Saat saya berkunjung mendatangi kenduri kawin kawan di daerah Kedah, tidak sengaja saya melihat proses pencucian alat makan yang digunakan. Untuk proses pencucian alat makan yang kotor dan berlumur lemak dan minyak harus bisa dicuci bersih untuk dapat digunakan kembali oleh tamu-tamu yang datang belakangan. Memang sekarang banyak tersedia produk sabun pembersih untuk mencuci peralatan makan yang dipromosikan mampu membersihkan lemak, tetapi untuk proses pencucian di tempat hajatan kenduri, dapat dibayangkan kalau proses tidak efisien maka akan perlu banyak produk sabun ini.

Proses kenduri di negeri jiran ini kalau di kampung biasanya diselenggarakan di rumah sendiri dengan membuat tenda. Masakan disiapkan oleh tuan rumah dengan memesan pada perusahan katering atau dimasak sendiri oleh pihak keluarga atau handai taulan dan para tetangga di sekitar rumah. Prosesi kenduri dapat berlangsung relatif lama, misal seharian penuh dari jam 11 sampai petang atau bahkan sampai malam. Kunjungan para tamu memang tidak diatur secara protokoler. Para tamu datang ke rumah, biasanya disambut pihak orang tua atau keluarga sesepuh lainnya. Setelah itu biasanya langsung dipersilakan untuk menikmati hidangan makanan yang telah disiapkan. Mempelai pengantin kadang tidak dapat terlihat oleh para tamu, mereka berada di bagian dalam rumah atau tempat khusus di panggung.

Para tamu umumnya tidak dapat menemui pengantin secara langsung kecuali para tamu khusus yang berkenan untuk dijemput ke dalam dan berfoto bersama. Setelah mereka selesai makan secukupnya maka dapat kembali pulang dengan berpamitan kepada pihak orang tua. Pada saat ini yang bersangkutan juga memberikan uang sambil bersalaman.

Untuk acara makan di sini umum diselenggarakan secara prasmanan. Jadi makanan dihidangkan di tempat yang telah tersedia dan selanjutnya pengunjung dapat mengambil makanan sesuai jenis dan jumlah yang diinginkan. Pengunjung dapat menikmati makan tersebut di tempat yang telah tersedia dan meletakkan kembali alat makan yang telah digunakan untuk diambil orang yang bertugas membersihkan.

Proses pencucian alat-alat makan.

Alat makan kotor selanjutnya harus segera dicuci kembali dan dikeringkan untuk digunakan kembali sebagai persiapan untuk tamu-tamu yang datang belakangan. Proses pembersihan ini dilakukan juga di dekat rumah oleh beberapa orang. Sisa makanan yang ada di alat makan segera dikumpulkan di suatu tempat. Kemudian alat makan dimasukkan ke ember besar untuk penampungan pertama kali sekaligus dibilas dengan air bersabun. Di sini alat digosok dengan busa sabun sampai bersih dan kemudian dipindahkan ke ember berikutnya yang berisi air bersih. Setelah dibilas bersih maka alat gelas ditiriskan dan kemudian dilap supaya kering untuk dapat digunakan kembali.

Hal yang menarik perhatian saya adalah di sekitar tempat cucian ini tersedia batang pohon pisang yang dicacah. Ternyata setelah diamati, cacahan batang pohon pisang ini digunakan untuk dimasukkan pada ember cucian yang pertama. Kondisi air di ember ini memang relatif lebih kotor karena banyak mengandung minyak dan lemak yang tersisa dan menempel di alat gelas. Kotoran lemak ini akan mengapung di permukaan air. Untuk memisahkan lapisan kotoran lemak ini ternyata dapat dilakukan dengan menggunakan batang pohon pisang. Cacahan pohon pisang ini akan membuka bagian samping batang yang memiliki banyak rongga. Lapisan lemak dan minyak ini akan masuk untuk menempel di dalam rongga-rongga itu. Dengan demikian hal ini dapat membantu mengurangi kotoran yang ada dalam ember. Akibatnya penggunaan air untuk proses pencucian alat gelas ini dapat semakin diefisiensikan.

Cukup menarik juga proses pencucian alat makan yang berminyak ini dengan dibantuk cacahan batang pohon pisang. Hal ini untuk proses dalam jumlah besar cukup bermanfaat. Kalau untuk keperluan sehari-hari saya kira mungkin tidak sesuai diterapkan karena malah akan banyak menebang pohon pisang cukup banyak sementara jumlah alat gelas yang dicuci tidak banyak. Boleh jadi kalau diterapkan pada tempat makan atau restoran yang memang menggunakan alat makan dalam jumlah besar.

Penggunaan cacahan batang pohon pisang untuk menjebak minyak.

Wah kalau sudah seperti ini, jadi terbayang kalau ada tanker kandas dan menumpahkan minyaknya di laut, maka proses pengumpulan minyak dilakukan dengan menggunakan batang pohon pisang. Tapi tentu saja akan membutuhkan banyak sekali pohon pisang yang harus dikorbankan. Kalau untuk keperluan ini sih sudah ada bahan sintetis dari polimer yang dapat menyerap minyak.

 

Iqmal Tahir

Iklan

6 responses »

  1. betty berkata:

    I obtain much in your Topics really thank your very much

  2. Endang S berkata:

    wow… saya juga baru tahu… batang pisang sebagai perangkap lemak…. secara kimia penjelasannya gemana pak iqmal?….makasih infonya…

  3. Ety berkata:

    kalau selesai digunakan, berarti jadi limbah lagi ya pak ? apa tidak menggunakan spons saja kan mungkin bisa digunakan ulang yang berarti tidak menghasilkan limbah. trims.

    • Iqmal berkata:

      Limbah minyak kalau sudah terserap dalam spons kadang susah dicuci kembali untuk digunakan ulang. Kalau menggunakan pelepah batang pisang memang akan terus dibuang tapi karena termasuk bahan organik yang sebagai sampah akan mudah terdegradasi menjadi kompos. Pilihan-pilihan seperti ini yang perlu diambil kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s