ini akan berupa remasan yang bercampur baur. Seringkali juga kertas koran dalam keadaan basah karena menyerap embun yang terdapat di permukaan tanah.

Apabila pelaksanaan shalat dilaksanakan di dalam masjid, maka tidak akan menyisakan masalah sampah, maka bagaiman cara supaya pelaksanaan shalat di tanah lapang juga tidak menghasilkan sampah. Mestinya mulai saat ini jemaat dilarang untuk membawa kertas koran. Untuk alas sajadah, hendaknya menggunakan tikar, karpet atau plastik terpal. Jemaat yang tidak memiliki atau tidak membawa dapat bergabung dengan jemaat lain yang membawa tikar ini. Kalau sudah seperti ini begitu acara selesai maka semua bawaan mestinya akan dibawa kembali oleh jemaat dan tidak ada yang tertinggal di lokasi tanah lapang sebagai barang buangan atau sampah.

Pemulung mengumpulkan sampah bekas.

Pemulung mengumpulkan sampah bekas.

Merapikan sampah kertas koran.

Merapikan sampah kertas koran.

Mengemas sampah kertas koran.

Mengemas sampah kertas koran.

Ada satu catatan tentang dampak negatif penggunaan kertas koran untuk alas sajadah. Pada saat shalat bisa saja perhatian jadi teralih dengan tarikan untuk menengok gambar atau isi berita yang tertulis di halaman koran secara tidak sengaja. Demikian juga saat mendengarkan kutbah, bisa saja jemaat malah asyik untuk membaca isi berita atau tulisan dalam koran yang terpampang di dekatnya. Jadi kalau sudah seperti ini, kekhusyukan ibadah shalat akan terganggu karena koran ini. Bisa saja terjadi suatu kasus dimana korang yang digunakan ternyata menyajikan gosip atau bahkan gambar yang kurang pantas dan seronok, padahal saat itu digunakan sebagai alas untuk beribadah. Hal ini tentu saja akan mengurangi konsentrasi orang dan nilai ibadah dalam menjalankan shalat ini.

Untuk itu ke depannya, bisa saja pelaksanaan shalat ied yang kalau akan dilaksanakan di tanah lapang, takmir atau panitia hendaknya menyerukan anjuran bagi para jemaah untuk tidak membawa dan menggunakan kertas koran. Hanya saja setelah itu memang kasihan para pemulung kertas yang bersiap mengumpulkan sampah kertas koran ini. Tetapi mereka kan juga dapat berharap dari sedekah jemaah atau mestinya pada hari raya seperti itu tentu saja para pemulung juga perlu berlibur dulu menikmati hari raya …

Iqmal Tahir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s