Setiap menjelang dan sesudah lebaran, berbagai perayaan khas setiap daerah biasa diselenggarakan. Lebaran sebagai suatu waktu yang istimewa bagi umat Islam merupakan tradisi yang dilakukan menyambut selesainya ibadah puasa selama satu bulan penuh dan diakhiri dengan hari raya Idul Fitri. Bagi umat muslim, peringatan ini merupakan saat istimewa yang perlu disambut khusus. Saat seperti ini yang didukung dengan libur resmi selama beberapa hari menjadikan kesempatan langka untuk berkumpul kembali bersama keluarga di kampung keluarga atau menjumpai sanak saudara yang sebelumnya terpisah karena domisili atau pekerjaan masing-masing. Peringatan lebaran di masing-masing daerah berbeda satu sama lain. Ada satu catatan yang menarik tentang peringatan lebaran ini, khususnya yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat di daerah Kedu, yang tersebar dari Wonosobo, Temanggung dan Magelang. Banyak remaja atau orang dewasa di wilayah ini yang merayakan lebaran dengan suatu tradisi yang khas dengan membuat dan menerbangkan balon ke udara.

Saya pertama kali melihat ini sekitar tahun 1998 sewaktu mudik melewati daerah Kretek Wonosobo. Satu hari setelah lebaran saat itu, di kota yang sejuk itu sekitar pukul 10 siang terlihat banyak sekali titik-titik hitam yang beterbangan di ketinggian langit. Setelah berhenti dan diamati dengan teliti ternyata itu adalah balon terbang yang dibuat dari kertas. Cukup banyak balon yang beterbangan saat itu, memberikan pemandangan yang menarik.

Balon-balon ini dibuat oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan kertas atau plastik yang direkatkan ke rangka yang terbuat dari bambu. Untuk dapat menerbangkan balon tersebut, ke dalam rongga diisikan udara panas dengan menggunakan semacam obor kecil yang dipasang di bagian bawah lubang rongga. Setelah udara panas memenuhi rongga maka balon akan mudah mengapung karena udara sekitar yang dingin. Balon ini dapat mengapung dan terbang ke udara sampai tinggi.

Menerbangkan balon kertas saat lebaran di daerah Kedu.

Kelompok remaja atau orang yang membuat dan menerbangkan udara ini akan sangat merasa senang dan puas karena balon hasil kreasinya telah terbang. Hal ini kemudian memancing kelompok lain untuk berlomba-lomba membuat balon serupa. Dalam prakteknya kemudian masing-masing melakukan kreativitas tersendiri meliputi ukuran, bahan pembungkus balon, bentuk atau warna-warni balon. Jika yang pertama kali balon banyak dibuat dari pembungkus kertas semen yang berwarna coklat itu, kemudian berangsur-angsur beralih dengan bahan lain yang membuat hasil balon menjadi lebih menarik. Saat ini balon udara yang ada juga telah dibuat dengan menggunakan plastik atau kertas yang memang dibeli untuk keperluan pembuatan balon ini, jadi tidak lagi memanfaatkan bahan bekas. Dengan bahan baru seperti ini, balon dapat dibuat dengan lebih cantik lagi sesuai keinginan kreatornya.Saat ini dari pemberitaan di koran, saya baca tradisi membuat balon menyebar ke berbagai wilayah lain di daerah Kedu ini. Bahkan di daerah Payaman Magelang, hal ini sudah menjadi tradisi yang rutin diselenggarakan oleh para santri di pondok pesantren yang ada. Memang kreativitas seperti ini dapat menjadi hal yang menarik karena dapat menghibur dan dapat sebagai sarana rekreasi tersendiri. Bagi yang membuat akan menjadikan kesenangan dan kepuasan jika hasilnya dapat dibuat bagus dan dapat terbang baik. Bagi yang menonton, khususnya melihat saat pemrosesan pengisian udara panas dan saat balon dilepaskan ke udara, maka akan menjadi atraksi yang menarik pula.

Balon agar dapat terbang maka harus dilakukan pemanasan dalam rongga balon. Udara dalam balon yang lebih panas dari udara sekitar akan menyebabkan balon dapat terbang di ketinggian tertentu. Untuk itu ke dalam rongga balon dilakukan pengisian panas yang dilakukan dengan obor dan nyala api. Nyala api dengan obor berupa balutan sobekan kain yang dicelup ke dalam minyak tanah akan mengeluarkan nyala dan panas yang diarahkan melalui lubang di bawah ronggal. Setelah panas tercukupi dan rongga balon membesar maka karena perbedaan temperatur dengan udara sekitar inilah yang kemudian menyebabkan balon akan terbang.

Penggunaan nyala api untuk mengisi udara panas dalam balon.

Proses pengisian nyala dengan api ini harus dilakukan dengan hati-hati. Hal ini karena nyala api dapat membuat bahan yang digunakan untuk membuat balon menjadi terbakar. Untuk bahan yang terbuat dari kertas atau plastik jika kemudian terbakar maka sekejap saja akan habis dan musnah tidak berbentuk lagi.

