Jika akan pergi singgah berkunjung ke tempat saudara lain atau saat pergi ke negeri jiran, saya sempatkan sekedar membawa oleh-oleh khas dari daerah. Untuk Yogyakarta, salah sat makanan khas ini adalah bakpia. Kue kering ini dipilih karena manis, banyak disukai orang, dan yang jelas ukurannya kecil sudah dikemas dalam kotak yang tidak terlalu besar. Sewaktu dikemas dalam koper juga tidak takut rusak. Makanan ini juga relatif awet untuk jangka waktu lama. Jadi bakpia ini bisa dipilih sebagai salah satu oleh-oleh favorit saya untuk dibawa. Kadang kalau perjalanan cukup jauh dan bikin lapar, sebagian bakpia ini juga dapat dicadangkan untuk bekal di jalan karena dapat sekedar mengganjal perut sebelum makan yang sebenarnya.

 

Bakpia - makanan khas dari Yogyakarta

 

Bakpia di Yogyakarta dikenal banyak dijual di berbagai pelosok kota. Sekarang ini banyak dijumpai toko dan pusat oleh-oleh yang tumbuh menjamur di berbagai area di kota budaya ini. Di setiap toko memang banyak dijual berbagai macam oleh-oleh baikd ari daerah Yogyakarta ini sendiri maupun oleh-oleh dari daerah di sekitar Yogyakarta. Mengingat Yogyakarta merupakan salah satu kota wisata dan banyak dikunjungi pelancong dari banyak daerah, maka pusat dan toko oleh-oleh ini akan memiliki konsumen tersendiri. Salah satu makanan yang selalu tersedia di setiap toko oleh-oleh ini adalah bakpia.

Bakpia ini dijual dalam kemasan kotak berisikan 10 atau 20 buah. Dalam kemasan ekonomis ini maka pembeli dapat memilih setiap kemasan tersebut disesuaikan dengan keinginannya. Kemasan bakpia tersebut dicetak sesuai dengan pembuatnya. Warna yang khas untuk kemasan bakpia ini adalah warna kuning terang, meskipun sekarang ini sudah lebih bervariasi lagi.

Pembuat bakpia yang sangat terkenal di Yogyakarta ini berpusat di daerah Pathuk, di sebelah barat Malioboro. Di daerah kawasan jalan Pathuk ini tersebar toko-toko penjual bakpia. Para pembuatnya selain toko-toko tersebut ternyata juga banyak dilakukan oleh warga yang berada di belakang jalan. Mengingat yang pertama kali terkenal adalah bakpia buatan rumah bernomor 75, kemudian dibuat merek bakpia 75, selanjutnya banyak pembuat bakpia lain yang meniru merek ini. Jadi jangan heran kalau ada bakpia merek 757, 95, 25, 57 atau kombinasi angka lain yang terkesan menyerupai angka 75 itu.

Setelah beberapa lama, para pembuat bakpia juga menyebar ke daerah lain tidak hanya di Pathuk. Sebut saja di daerah Umbulharjo ada bakpia Karunia yang kebetulan ini jadi favorit saya. Bakpia karunia sekarang malah sudah membuka beberapa cabang lain di beberapa tempat. Kemudian ada bakpia pojok yang berproduksi di jalan Monjali, serta bakpia-bakpia lain.

Kembali untuk bakpia yang diproduksi di daerah Pathuk. Kalau pembeli datang ke sana dengan kendaraan sendiri, saat turun dari kendaraan di tempat parkir akan didatangi orang untuk bertanya apakah akan membeli bakpia. Biasanya orang itu akan bertindak seperti calo, dia akan menyarankan untuk membeli bakpia dengan harga lebih murah langsung pada pembuatnya. Dia berpromosi soal harga dan kesegaran bakpia karena masih fresh dan hangat. Pembeli juga dapat melihat proses pembuatan bakpia itu. Demikian juga kalau ada pengunjung yang berminat membeli oleh-oleh dengna naik becak, biasanya pengemudi becak juga akan bertindak sebagai calo. Pengemudi becak ini akan menawarkan pada pengunjung untuk membeli bakpia langsung di pembuat bakpia. Kalau memang berminat, maka pengunjung akan diajak berjalan ke lorong di jalan Pathuk ini untuk masuk ke tempat pembuat bakpia langsung. Di sini pembeli dapat membeli bakpia yang masih hangat dan masih baru dengan harga yang lebih murah.  Apabila pembeli melakukan transaksi maka para calo ini yakni tukang parkir atau tukang becak tadi tentu akan mendapat tambahan tips dari penjual bakpia.

