Kalau diingat beberapa materi pelajaran saat saya masih di sekolah dasar salah satunya adalah menyinggung bahwa keberadaan air adalah menjadi sahabat para petani. Petani dapat bercocok tanam jika di lahan tersedia air. Air ini dapat diperoleh dari hasil aliran sungai atau hujan yang menyiram daerah di lahan tersebut. Jika turun hujan maka para petani akan bersyukur karena memperoleh pasokan air yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tanaman di ladang atau sawahnya. Kontradiksi yang terjadi adalah jika hujan yang turun ini tidak dalam masa yang sesuai atau juga jika hujan yang turun sangat berlebihan. Petani justru akan memperoleh dampak yang merugikan karena turun hujan yang seperti ini. Sebagai contoh adalah para petani tembakau yang justru tidak berharap adanya hujan saat tanaman ini sudah tumbuh tinggi dan siap panen.

Tanaman tembakau siap panen.

Seperti yang dialami oleh para petani dari berbagai daerah di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Akibat hujan yang mengguyur areal tanaman tembakau selama beberapa hari akan mengakibatkna tanaman tembakau gagal dipanen. Akibat guyuran hujan ini maka kerugian para petani tembakau bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Tembakau ditanam di musim kemarau saat tidak ada hujan. Bibit ditanam dengan pengairan secukupnya kemudian saat besar tidak lagi memerlukan air dalam jumlah banyak. Tanaman saat besar tidak boleh terkena air karena akan layu apabila perakaran tanaman terendam dalam waktu lama. Kalau sudah seperti ini maka daun-daun akan rontok dan layu sehingga tanaman pun akan membusuk.

Pemanenan daun tembakau.

Akibat tanaman tembakau terkena guyuran hujan maka tanaman akan rusak karena tidak menghasilkan daun yang memenuhi standar. Tanaman yang rusak ini nyaris tidak menghasilkan apa-apa. Biasanya secara normal, tanaman tembakau dapat dipanen tiga atau empat kali. Apabila terkena hujan, mungkin hanya dipanen satu kali begitu terkena hujan. Setelah terkena hujan, biasanya tanaman akan layu karena sistem perakaran menjadi busuk terendam air. Sisa daun yang ada kalau masih dapat dipanen akan dibeli dengan klasifikasi daun tembakau kualitas rendah.

Saat hujan yang terus turun maka sinar matahari juga enggan menampakkan diri. Kondisi cuaca seperti ini juga kan mengganggu proses pasca panen tembakau untuk pengeringan rajangan daun tembakau. Untuk diektahui daun tembakau setelah dipetik akan dikeringkan dan dirajang. Proses pengeringan ini yang umum adalah dilakukan dengan menggunakan bantuan sinar matahari.

Proses pengeringan rajangan tembakau dengan jalan dijemur.

Jadi kalau sudah seperti ini harapan untuk memperoleh keuntungan pun menjadi sirna. Bahkan terkadang justru kerugian besar yang akan ditanggung karena biaya operasional bercocok tanam tembakau yang sudah dikeluarkan pun tidak sedikit. Bertani tembakau memang harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit. Biaya-biaya itu digunakan untuk mengolah lahan, pembelian bibit, pemupukan, pembasmian hama dan operasional tambahan lain. Memang kalau panen berhasil, petani tembakau akan mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit. Tetapi memang seringkali musibah tidak dapat dihindari dengan adanya kejadian gagal panen akibat hujan ini.

Terkadang modal bertani tembakau ini diperoleh dari hasil pinjaman dari orang lain. Kalau petani beruntung dapat panen besar maka dia akan untung dan dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Tetapi kalau terjadi peristiwa gagal panen akibat hujan seperti ini maka akan mengalami kerugian berlipat, yakni kerugian tidak mendapatkan hasil panen, kerugian pengeluaran untuk operasional bertanam tembakau itu, serta masih punya kewajiban untuk mengembalikan pinjaman itu. Pemberi pinjaman biasanya tidak mau tahu soal kerugian yang dialami akibat gagal panen ini.

Ada sistem yang sebenarnya memungkinkan kerugian ditanggung secara bersama antara pemilik modal dan petani tembakau. Jadi apabila terjadi kerugian maka hendaknya hal ini ditanggung bersama. Akan tetapi sangat sedikit orang yang mau berkorban menanggung resiko seperti ini. Dengan demikian kembali kepada para petani untuk bersedia menanggung resiko sendiri.

Aktivitas pengepakan rajangan tembakau untuk dijual.

