Di tulisan ini saya pernah menyajikan tulisan tentang alasan sampah harus dipilah-pilah sebelum dibuang. Tentu saja dari situ pembaca bisa memahami langkah pemilahan ini merupakan salah satu dari proses pengelolaan sampah, khususnya yang terkait dengan upaya 3R (Reduce, reuse dan recycle). Apabila sampah telah dipisahkan maka pihak yang akan melakukan reuse ataupun recycle sampah akan mendapatkan kemudahan di dalam melaksanakan langkah tersebut.

Pada proses pemilahan sampah ini, yang pertama kali dilakukan adalah dengan pemilahan berdasarkan jenis sampah kering dan sampah basah. Sampah yang tergolong jenis sampah basah adalah semua sampah organik yang berasal dari sampah dapur dan sisa makanan serta sampah dari kebun. Untuk sampah kering atau sampah anorganik, sekarang ini juga sudah banyak dilakukan pemilahan lebih lanjut meliputi sampah jenis plastik, kertas, logam, gelas atau pun jenis sampah lainnya. Kalau sampah organik diolah lebih lanjut untuk dibuat kompos, maka sampah anorganik ini biasa dikumpulkan untuk didaurulang. Sebagian jenis sampah anorganik ini ada yang dapat diolah menjadi produk lain yang masih memiliki manfaat tertentu.

Terkait dengan masalah pemilahan sampah plastik, saya memiliki catatan khusus tentang kebiasaan kita sehari-hari yang kadang tidak menguntungkan proses pemilahan sampah kering ini. Sampah plastik banyak dihasilkan dari tas kresek dan bungkus kemasan produk yang sering ktia gunakan sehari-hari. Saat ini banyak dijumpai produk konsumabel yang dijual dalam bentuk kemasan khusus menggunakan plastik. Saat digunakan tentu saja pengguna akan menghasilkan sampah plastik.

Pemotongan utuh pada kemasan menghasilkan dua kali lipat jumlah sampah.

Perlu diketahui bahwa sampah plastik dari kemasan suatu produk ini termasuk sampah yang tidak akan dikumpulkan oleh pemulung. Hal ini terjadi karna sampah jenis ini tidak mudah untuk didaur ulang menjadi bijih plastik kembali.

Produk yang dikemas seperti ini memang cenderung semakin banyak dijumpai di pasaran. Hal ini karena produk akan memiliki masa simpan yang lebih lama. Selain itu kemasan plastik dapat dicetak dalam aneka entuk dan warna yang menarik, sehingga konsumen dapat dipikat untuk membeli produk tersebut. Produk tersedia dengan berbagai pilihan oleh para produsen baik kemasan kecil maupun kemasan besar yang lebih ekonomis. Namun semua ini tentunya menghasilkan dampak berupa sampah plastik yang dihasilkan. Terhadap sampah plastik kemasan ini, walaupun pemulung tidak meliriknya, ternyata masih ada beberapa pihak yang tergerak untuk memanfaatkannya melalui proses reuse. Sampah plastik dipilah dan kemudian dikumpulkan berdasarkan jenis asal produksi dan warnanya. Kemudian dengan sedikit keterampilan dan ketekunan maka bahan ini dapat diolah menjadi produk kerajinan.

Beberapa macam kerajinan tangan seperti tas, topi, tempat koran, dompet dan lain-lain dapat dibuat dari bahan sampah plastik kemasan ini. Ada banyak kelompok masyarakat yang bergerak untuk menekuni kegiatan mengisi waktu dengan jalan mengolah sampah plastik ini. Sebagai contoh adalah dijumpai di daerah Sukunan, Yogyakarta atau di daerah Kemang Jakarta Selatan. Hal ini juga banyak ditiru oleh berbagai kelompok lain yang ikut peduli soal plastik kemasan ini.