Balon yang sudah terisi ini kemudian diterbangkan tinggi dan menjadi tontonan orang banyak. Untuk menjaga agar balon tetap dapat terbang tinggi maka panas dalam rongga balon harus dijaga, oleh karena itu nyala api dari obor kain akan terus disambungkan dan ikut dibawa terbang ke langit. Permasalahan yang sering muncul adalah jika api terus dibawa ke udara, seringkali menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan. Di langit kondisi dan posisi balon tidak dapat dikontrol. Seringkali angin menyebabkan balon terbawa terbang. Pada kondisi seperti ini minyak tanah yang menjaga api agar tetap dapat menyala akan terus terbakar. Balon ini kemudian dapat terbakar di udara dan jatuh ke suatu tempat. Kejadian seperti ini dapat menyebabkan kebakaran di tempat lain yang tidak banyak diketahui orang, misal di hutan atau di pegunungan yang jauh dari pemukiman.

Jika kejadian berlangsung pada musim kemarau maka proses kebakaran akan sangat rawan dan mungkin terjadi. Hal ini pernah juga terjadi seperti diberitakan di beberapa surat kabar daerah tentang peristiwa kebakaran di lereng gunung Sumbing, yang sangat boleh jadi diduga karena balon udara yang jatuh. Di daerah Boyolali juga pernah diberitakan satu rumah yang terbakar akibat kejatuhan balon udara seperti ini.

Sebagian pemerintah daerah setempat sebenarnya sudah melarang kegiatan dan pembuatan balon udara seperti ini. Menjelang bulan puasa, sosialisasi larangan pembuatan balon udara ini biasanya akan dilakukan. Hal ini tentu saja tindakan bijaksana dari pihak aparat untuk mencegah terjadinya peristiwa kebakaran yang tidak diinginkan. Kalau sudah terjadi kebakaran maka akan ada pihak yang dirugikan misal karena kebakaran hutan atau lahan, malah mungkin berupa bangunan rumah. Dalam kasus seperti ini karena balon yang jatuh berasal dari udara dan diterbangkan entah dari mana maka sang pembuat balon akan terlepas dari sanksi. Proses hukum seperti ini jadinya tidak dapat dilakukan.

Pada sisi lain, tradisi pembuatan balon sepertinya tidak dapat dihilangkan begitu saja dengan mudah. Mungkin kalau seperti ini perlu dilakukan alternatif lain yang mengakomodasi masyarakat untuk tetap dapat melakukan kegiatan ini tetapi ancaman  yang dapat menimbulkan kebakaran dapat dihilangkan.

Cara untuk mengatasi masalah tersebut antara lain adalah berupa balon udara yang diterbangkan tetapi tetap diikat dengan menggunakan tali. Jadi semacam bermain dan menerbangkan layang-layang. Penerbangan balon ini dapat dilakukan di tanah lapang yang bukan di atas kawasan pemukiman. Dengan jalan diikat maka balon akan selalu terawasi. Keuntungan lain karena balon akan selalu dapat dilihat tidak sampai hilang di ketinggian yang jauh dari sang pembuatnya. Apabila balon sudah mulai akan turun karena panasnya berkurang maka balon dapat ditarik ke bawah. Dengan jalan demikian maka bahaya kebakaran di suatu tempat akibat balon jatuh yang tidak diketahui akan dapat dicegah.

Penggunaan balon yang diikat juga memungkinkan untuk balon dapat digunakan ulang, seperti halnya layang-layang. Untuk balon komersial yang besar misal pada acara promosi tertentu atau untuk festival balon hias, penerbangan balon itu juga selalu diikat untuk ditonton banyak orang. Setelah acara selesai balon dapat dikemas untuk digunakan pada kesempatan lain. Jadi penerbangan balon yang dilakukan masyarakat perlu diubah tujuannya adalah untuk rekreasi dan bukan untuk lomba ketinggian balon dapat terbang jauh sampai hilang.

Suasana festival balon di Kretek, Wonosobo, tahun 2010.

Jika perlu pembuatan balon seperti ini dapat diadakan dalam bentuk ajang perlombaan. Kriteria yang dapat digunakan antara lain adalah dari sisi artistik, kemampuan terbang dan lain-lain. Bentuk kegiatan perlombaan balon juga tetap mengarahkan agar balon itu diikat dari bawah. Dari sini kreativitas tetap dapat dijaga, tradisi masyarakat tetap dapat dilangsungkan, sementara ancaman kebakaran tetap dapat dihindari.

 

Iklan

5 responses »

  1. erry berkata:

    festivalnya bagus tuh…

  2. fely soeryadi berkata:

    boleh tahu untuk namanya itu balon apa ya?
    dan info donk ada yang menjualnya gak?

    • Iqmal berkata:

      ya itu balon api biasa, bahannya dari kertas atau plastik… sepertinya belum ada yang memproduksi dan menjualnya, tapi emmbuatnya mudah kok….

  3. Reza berkata:

    Kalau ide saya tali pengikat ke bawah itu tidak cuma satu, melainkan dua atau lebih supaya balon tetap dalam keadaan seimbang di langit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s