Dari sisi waktu bertanam, untuk mengurangi resiko gagal panen akibat hujan, tentu saja perlu cermat menentukan dan memilih waktu-waktu yang tepat untuk bercocok tanam tembakau. Kalau dahulu dengan keteraturan musim yang jelas yakni musim penghujan dan musim kemarau maka hal ini tidak susah untuk diterapkan. Terlebih dahulu para petani telah mengenal kalender pranata mangsa yang memungkinkan untuk pengaturan waktu bertanam sesuai dengan musim yang ada. Saat ini dengan adanya peristiwa global warming dan anomali cuaca yang tidak pasti, semakin susah untuk meramal waktu yang tepat. Untuk jangka pendek misal satu hari atau satu minggu, pihak pemerintah melalui dinas meteorologi dapat membuat ramalan dengan pengamatan cuaca. Akan tetapi untuk jangka waktu satu atau dua bulan ke depan, ramalan seperti ini menjadi tidak akurat lagi. Kalau sudah seperti ini tentu saja diperlukan intuisi para petani yang tepat untuk memilih jenis tanaman yang akan dilakukan.

Jika memang tetap akan bertanam tembakau, maka para petani juga perlu memikirkan teknologi tepat guna yang baru untuk diaplikasikan di lahan mereka. Memang hal ini tentu akan menambah biaya operasional yang tidak sedikit. Tetapi bisa saja hal ini dicoba untuk mengantisipasi kerugian besar akibat gagal panen akibat hujan. Salah satu hal yang bisa dilakukan antara lain sistem lahan beratap, misal menggunakan atap plastik atau paranet. Paranet berupa jaring yang memang kurang efektif menahan air hujan tapi bisa mengurangi jumlah air jika didesain baik. Untuk mengatasi pembusukan akibat air menggenang, perlu dibuat sistem taludan tertentu yang mampu mengalirkan air secara cepat. Taludan tanah untuk tempat tanaman tembakau perlu dibuat jauh lebih tinggi sehingga perakaran tanaman tembakau tidak terendam.

Dalam hal seperti ini para pembimbing lapangan dari dinas pertanian perlu lebih jeli dan efektif untuk membantu para petani. Selain itu mungkin para ahli dari fakultas pertanian di berbagai perguruan tinggi perlu ikut terjun melakukan penyuluhan dan penularan teknologi tepat guna untuk mengatasi permasalahan ini.

Pada sisi lain, kejadian gagal panen tembakau seperti ini kembali mengingatkan kita akan penggunaan tembakau ini. Tembakau yang terutama digunakan untuk memasok kebutuhan pabrik rokok nasional. Rokok sekarang ini menjadi bahan perdebatan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan pemerintah karena alasan kesehatan dan pemborosan keuangan keluarga. Ke depan mestinya perlu ada pengurangan produksi rokok untuk dialihkan ke produk lain yang lebih bermanfaat. Kalau sudah seperti ini tentu saja kebutuhan tembakau dari pabrik rokok akan turun yang tentu berakibat harga tembakau di pasaran akan turun. Para petani tembakau pun mestinya dapat mengantisipasi situasi ini dengan beralih ke jenis tanaman lain misal untuk keperluan kebutuhan pangan atau produk lain non rokok.

Tulisan ini saya buat setelah saya membaca berbagai peristiwa gagal panen yang menyebabkan kerugian besar para petani di berbagai pelosok daerah. Saya yang bukan ahli dalam pertanian atau agrobisnis hanya sekedar menulis kembali dan mencoba memberikan solusi seperti tertulis di atas. Boleh jadi hal ini kurang relevan atau bahkan tidak akan dapat mengatasi permasalahan sebenarnya, silakan dinilai saja. Soal akurasi benar tidaknya, yang penting bagi saya ide dan pikiran ini bisa tercurahkan menjadi satu tulisan singkat ini. Mohon komentar dan tanggapannya.

Iqmal Tahir

Iklan

3 responses »

  1. […] sebelumnya, saya menyoroti dampak hujan yang berlangsung terus menerus pada petani tembakau (baca ini). Kali ini saya menuliskan dampak serupa yang ternyata juga dialami oleh petani melon. Mereka […]

  2. erry berkata:

    kalau hujan abu, bikin semua sengsara dong…

  3. […] pun akhirnya bikin aku nelangsa. Setelah menulis dua artikel tentang dampak hujan pada petani tembakau dan petani melon, aku yang bukan petani pun akhirnya merasakan dampaknya juga. Hal ini aku alami […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s