Bulan Oktober 2010 lalu diberitakan tentang kebakaran yang terjadi menimpa Jembatan Ampera di Palembang. Jembatan yang menjadi landmark kota Palembang itu terbakar selama 1 jam dan berakibat badan jembatan menjadi bengkok. Kasus kebakaran itu menjadikan ancaman terputusnya lalu lintas yang menggunakan sarana jembatan tersebut. Tentu saja kerugian akan sangat banyak, baik untuk pemulihan kondisi jembatan serta kerugian tidak langsung akibat terhambatnya lalulintas yang menggunakan sarana jembatan ini.

Peristiwa ini ternyata hanya karena alasan sepele, yaknik saat terjadi kebakaran yang bermula dari pasar di bawah jembatan. Api diduga berasal dari kios handphone yang  kemudian menjalar ke kios sebelahnya yang baru mendatangkan banyak karung pakaian Awalnya api hanya menghanguskan puluhan kios di bawah jembatan di sisi Seberang Ulu, Palembang. Tetapi kemudian setelah kobaran api membesar, maka akhirnya ikut memanggang badan jembatan. Pemadam kebakaran yang mengerahkan kekuatan penuh tetap tak mampu mengendalikan api dengan cepat. Api terlalu besar karena banyak tumpukan bahan kain dan plastik setinggi tiga meter, sementara air yang tersedia tidak mencukupi. Api bisa dipadamkan satu jam kemudian. Hanya saja kondisi pagar jembatan terlihat memuai sehingga bentuknya tidak lurus lagi. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerugian akibat puluhan kios pakaian dan manisan yang terbakar belum bisa diprediksi.

Musibah kebakaran Jembatan Ampera di Palembang.

Musibah kebakaran Jembatan Ampera di Palembang.

Setelah diteliti memang struktur jembatan masih dapat digunakan kembali tanpa harus perbaikan berat. Hanya memang kondisi pagar jembatan yang mengalami pemuaian akibat terkena panggangan api kebakaran. Tetapi tentu saja kasus kebakaran yang terjadi dan mengenai jembatan seperti ini sangat disesalkan.

Saya jadi teringat dua kasus yang mirip dengan hal ini. Pertama terbakarnya jembatan Kali Krasak di Jawa Tengah dan satu ruas Jalan Tol di Jakarta. Kasus ini sama-sama berupa kejadian kebakaran yang kemudian berakibat pada kerusakan struktur jembatan.

Peristiwa yang pertama ini teringat sekitar pertengahan tahun 1991, saat melaksanakan KKN di Temanggung. Dalam perjalanan balik ke lokasi KKN dari Yogyakarta ternyata bis harus berhenti di daerah batas propinsi DIY dan Jawa Tengah. Ternyata saat itu terjadi kecelakaan besar ada satu truk berisi bahan bakar minyak yang terguling di tengah jembatan kali Krasak. Akibat truk tangki terguling di atas jembatan, maka minyak tumpah keluar dan mengakibatkan terbakar hebat. Struktur jembatan yang terbuat dari rangka besi ternyata menjadi membara dan meleleh. Tak lama kemudian struktur ini tidak lagi memiliki kekuatan untuk menahan beban di atasnya, sehingga salah satu ruas penggal jembatan itupun ambruk pada ketinggian sekitar 25 meter. Tentu saja hal ini berakibat jalur lalu lintas menjadi lumpuh. Pemerintah kemudian pada perkembangannya mengganti jenis konstruksi jembatan tersebut dan membuat satu lagi jembatan di sebelahnya.

Jembatan kali Krasak diganti dengan tipe struktur yang lebih baik.

Jembatan kali Krasak diganti dengan tipe struktur yang lebih baik.

Untuk peristiwa yang kedua, saya tidak ingat persis kapan kejadiannya. Tetapi untuk jalan tol yang berupa jalan layang ini berlokasi di Jakarta dan di bagian bawahnya digunakan untuk pemukiman liar. Saat terjadi kebakaran yang diakibatkan oleh penghuni rumah liar ini kemudian berakibat kebakaran besar. Kebakaran inilah yang kemudian ikut mempengaruhi struktur jalan layang di atasnya. Tentu saja hal ini berakibat kerusakan sarana umum ini hanya karena kebakaran yang seharusnya tidak terjadi di lokasi itu.

Belajar dari kasus-kasus di atas, maka hendaknya kita dan pemerintah haruslah mengambil pelajaran berharga. Jembatan yang telah dirancang dan dibangun untuk menahan beban yang melintas di atasnya, dipastikan tetap berfungsi baik jika tidak ada kasus yang merusakkan konstruksi jembatan tersebut.

Jika tidak diinginkan terjadinya kasus-kasus kerusakan konstruksi akibat kebakaran oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab maka hendaknya kawasan sekitar jembatan harus ditertibkan. Jangan sampai ada aktivitas yang berpotensi untuk menimbulkan risiko kebakaran. Hunian penduduk liar ataupun aktivitas pasar dan pertokoan sebaiknya dihindari untuk menempati kawasan bawah jembatan.

Demikian juga untuk mengantisipasi risiko kebakaran yang diakibatkan oleh kendaraan pengguna jembatan tersebut, maka dapat diantisipasi dengan pembatasan kecepatan kendaraan yang melintas. Untuk kendaraan bermuatan berat harus memathui batasan beban maksimal yang diperbolehkan. Demikian juga untuk kendaraan truk tangki bermuatan bahan bakar minyak tentunya memiliki standar tersendiri yang harus dipatuhi pengemudinya.

Pada akhirnya berbagai fasilitas sarana dan prasarana jalan umum dapat dipelihara. Para pengguna jalan akan selalu nyaman untuk menggunakannya tanpa terganggu akibat suatu kasus kerusakan besar. Pesan berkendara di jalan yang saat ini populer, hendaknya selalu dipatuhi yaitu TITI DJ. Hati-hati Di Jalan !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s