Saya atau keluarga saya juga sering langsung membeli bakpia di tempat pembuatnya. Kebetulan karena sudah tahu tempatnya maka sering langsung masuk saja ke lorong di jalan Pathuk tersebut. Sebenarnya ada satu hal yang kebetulan mengganjal di hati. Bakpia yang masih panas ini kadang belum diangin-anginkan terlalu lama. Jadi saat bakpia diambil dari penggorengan, kemudian diangin-anginkan untuk menghilangkan panas dengan jalan disebar di alas lebar untuk berubah hangat dan tidak panas lagi. Setelah itu tentunya barulah bakpia dapat dikemas dalam kotak yang telah disediakan.

 

Suasana pembuatan bakpa

Kalau kemudian ada pembeli yang datang dan juga kebetulan memesan dalam jumlah besar maka seringkali terjadi pengemasan dilakukan dengan cepat. Terkadang bakpia dalam kondisi masih hangat kemudian langsung saja dikemas dan dimasukkan dalam kotak. Kotak-kotak ini segera ditutup dan kadang harus dikemas lagi dalam susunan di tas plastik atau kotak karton tertutup yang dilakban. Kondisi seperti ini tentu saja menyebabkan panas yang dilepaskan bakpia akan terperangkap dan hal ini menyebabkan bakpia akan cepat mengalami kerusakan. Kondisi temperatur yang hangat dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisma perusak makanan. Meskipun dalam ukuran normal bakpia cukup tahan seminggu lebih, tetapi kalau sudah mengalami kondisi seperti ini bisa saja kerusakan dapat lebih cepat terjadi.

Pembeli terkadang menginginkan bakpia yang dibeli adalah dalam keadaan segar. Namun juga harus diketahui bahwa kesegaran ini tidak harus berarti masih dalam keadaan panas yang diinginkan. Yang penting adalah mereka dapat memastikan bahwa bakpia yang dibeli itu baru dibuat hari itu atau belum sampai kedaluwarsa saat akan dibawa ke suatu tempat.

Saya pernah membeli bakpia dari suatu toko di daerah Pathuk juga. Pada salah satu kemasannya ditulis pesan “ Bakpia panas jangan dikemas”. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran di atas untuk memberikan pengetahuan bagi para pembelinya untuk bijaksana dalam memilih dan membeli produk bakpia ini. Mestinya juga langkah ini dapat ditiru untuk jenis makanan yang lain.

 

Salah satu selebaran bakpia dalam kemasan dengan informasi "bakpia panas jangan di packing"

 

Alternatif yang membuat produk bakpia awet lainnya adalah dengan membuat kemasan yang tidak rapat sama sekali. Pada kemasan kertas karton pembungkus bakpia dapat dibuat beberapa lubang sekedarnya untuk dapat mengeluarkan hawa panas. Selain itu, kertas pelapis di dalam kotak juga menggunakan jenis kertas yang dapat menyerap minyak atau air dan jangan menggunakan plastik yang kedap. Hal-hal seperti ini tentunya sangat bermanfaat bagi para pembeli untuk mendapatkan produk bakpia yang tidak cepat rusak. Bagi para produsennya jenis kemasan seperti ini tentunya akan dapat meningkatkan nilai jual produk mereka.

Selamat makan bakpia….

Iqmal Tahir

Iklan

10 responses »

  1. Eko Setyobudi berkata:

    ..siap membawa bakpia untuk oleh-oleh…, semoga aman di bandara..he..he..

    • Iqmal berkata:

      aman lah pak, kalau misal ditolak, minta waktu saja 20 menit untuk menghabiskan bakpia yang dibawa… selamat liburan ya pak…

  2. pebrianto harnawan berkata:

    misteri tentang merek baktpia yang berupa nomor-nomor itu pak, pernah ada yang bilang kalo itu diambil dari nomor rumah produksinya.. jadi merek bakpia tu ya sebenernya alamat dari yang buat pak..
    Bakpia Pathuk 25 = Bakpia dari Jl.Pathuk no. 25

    • Iqmal berkata:

      Hehe… thanks tambahan infonyal.
      Untung yang bikin merk ingatnya no rumah. Coba kalau dia nekat bikin merk bakpia produksinya pakai no hp-nya, wah pembelinya repot mau ngapalinnya ?
      Paling parah lagi, kalau yang bikin itu PNS yang nyambi produksi bakpia, dia mungkin bikin bakpia dengan merek pakai no NIPnya yang panjang banget…
      Pebri, apa kabar ?

  3. ari berkata:

    bakpia slalu isi manis… skali2 mbok ada buat yg isinya daging …

  4. erry berkata:

    bakpia rasa keju memang enak… mau dong.

  5. erry berkata:

    bakpia… bakpia… yang anget…yang anget…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s