Untuk menghasilkan produk yang bagus dan tidak sekedar produk asal-asalan, maka tentu saja diperlukan bahan baku dari sampah plastik kemasan dalam jumlah yang mencukupi. Kebutuhan ini terpenuhi kalau jumlah sampah di tempat tersebut cukup banyak. Kalau memang jumlahnya kurang maka hal ini dapat dipenuhi dengan kerjasama pada pemulung yang memilah dan mengumpulkan sampah jenis ini.

Salah satu jenis kemasan plastik yang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan adalah bungkus sachet serbuk minuman atau bungkus mie. Serbuk minuman saat ini banyak dijumpai berupa produk minuman instan, baik untuk konsumsi anak-anak maupun untuk orang dewasa. Selain itu produk-produk ini disajikan sangat banyak variasinya tergantung rasa dan mereknya. Penghasil sampah jenis ini ternyata sebagian besar adalah para penjual minuman siap saji yang melayani pembeli sesuai dengan pesanannya. Pengolah sampah plastik yang hendak mengumpulkan sampah jenis ini dapat bekerjasama dengan penjual untuk menampung dan tidak membuangnya begitu saja. Untuk sampah plastik pembungkus mie, maka pengumpul dapat bekerjasama dengan para penjual masakan ini, seperti yang disediakan oleh penjual nasi kucing, warung kopi, bubur kacang hijau, bubur ayam atau susu segar.

Untuk keperluan bahan kerajinan tentu saja sampah plastik ini harus bersih dan memiliki ukuran yang seragam sehingga mudah dibentuk. Langkah mengatasi kemasan supaya tetap bersih adalah dengan jalan tidak membuangnya sehingga tidak bercampur dengan sampah yang lain. Sampah ini dikumpulkan tersendiri pada suatu wadah. Selanjutnya untuk memperoleh ukuran yang seragam maka para penjual dianjurkan untuk memotong kemasan secara teratur dengan pola yang sama. Cara memotong yang umum adalah dengan jalan menyobeknya berdasarkan alur sobekan yang suah diarhakan dan dibuat oleh produsen barang tersebut. Kalau sudah seperti ini maka para pengolah sampah plastik kemasan ini akan sangat senang dan mudah untuk mengolahnya lebih lanjut.

Hindari penyobekan kemasan dengan utuh untuk membantu proses pemilahan sampah.

Satu hal lagi yang sebenarnya tidak begitu penting, tetapi harus diperhatikan adalah saat pemotongan kemasan atau menyobek bungkus itu hendaknya jangan sampai terputus. Sobekan hendaknya tetap tersambung menjadi satu sehingga dalam hal ini hanya akan diperoleh satu bagian sampah saja buka dua lembar bagian sampah. Bayangkan saja kalau misal disobek putus, maka setiap pemilahan akan dilakukan dengan dua kali pekerjaan yakni mengumpulkan sampah plastik kemasan besar dan sobekan kecilnya.

Untuk melakukan hal ini maka akan lebih mudah kalau melakukannya dengna menggunakan gunting. Kita dapat menyobek sepanjang tepi kemasan secukupnya sehingga produk dapat dikeluarkan dari wadah.

Kalau langkah-langkah seperti ini dapat diterapkan oleh banyak orang maka akan banyak manfaat yang diperoleh. Bagi yang menghasilkan sampah, maka tanggung jawab mengelola sampah dapat ikut dikurangi. Sementara bagi pemilah dan pengolah sampah, hal ini dapat membantu dan memudahkan pekerjaan mereka.

Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan kita semua.

Iqmal Tahir

Iklan

4 responses »

  1. Sunardi berkata:

    artikel yang menarik Pak…

  2. Aku berkata:

    Kalo bungkus mie instant tidak disobek smua, isinya jadi suka ketinggalan di dalam..

    • Iqmal berkata:

      Kalau ngeluarin mi sih gampang, tinggal dipecah dua saja nanti dikeluarkan sebagian-sebagian dulu. Memang kalau memasak harus utuh ?
      Daripada bikin mi, mending jadi bikin tomyam saja dong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s